Breaking News

Home / Politics

Minggu, 12 Oktober 2025 - 23:52 WIB

María Corina Machado Raih Nobel Perdamaian 2025: Profil Lengkap dan Kiprahnya

“`html

Kabar menggembirakan datang dari Venezuela! María Corina Machado, tokoh oposisi dan pejuang demokrasi yang gigih, diumumkan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2025 pada hari Jumat (10/10).

Komite Nobel memberikan pujian tinggi kepadanya, menyebutnya sebagai “perwujudan keberanian sipil yang paling menonjol di Amerika Latin saat ini”. Penghargaan ini juga merupakan pengakuan atas “dedikasinya yang tak tergoyahkan dalam memperjuangkan hak-hak demokrasi bagi seluruh rakyat Venezuela”.

Selama bertahun-tahun, María Corina Machado, yang kini berusia 58 tahun, telah menjadi suara utama yang menentang pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro Moros. Banyak negara memandang pemerintahan Maduro, yang telah berlangsung selama 12 tahun, sebagai tidak sah.

Uniknya, mentor politiknya adalah mantan Presiden Venezuela, Hugo Chávez, yang ideologi sosialisnya, yang dikenal sebagai Chavismo, memiliki pengaruh besar di negara tersebut.

Namun, Machado justru menjadi sosok yang dipandang sebagai musuh utama partai yang berkuasa. Ia menjadi tokoh oposisi yang tanpa gentar mengkritik Hugo Chávez dan sistem pemerintahannya, bahkan di saat kekuasaan Chavismo berada di puncak kejayaannya.

Sebagai respons terhadap sikap kritisnya, pihak berwenang secara bertahap memperketat pembatasan terhadap ruang geraknya.

Upaya-upaya tersebut termasuk pencekalan bepergian, pencabutan posisinya sebagai anggota parlemen di Majelis Nasional, dan larangan menduduki jabatan publik. Tindakan ini dibenarkan oleh pemerintah dengan menuduh Machado memiliki hubungan dengan “imperialisme” Amerika Serikat.

Kendati menghadapi berbagai rintangan, Machado tidak pernah menyerah dalam perjuangan politiknya. Keteguhan hatinya membawanya menjadi pemimpin oposisi Venezuela yang tak terbantahkan.

Antara tahun 2023 dan 2024, ia melakukan perjalanan panjang melintasi Venezuela sebanyak dua kali. Perjalanan ini tidaklah mudah, karena ia harus menghadapi jalanan yang diblokir, penerbangan yang dibatalkan, dan bahkan mobil yang dilumuri darah hewan.

Pada bulan-bulan terakhir tahun 2024, sebuah surat perintah penangkapannya dikeluarkan.

Selama perjalanannya menyusuri jalanan yang ramai, banyak orang yang memberinya rosario. Rosario-rosario tersebut ia simpan dengan cermat, diberi label nama, tempat, dan tanggal, lalu dikalungkan di lehernya.

Dalam demonstrasi-demonstrasi terbesar, ia terlihat mengenakan hingga sepuluh rosario di dadanya, sebagai simbol perjuangan dan harapan.

“Di setiap rosario, saya diingatkan mengapa saya melakukan apa yang saya lakukan dan betapa banyak doa yang mendorong kami untuk terus berjuang,” ungkap pemimpin oposisi tersebut dengan penuh semangat.

Pernyataan ini ia sampaikan setelah pemilu Juli 2024, di mana Nicolás Maduro dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden, meskipun banyak pihak yang menuding adanya kecurangan.

Dewan Pemilihan Nasional (CNE), sebuah badan pemilu yang memiliki afiliasi dengan pemerintah, tidak pernah merilis hasil rinci untuk melegitimasi kemenangannya, meskipun komunitas internasional telah berulang kali meminta transparansi.

Kurang dari satu jam setelah CNE mengumumkan kemenangan Maduro, Machado tampil ke publik dan menyatakan bahwa kandidatnya, Edmundo González Urrutia, telah memenangkan pemilu. Ia juga menegaskan memiliki bukti yang kuat untuk mendukung klaimnya.

Machado, yang memulai karier politiknya dalam organisasi pemantau pemilu, kali ini bekerja sama dengan aktivis oposisi lainnya untuk mengawasi sistem pemilu yang terautomatisasi.

Baca Juga  Sidang Hasto: Penyelidik KPK Ungkap Kebocoran Sprinlidik Kasus Harun Masiku

Kerja sama ini memungkinkan mereka untuk melakukan penghitungan suara paralel dengan menggunakan catatan resmi yang dijaga oleh saksi-saksi mereka.

Dengan langkah berani ini, kelompok oposisi berhasil mengungkap apa yang mereka sebut sebagai “penipuan Maduro” dan meyakinkan negara-negara seperti Amerika Serikat untuk mengakui González sebagai pemenang berdasarkan “bukti yang sangat kuat”.

“Untuk menang, dibutuhkan waktu yang lama, dan mengklaim kemenangan mungkin juga membutuhkan waktu,” Machado mengulangi pesan suara yang menyentuh hati kepada para pendukungnya.

“Oleh karena itu, kita harus berjuang—kita harus tetap dekat dengan rakyat dan meyakinkan mereka bahwa kita tidak akan meninggalkan mereka, karena kita akan terus berjuang sampai akhir.”

“Sampai akhir” menjadi slogannya, menjadikan Machado sebagai sosok penyelamat bagi rakyat dan pemimpin bagi koalisi oposisi. Sebelumnya, koalisi ini menganggapnya sebagai duri dalam daging karena penentangannya terhadap dialog dengan pemerintahan Maduro dan proses pemilu, serta dukungannya terhadap intervensi militer internasional.

Namun, Machado, seperti yang ia sampaikan dalam sebuah wawancara pada November 2023, telah mengalami perubahan—seperti halnya jutaan rakyat Venezuela:

“Kita telah melakukan banyak kesalahan, dan ketika kesalahan itu dibuat berdasarkan apa yang kita yakini benar, atau karena kita tidak memiliki semua informasi, atau karena kita meremehkan apa yang kita hadapi, kita harus belajar darinya.”

“Kita telah menemukan jati diri kita. Kita telah menyadari: ‘Hei, saya mampu melakukan ini.'”

Siapa María Corina Machado?

María Corina Machado Parisca adalah seorang ibu dari tiga anak dan merupakan anak tertua dari empat bersaudara.

Ayah Machado adalah seorang pengusaha terkemuka di industri logam yang perusahaannya dinasionalisasi oleh Hugo Chávez, pendahulu Maduro.

Ibunya adalah seorang psikolog dan pemain tenis yang disegani.

Sebagai seorang insinyur industri dengan spesialisasi di bidang keuangan, María Corina mengawali karirnya di dunia bisnis sebelum akhirnya terlibat dalam berbagai organisasi yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan pengawasan pemilu.

Dari sinilah ia menjalin hubungan yang semakin erat dengan Partai Republik di Amerika Serikat—negara tempat ia tinggal dan membangun ikatan serta koneksi politik.

Pihak Chavismo selalu mencurigainya sebagai kaki tangan dari “rencana kudeta imperialis.”

Tuduhan pertama yang dialamatkan kepadanya adalah dugaan menerima dana secara ilegal dari yayasan-yayasan AS, tuduhan yang berujung pada larangan bepergian selama tiga tahun.

Pada tahun 2010, ia terpilih menjadi anggota Majelis Nasional sebagai wakil independen dengan pesan anti-komunis yang kuat. Namun, pada tahun 2012, ia dikalahkan oleh Henrique Capriles dalam pemilihan pendahuluan presiden oposisi.

Setelah didiskualifikasi, Machado menghabiskan sepuluh tahun terakhir berkecimpung dalam dunia politik di luar sistem formal—mempromosikan “penggulingan Maduro” pada tahun 2014 bersama Leopoldo López dan mendukung protes pada tahun 2017 dan 2019.

Ia adalah orang pertama yang secara terbuka menyebut pemerintah sebagai “diktator”, menolak semua upaya negosiasi dengan Chavismo.

Ia juga secara tegas membela penggunaan kekuatan untuk menggulingkan Maduro dan mengkritik partai-partai oposisi utama, menuduh mereka sebagai “kolaborator”.

Baca Juga  Isu Rahayu Saraswati Mundur DPR: Gerindra Anggap Spekulasi Menteri

Faktor-faktor inilah, ditambah dengan kegigihannya untuk tetap berada di negara itu meskipun menghadapi ancaman penangkapan—dan mungkin juga memanfaatkan koneksi keluarganya di industri logam—yang membuatnya dijuluki “Wanita Besi”.

Seiring dengan memudarnya kepemimpinan Capriles, López, dan Juan Guaidó, ia muncul sebagai pilihan yang jelas—generasi terakhir—untuk menghadapi Maduro.

Koneksi baru dengan masyarakat

Di kalangan akademisi, seringkali dikatakan bahwa rakyat Venezuela memiliki budaya politik caudillista (orang kuat).

Sejak era Simón Bolívar, abad ke-19 dan ke-20 diwarnai oleh kehadiran para pemimpin yang paternalistis.

Meskipun budaya ini telah ada jauh sebelumnya, banyak yang menelusuri akar budaya politik ini pada penemuan dan kemudian nasionalisasi minyak bumi—sumber daya yang menumbuhkan gagasan tentang “negara ajaib” yang menghidupi setiap rakyat Venezuela.

Hugo Chávez, dengan caranya sendiri dan untuk alasan-alasan tertentu, adalah eksponen terakhir dari budaya ini.

Machado, yang berasal dari posisi ideologi yang berbeda dan merupakan seorang perempuan, menawarkan cara baru untuk terhubung dengan masyarakat dalam kultur politik yang sama.

Hal ini terbukti dalam demonstrasi besar-besaran yang ia pimpin selama proses pemilihan umum 2024: orang-orang—pria, wanita, dan anak-anak dari semua lapisan sosial—berteriak menyambutnya, memeluknya, dan mencium wajah serta tangannya.

Mereka memanggilnya “cintaku”, “ratuku”, “jaga dirimu, gadisku”. Mereka memandangnya sebagai seorang putri, seorang ibu, dan seorang nenek. Mereka memanjatkan doa kepada Tuhan untuk keselamatannya.

Mereka mengagumi dan menghormatinya karena “arrecha” (ganas), “berani, dan konsisten”.

Pada tanggal 13 Januari 2012, Presiden Hugo Chávez menyampaikan pidato kenegaraannya di hadapan Majelis Nasional.

Di tengah serangkaian pertanyaan dari para wakil terpilih, suara lantang seorang wakil oposisi berusia 44 tahun terdengar.

“Bagaimana Anda bisa berbicara tentang menghormati sektor swasta jika Anda sendiri telah mengabdikan diri untuk merampas, yang pada dasarnya adalah pencurian?” tanya María Corina Machado dengan nada yang menantang.

Chávez menjawab, setelah hening sejenak dan diiringi teriakan dari bangku partai yang berkuasa: “Saya sarankan Anda memenangkan pemilihan pendahuluan, karena Anda tidak berada di liga yang tepat untuk berdebat dengan saya.”

Setelah jeda lagi, ia menambahkan dengan nada meremehkan: “Elang tidak memburu lalat.”

Dua belas tahun kemudian, Machado memenangkan pemilihan pendahuluan dengan 95% suara dan pemilihan presiden—bersama González Urrutia—dengan 70% suara, menurut catatan resmi.

Dan ia dianugerahi Nobel Perdamaian atas “pengabdiannya selama bertahun-tahun untuk memperjuangkan kebebasan rakyat Venezuela.”

Lalat itu kemudian menjelma menjadi elang: dialah yang kini bersemayam di hati mayoritas rakyat Venezuela.

  • Cerita warga Venezuela yang hidup dengan uang Rp18.000 per bulan
  • Aktivis Indonesia gelar solidaritas untuk Venezuela, bagaimana sebenarnya relasi kedua negara?
  • Krisis Venezuela: ‘Mengapa saya tetap setia kepada Nicolas Maduro’
  • ‘Tak ada oposisi di sini, hanya ada Tuhan’
  • ‘Sepucuk surat cinta membantu saya melarikan diri’ dari Venezuela
  • Krisis ekonomi Venezuela membuat orang-orang beralih ke pekerjaan informal

“`

Share :

Baca Juga

Politics

Foto: Prabowo Cek Pesawat Airbus A400M Pertama RI

Berita Utama

Wakil Bupati Solok H. Candra Hadiri Subuh Berjamaah di Kampung Batu Dalam

Politics

RKUHAP Disahkan DPR: Kontroversi dan Dampaknya bagi Masyarakat Indonesia

Politics

Hitungan BNPB, biaya perbaikan kerusakan akibat bencana banjir dan longsor Aceh-Sumatera Rp 51,82 triliun

Politics

Prabowo Ungkap Program Makan Bergizi Gratis Jangkau 49 Juta Rakyat Indonesia

Politics

Hamas Lepaskan 20 Sandera Israel: Harapan Gencatan Senjata Abadi di Timur Tengah?

Politics

Larangan Menteri Ketenagakerjaan: Stop Diskriminasi Rekrutmen Karyawan

Politics

Zohran Mamdani: Ambisi Politiknya Mengguncang New York