Breaking News

Home / Society Culture And History

Sabtu, 10 Mei 2025 - 23:22 WIB

Paus Fransiskus: Memahami Arah Baru Gereja Katolik di Era Modern

warta-kota.com – , Jakarta – Selama dua hari penuh, para Kardinal berkumpul di Kapel Sistina, Vatikan, untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik. Asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina pada Kamis, 8 Mei 2025 waktu setempat, menandakan terpilihnya Paus baru setelah para Kardinal mencapai kesepakatan.

Pilihan editor: Cara Kerja Biometrik Mata Worldcoin untuk Dompet Digital

Kardinal Robert Francis Prevost dari Chicago, Illinois, terpilih sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik setelah konklaf selama 25 jam. Dengan nama kepausan Leo XIV, beliau kini memimpin 1,4 miliar umat Katolik, menggantikan mendiang Paus Fransiskus.

Pengumuman resmi disampaikan Kardinal Protodiakon Dominique Mamberti di balkon Basilika Santo Petrus: “Annuntio vobis gaudium magnum: Habemus Papam!” (“Aku memberitakan kepada kalian kabar gembira: Kita telah memiliki Paus!”)

Terpilihnya Kardinal Prevost menandai sejarah baru bagi Gereja Katolik; Paus pertama dari Amerika Serikat. Usia 69 tahun, beliau juga merupakan Paus ke-267 dan yang pertama dari Ordo Santo Agustinus (OSA), setelah menjabat sebagai Prior Jenderal OSA selama dua periode (2001-2013).

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Monsiyur Antonius Subianto Bunjamin, melihat kepemimpinan Paus Leo XIV akan berkelanjutan dengan visi mendiang Paus Fransiskus. Anton menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang seimbang.

“Saya kira beliau yang disebut dengan konservatif-progresif,” kata Anton di Gedung KWI, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 Mei 2025.

Ia menjelaskan, seringkali pandangan tokoh gereja disederhanakan menjadi dua kutub ekstrem: tradisional dan modernis. Anton meyakini Paus Leo XIV akan meneruskan pendekatan tengah yang dianut Paus Fransiskus.

Baca Juga  Kisah Inspiratif Adit: Tontonan Pertama PSS Sleman di Maguwoharjo, Bukti Semangat Anak Tunanetra

“Kalau kita memahami Paus Fransiskus, beliau berada di jalur tengah, mendamaikan,” ujar Uskup Keuskupan Bandung itu.

Paus Fransiskus, menurutnya, menekankan pentingnya aturan dan hukum, namun bukan sebagai alat hukuman semata.

Anton percaya Paus Leo XIV akan melanjutkan perjuangan Paus Fransiskus, melihat kesederhanaan dan dedikasi yang juga dimiliki Kardinal Prevost sebagai cerminan mendiang Paus.

Pemilihan nama kepausan Leo juga bermakna penting, merujuk pada Paus Leo XIII, penulis ensiklik Rerum Novarum (Mei 1891), cikal bakal doktrin sosial modern Gereja Katolik.

Anton menduga Paus Leo XIV ingin melanjutkan karya pastoral Paus Fransiskus dengan semangat reformasi Paus Leo XIII, mengingat ajaran sosial Gereja saat ini, termasuk ajaran Paus Fransiskus, berakar pada ensiklik tersebut.

Anton optimistis kepemimpinan Paus Leo XIV akan melanjutkan dan bahkan memperkuat karya 12 tahun kepemimpinan Paus Fransiskus, diperkuat oleh energi Paus Leo XIV yang lebih muda.

Senada, Uskup Timika Bernardus Bofitwos Baru melihat kemiripan Paus Leo XIV dengan mendiang Paus Fransiskus. Beliau optimistis Paus Leo XIV akan melanjutkan sikap Paus Fransiskus dalam mengecam kekerasan seksual, serta pandangannya tentang migran dan kaum miskin.

Bernardus yakin sikap tegas mendiang Paus Fransiskus dalam isu-isu tersebut akan diteruskan Paus Leo XIV. “Pasti Paus yang baru ini, Paus Leo XIV, akan melanjutkan. Sudah pasti itu,” ujar Bernardus pada Jumat, 9 Mei 2025.

Baca Juga  Luna Maya & Maxime Bouttier: Ritual Melukat Jelang Pernikahan Sakral

Bernardus menambahkan, saat memimpin Ordo Santo Agustinus, Paus Leo XIV telah menunjukkan komitmennya dalam membedakan yang benar dan salah, menekankan pemurnian diri, pertobatan (rekonsiliasi), termasuk dalam kasus kekerasan seksual seperti pedofilia.

“Memperbaharui sistem gereja terkait pedofilia agar dipulihkan. Kemudian dibuat rekonsiliasi dan pengakuan,” ujarnya.

Bernardus menilai Paus Leo XIV memegang teguh nilai-nilai gereja misioner. Di bawah kepemimpinannya, Gereja Katolik akan memprioritaskan pelayanan, pengabdian, dan dialog.

Gereja, menurutnya, harus memiliki semangat misioner dan memperjuangkan keadilan, kebenaran, kemanusiaan, dan ekologi. “Saya kira dia memang memegang nilai-nilai atau prinsip itu,” ujar Bernardus.

Paus Leo XIV, menurut Bernardus, menekankan dialog di semua level, dari paroki hingga negara, sangat relevan bagi keberagaman Indonesia. “Kalau Indonesia yang begitu beragam ini tidak mengedepankan dialog di semua level, itu susah, terlalu otoriter jadinya, terlalu menopoli yang lain,” tuturnya. “Mendengarkan dan dialog itu satu paket.”

Dialog diperlukan dalam berbagai hal, seperti kebijakan ekonomi antara negara maju dan berkembang, dan juga ideologi. Dialog, menurut Bernardus, akan memperlihatkan kebenaran dari berbagai perspektif. “Jadi tidak mendominasi dan mengklaim kebenaran,” tuturnya. “Ini ada kebenaran juga di sana, kita juga punya kebenaran. Tidak bisa hitam-putih.”

Pilihan editor: Profil Anis Hidayah, Ketua Komnas HAM yang Baru

Share :

Baca Juga

Society Culture And History

Misteri Hurrem Sultan: Selir Ukraina, Bangsawan Italia, atau Penyihir Rusia? Pengaruhnya di Kesultanan Ottoman

Society Culture And History

Kisah Inspiratif Driver Ojol Bertemu Gibran: Ada Harapan Baru?

Society Culture And History

Unpad Sambut Gembira Mochtar Kusumaatmadja Jadi Pahlawan Nasional

Society Culture And History

Souvenir Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier: Kemewahan yang Bikin Melongo

Society Culture And History

Mike Tyson: Kisah ‘Si Leher Beton’ dari Penjara Menuju Hidayah Sejati

Society Culture And History

Tujuh Paus Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Gereja Katolik

Society Culture And History

Ramalan Zodiak Kamis 8 Mei 2025: Taurus Bijak, Aries Lancar

Society Culture And History

Bongkar Paksa Bangunan Atalarik Syah: Kronologi Lengkap Sengketa Tanah