Breaking News

Home / Politics

Selasa, 7 Oktober 2025 - 20:51 WIB

IHSG Tangguh? Analisis Dampak Shutdown Pemerintah AS

warta-kota.com, JAKARTA — Terhentinya aktivitas pemerintahan Amerika Serikat (AS), atau yang dikenal sebagai shutdown, akibat belum disepakatinya anggaran operasional di tingkat Kongres, diperkirakan akan memberikan efek tak langsung terhadap dinamika pasar saham di Indonesia. Namun, menariknya, indeks gabungan di pasar modal Tanah Air justru berhasil mencatatkan rekor tertinggi baru sebanyak dua kali berturut-turut sejak shutdown resmi dimulai pada tanggal 1 Oktober 2025.

Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa dampak dari shutdown pemerintah AS ini sangat bergantung pada bagaimana persepsi pelaku pasar dalam menilainya dari berbagai sudut pandang.

“Pertama, adanya shutdown ini seolah-olah mendorong nilai tukar dolar AS untuk melemah, sehingga nilai rupiah berpotensi mengalami apresiasi. Hal ini berpotensi direspon secara positif oleh para investor,” ungkapnya kepada Bisnis, pada hari Selasa (7/10/2025).

: Shutdown AS Berimbas ke Penerapan Tarif Trump 19%? Ini Kata Airlangga

Tercatat, nilai tukar rupiah pada hari ini ditutup dengan penguatan sebesar 0,13%, atau setara dengan 22 poin, menjadi Rp16.561 per dolar AS. Penguatan ini merupakan kelanjutan dari tren positif yang juga terlihat pada penutupan perdagangan hari Senin sebelumnya.

Sementara itu, di pasar saham pada hari Senin (6/10/2025) lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil mencatat kenaikan sebesar 0,27% dan ditutup pada angka 8.139, yang diikuti oleh aktivitas net buy asing yang cukup signifikan, mencapai Rp2,02 triliun. Kemudian, pada hari Selasa (7/10/2025), IHSG kembali menunjukkan performa positif dengan ditutup menguat sebesar 0,36% ke level all-time high (ATH) baru di 8.169, sekaligus memecahkan rekor yang baru saja dicetak pada hari sebelumnya.

Baca Juga  Gerindra Bereaksi: Pengunduran Diri Saraswati dari DPR, Apa Dampaknya?

: : Maju Tak Gentar, IHSG Tetap Cetak ATH Walau Ada Shutdown Pemerintah AS

“Jika kita melihat dari sisi apresiasi nilai rupiah, tentunya hal ini akan membawa dampak positif bagi peningkatan arus modal, khususnya modal asing, yang masuk ke dalam negeri. Investasi yang paling cepat masuk biasanya adalah ke pasar saham dan obligasi pemerintah,” jelas Reza.

Lebih lanjut, Reza berpendapat bahwa transmisi dampak dari shutdown pemerintah AS, yang tercermin dalam apresiasi nilai tukar rupiah, juga akan memberikan dampak positif bagi saham-saham emiten di sektor ritel, teknologi, telekomunikasi, serta sektor-sektor lain yang memiliki orientasi impor.

: : Shutdown AS Berlanjut, Trump Siap Negosiasi Subsidi Kesehatan dengan Partai Demokrat

Pada perdagangan hari Senin, IDX sektor teknologi mencatatkan kenaikan sebesar 2,36% dan ditutup pada angka 11.741,88, sektor basics materials naik 1,18% menjadi 2.021,45, sedangkan saham sektor infrastruktur ditutup dengan kenaikan sebesar 2,01% ke angka 1.904,07.

Baca Juga  Larangan Menteri Ketenagakerjaan: Stop Diskriminasi Rekrutmen Karyawan

Reza juga menambahkan bahwa shutdown pemerintah AS juga memiliki potensi untuk direspons secara negatif oleh pelaku pasar. Menurutnya, terhentinya operasional pemerintahan AS dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa perdagangan antarnegara berisiko mengalami gangguan.

Dalam skenario seperti itu, Indonesia juga tidak akan luput dari dampak negatif. Terutama mengingat negosiasi tarif antara pemerintah AS dan Indonesia yang terpaksa ditunda untuk sementara waktu.

Shutdown pemerintah AS telah memasuki hari keenam, dan belum ada kepastian mengenai kelanjutan situasinya. Reza menuturkan bahwa kondisi ini akan berdampak pada ketidakpastian kebijakan moneter, termasuk mengenai kapan penentuan suku bunga The Fed akan dilakukan.

“Hal ini akan menciptakan ketidakpastian, sehingga para pelaku pasar cenderung akan menghindari atau menjauhi aset-aset berisiko seperti pasar saham, dan lebih memilih untuk beralih ke aset safe haven seperti emas. Untuk dampaknya, kembali lagi tergantung pada seberapa lama kondisi ketidakpastian ini akan berlangsung. Jika The Fed masih bersikap mengambang dalam jangka waktu ke depan, maka ketidakpastian ini berpotensi berlangsung lebih lama,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

Politics

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO: Kebanggaan Nasional!

Politics

Sheikh Hasina Dihukum Mati: Mantan PM Bangladesh Terjerat Kasus Pembunuhan

Politics

Prabowo Subianto dan MBZ Bahas Krisis Geopolitik Timur Tengah

Politics

Mendagri: Pengibaran bendera putih di Aceh bentuk aspirasi

Politics

Pramono & Rano Karno: Mewujudkan Cita-Cita Alm. Eddie Marzuki Nalapraya

Politics

KPK Prihatin Abdul Wahid Jadi Gubernur Riau ke-4 yang Tersandung Kasus Korupsi

Politics

Tapera: Pekerja Lepas Lega, Masa Depan Perumahan Tetap Tanda Tanya?

Politics

Tanggapan Ketua KWI Soal Kontroversi Paus Leo XIV