Breaking News

Home / Politics

Selasa, 9 September 2025 - 13:52 WIB

Demo Berdarah Nepal: Perdana Menteri Mengundurkan Diri Setelah 19 Tewas

KATHMANDU, KOMPAS.com – Drama politik di Nepal mencapai puncaknya dengan pengunduran diri Perdana Menteri KP Sharma Oli pada hari Selasa, 9 September 2025.

Keputusan penting ini diumumkan sehari setelah gelombang demonstrasi keras mengguncang negara tersebut, mengakibatkan setidaknya 19 jiwa melayang.

Dalam surat pengunduran dirinya yang secara resmi disampaikan kepada Presiden Nepal, Oli menyatakan, “Dengan berat hati saya menyampaikan pengunduran diri dari jabatan perdana menteri, efektif mulai hari ini… sebuah langkah yang saya ambil demi membuka jalan bagi solusi politik yang konstruktif dan penyelesaian masalah yang berkelanjutan.”

Baca juga: Demo Nepal Terus Berlanjut: Jam Malam Ditentang, Massa Bentrok Lawan Polisi

Langkah mundur ini dilakukan di tengah tekanan protes publik yang meningkat tajam, menuntut diakhirinya pembatasan akses media sosial dan penegakan hukum terhadap praktik korupsi yang merajalela.

Demo tewaskan 19 orang

Unjuk rasa, yang awalnya dimulai dengan damai pada hari Senin, berubah menjadi tragedi. Amnesty International menuduh aparat keamanan menggunakan amunisi tajam dalam upaya membubarkan massa yang berunjuk rasa.

Baca Juga  Proposal Trump: 21 Poin Rencana Perdamaian Gaza, Apa Isinya?

Akibatnya, setidaknya 19 nyawa dilaporkan hilang, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu tindakan represif paling berdarah yang disaksikan Nepal dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Nepal Kembali Buka Akses Facebook hingga YouTube Usai Demo Mematikan

Meskipun pemerintah akhirnya mengembalikan akses ke platform media sosial, eskalasi demonstrasi terus berlanjut, didorong oleh kemarahan mendalam atas korupsi sistemik dan lambatnya kemajuan ekonomi.

Ketidakpuasan publik yang meluas

Oli, yang berusia 73 tahun, baru saja memulai periode jabatan keempatnya tahun lalu, setelah partainya, Partai Komunis, berhasil membentuk koalisi pemerintahan dengan Nepali Congress.

Namun, popularitasnya menurun secara signifikan seiring dengan ketidakstabilan politik dan tantangan ekonomi yang terus menghantui negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa ini.

Tingkat pengangguran yang mencapai 10 persen dan pendapatan per kapita yang hanya mencapai 1.447 dollar AS (setara dengan sekitar Rp 24 juta), berdasarkan data Bank Dunia, semakin memperdalam kekecewaan publik terhadap elite politik yang dianggap terputus dari realitas kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  PERADI Bantu Pembangunan Jembatan Gantung di Solok, Bupati: Akses Vital Masyarakat Akan Terbuka

Sejak Nepal bertransformasi menjadi republik federal pada tahun 2008 setelah konflik saudara selama satu dekade dan penghapusan sistem monarki, negara Himalaya ini terus menerus dilanda perubahan kepemimpinan perdana menteri.

Budaya politik yang berorientasi pada transaksi memperkuat persepsi bahwa pemerintah tidak lagi secara efektif mewakili kepentingan rakyat.

Dalam beberapa hari terakhir, luapan kekecewaan ini semakin terlihat di platform media sosial.

Video yang beredar di TikTok — yang tidak termasuk dalam daftar platform yang diblokir oleh pemerintah — menyoroti kontras yang mencolok antara perjuangan hidup warga biasa dan gaya hidup mewah yang dipamerkan oleh anak-anak politisi, dengan barang-barang bermerek dan liburan mewah.

Baca juga: Demo Nepal yang Mematikan: Korupsi dan Larangan Medsos Jadi Pemicu

Share :

Baca Juga

Politics

OTT KPK: Sederet Kontroversi Immanuel Ebenezer Terungkap

Politics

Prabowo Subianto di KTT Gaza: Harapan Baru untuk Perdamaian?

Politics

Menkeu Sri Mulyani Jawab Kritik Komunikasi Hasan Nasbi: Perintah Presiden!

Politics

Jadwal Lengkap Samsat Keliling Bali Jumat, 23 Mei: Lokasi & Informasi Penting

Politics

Mendag Tegaskan Permendag 8/2024 Bukan Jalan Masuk Impor Ilegal

Politics

Pakar Soroti Urgensi Jurusan Bahasa Portugis di Universitas Sebelum Kurikulum Nasional

Politics

Desakan Komisi III: Mahkamah Agung Harus Berbenah, Putusan Pengaruhi Nasib Rakyat

Politics

Banjir Sumatra: 5 Pernyataan Pejabat yang Kurang Empati dan Tuai Kritik Pedas