Oleh: Syaiful Rajo Bungsu
Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah.
Warta-kota.com.- Mari jadikan momen ini sebagai awal dari perubahan mendasar dalam kehidupan kita, baik secara pribadi maupun kolektif sebagai masyarakat. Tahun baru Hijriyah bukan hanya pergantian angka dalam kalender Islam, melainkan simbol hijrah, perpindahan dari gelap menuju terang, dari kelalaian menuju kesadaran, dari keterpurukan menuju kebangkitan.
Namun, peringatan tahun baru ini datang di tengah situasi sosial yang sangat memprihatinkan, terutama di Sumatera Barat. Berbagai peristiwa yang mencederai kemanusiaan dan nilai-nilai budaya kian marak terjadi, seolah menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Keprihatinan yang Meningkat: Saatnya Berhijrah secara Kolektif
Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat Sumatera Barat dikejutkan oleh rentetan kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur, pembunuhan terhadap perempuan, dan menurunnya kondisi ekonomi masyarakat secara umum. Fakta-fakta ini tidak lagi bisa disikapi dengan sikap diam atau basa-basi kebijakan. Diperlukan keberanian untuk berhijrah secara nyata: dari membiarkan ke arah melindungi, dari menyalahkan ke arah bertindak.
Peristiwa tragis yang menimpa perempuan dan anak bukan hanya menunjukkan lemahnya sistem perlindungan hukum, tetapi juga mencerminkan kegagalan kolektif kita dalam menjaga nilai-nilai moral, adat, dan agama. Ironisnya, semua ini terjadi di daerah yang dikenal sebagai “Ranah Minang”, yang selama ini dibanggakan sebagai negeri adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Selain aspek sosial dan moral, kondisi ekonomi masyarakat pun semakin mencemaskan. Kenaikan harga bahan pokok, terbatasnya lapangan kerja, serta lesunya usaha kecil dan pertanian membuat masyarakat semakin terjepit. Di banyak nagari, para ibu rumah tangga dan petani kecil mengeluh karena daya beli mereka terus menurun.
Momentum Tahun Baru Islam seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk memperkuat solidaritas ekonomi, membangun kemandirian nagari, serta memperjuangkan sistem distribusi yang adil dan berkeadilan.
Masyarakat Minangkabau memiliki warisan budaya dan keagamaan yang kuat. Nilai-nilai itu semestinya menjadi benteng terhadap krisis moral yang kini terjadi. Namun benteng itu perlahan mulai runtuh karena lemahnya kepedulian sosial dan lunturnya fungsi pengawasan dari keluarga, kaum, dan ninik mamak.
Hijrah dalam konteks ini berarti berpindah dari sikap acuh ke arah peduli. Dari budaya saling curiga ke arah budaya saling menjaga. Dari ketidakterlibatan ke arah partisipasi aktif dalam pendidikan moral anak, penguatan keluarga, dan pelestarian nilai-nilai luhur.
Tahun Baru Islam juga harus menjadi titik tolak evaluasi serius bagi pemerintah, baik di tingkat nagari, kabupaten, maupun provinsi. Sudahkah kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat kecil? Sudahkah sistem hukum memberikan rasa aman bagi perempuan dan anak? Sudahkah program sosial mampu menekan angka kemiskinan?
Reformasi birokrasi, penguatan layanan perlindungan anak dan perempuan, serta kebijakan ekonomi berbasis rakyat harus diletakkan sebagai prioritas, bukan sekadar narasi politik tahunan. Pemerintah harus mampu menggerakkan seluruh perangkatnya untuk tidak hanya hadir dalam bentuk program, tetapi juga dalam bentuk keberpihakan nyata.
Arahan Bupati dan Ketua LKAAM Kabupaten Solok
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, dalam pernyataan menyambut Tahun Baru Islam 1447 H, menegaskan pentingnya menjadikan momentum ini sebagai awal perubahan di segala bidang kehidupan masyarakat.
“Tahun baru Hijriyah adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk berhijrah ke arah yang lebih baik. Pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan pelayanan dan membuka ruang partisipasi masyarakat seluas-luasnya demi kemajuan bersama,” ujar Jon Firman Pandu.
Sementara itu, Ketua LKAAM Kabupaten Solok, Dr. H. Gusmal, SE, MM, Dt. Rajo Lelo, menekankan bahwa semangat hijrah harus dimaknai sebagai perubahan sikap dan karakter, bukan hanya ritual tahunan.
“Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah pola pikir dan perilaku. Kita perlu menghidupkan kembali nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam praktik kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Keduanya sepakat bahwa meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta krisis ekonomi, harus dijawab dengan langkah konkret dan terukur. Pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat perlu bersatu menjaga marwah daerah dan memberikan perlindungan menyeluruh bagi warganya.
Hijrah sebagai Gerakan Sosial dan Moral
Tahun Baru Islam bukan semata-mata peringatan rutin tahunan, tapi panggilan untuk bergerak. Hijrah hari ini adalah membangun kesadaran baru, membentuk kepedulian sosial, menegakkan keadilan, serta melindungi yang lemah.
Hijrah hari ini adalah bergerak dari retorika menuju aksi nyata. Dari pembiaran menuju perlindungan. Dari pemisahan peran menuju kolaborasi masyarakat dan negara.
Penutup: Tahun Baru, Harapan Baru
Tahun Baru Islam 1447 H hendaknya menjadi awal bagi masyarakat Sumatera Barat dan seluruh rakyat Indonesia untuk menata kembali kehidupan secara utuh. Di tengah krisis moral dan ekonomi, kita tidak boleh kehilangan harapan. Hijrah adalah tanda bahwa perubahan itu mungkin—asal kita bersatu, jujur, dan tidak menunda-nunda perbaikan.
Mari kita berhijrah bersama, demi masa depan generasi, demi keselamatan perempuan dan anak-anak, demi tegaknya marwah budaya, serta demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan berakhlak mulia.(***)
















