Breaking News

Home / Finance

Kamis, 9 Oktober 2025 - 13:51 WIB

Keyakinan Konsumen Turun: Ini Saham yang Rawan Terdampak Daya Beli Melemah

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan angka 115 pada bulan September 2025. Level keyakinan konsumen ini mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yang tercatat sebesar 117,2.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Pusat Data Kontan, nilai IKK pada September 2025 mencapai titik terendah sejak Mei 2022. Sebelum September 2025, level terendah terakhir tercatat pada April 2022 dengan angka 113,1.

Hari Rachmansyah, seorang Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa emiten di sektor consumer discretionary, atau sektor yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat terhadap produk-produk non-esensial, adalah yang paling berisiko terhadap penurunan keyakinan konsumen.

Menurutnya, beberapa emiten yang sangat sensitif terhadap sentimen ini meliputi PT Mitra Adiperaksa Tbk (MAPI), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

“Penjualan produk seperti fesyen, elektronik, dan barang-barang hobi cenderung mengalami penurunan ketika konsumsi masyarakat melemah,” ungkap Hari kepada Kontan, Kamis (9/10/2025).

IKK Turun ke Titik Terendah, Bagaimana Dampaknya pada Pasar Saham?

Sebaliknya, emiten di sektor consumer staples, yang menawarkan produk-produk kebutuhan dasar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Sido Muncul Tbk (SIDO), cenderung lebih kuat menghadapi pelemahan keyakinan konsumen.

Baca Juga  Penurunan Pendapatan Iklan Net TV: Ancaman atau Kesempatan?

“Investor disarankan untuk fokus pada emiten konsumen yang defensif, berhati-hati terhadap sektor ritel dan lifestyle, serta memanfaatkan koreksi pasar sebagai peluang untuk akumulasi jangka menengah,” sarannya.

Hari menambahkan bahwa strategi bagi emiten ritel dan lifestyle untuk mempertahankan margin di tengah permintaan yang menurun adalah dengan meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jangkauan melalui kanal online untuk mengurangi biaya distribusi, dan melakukan diversifikasi merek serta segmen harga agar tetap dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Di sisi lain, Hari menyoroti bahwa prospek emiten di sektor konsumen masih terlihat positif, didorong oleh target pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat.

“Melalui program 8+4+5, pemerintah melanjutkan program bantuan pangan selama dua bulan ke depan dengan menyalurkan 10 kilogram beras per keluarga pada bulan Oktober dan November, dengan nilai total mencapai Rp 7 triliun,” jelas Hari.

Ia merekomendasikan untuk memperhatikan saham INDF dan ICBP, dengan target harga masing-masing Rp 11.200 dan Rp 12.600 per saham.

Indeks Keyakinan Konsumen Anjlok, Perhatikan Dampaknya pada Emiten Konsumer

Dihubungi secara terpisah, Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research di Kiwoom Sekuritas, menyatakan bahwa emiten konsumen di sektor discretionary atau ritel non-pokok, seperti fesyen, elektronik, dan leisure, lebih sensitif terhadap penurunan IKK. Emiten-emiten yang berada di sektor ini antara lain MAPI, MAPA, dan ERAA.

Baca Juga  Promo menggiurkan, tabungan hilang: cerita calon pengantin kena tipu WO

“Penurunan IKK memicu penundaan belanja besar dan mendorong peningkatan promo, yang pada akhirnya menekan margin keuntungan. Sentimen investor terhadap sektor ini masih cenderung berhati-hati dalam jangka pendek,” kata Liza kepada Kontan, Kamis (9/10/2025).

Liza juga menyampaikan bahwa emiten di sektor consumer staples, seperti perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman pokok, cenderung lebih kuat karena permintaan terhadap produk mereka bersifat inelastis. Menurut Liza, tekanan pada sektor ini lebih banyak terjadi pada fenomena trading down, seperti pergeseran konsumen ke produk dengan kemasan yang lebih kecil atau produk private label.

Liza juga menambahkan bahwa untuk saat ini, posisi underweight pada sektor konsumen discretionary masih dianggap rasional sampai ada bukti nyata pemulihan trafik dan margin keuntungan.

Sementara itu, emiten staples dan ritel kebutuhan harian lebih layak untuk dipertahankan karena mereka lebih cepat merasakan dampak dari stimulus dan memiliki sifat yang lebih resilien.

Share :

Baca Juga

Finance

BEI Evaluasi Saham Syariah: Daftar Masuk & Keluar Indeks

Finance

Konflik Internal PSBS Biak: Pemegang Saham Mundur, Klub Kembali ke Bupati

Finance

Kinerja JPFA Tertekan Semester I-2025, Tapi Saham Menguat Jelang Public Expose

Finance

Harga ayam hidup melesat, laba Japfa Comfeed (JPFA) diproyeksi naik signifikan

Finance

Promo menggiurkan, tabungan hilang: cerita calon pengantin kena tipu WO

Finance

Bapanas Resmi Tingkatkan Harga Eceran Tertinggi Beras Medium: Simak Rincian Lengkapnya

Finance

IHSG Menguat! Cek Saham EMTK, AMMN, SCMA Jadi Primadona Hari Ini

Finance

Profil Lengkap Letjen Djaka Budhi Utama: Calon Dirjen Bea Cukai?