
Meskipun penglihatannya terbatas, pendengaran Adit begitu tajam. Di tengah gemuruh Maguwoharjo International Stadium (MagIS) pada Jumat (22/8), setiap detak drum dan sorak sorai ribuan penonton terserap sempurna oleh telinganya.
Untuk kali pertama, bocah tunanetra ini merasakan langsung atmosfer sepak bola yang menggetarkan.
Walau hanya laga persahabatan melawan PSPS Pekanbaru, ribuan pendukung PSS Sleman memenuhi stadion, memberikan dukungan penuh bagi Super Elang Jawa. Nyanyian, tabuhan drum, dan teriakan membahana menggema selama 90 menit.
Di tengah euforia tersebut, di tribun VIP tengah, tepat di belakang bangku cadangan pemain, duduk sekelompok anak-anak dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka adalah anak-anak penyandang disabilitas – tunanetra dan tunawicara – yang datang bersama komunitas inklusif, Sadar Belajar.
Stadion: Sebuah Pengalaman Baru yang Menginspirasi
Achmad Novrizal, alumni Manajemen Pendidikan UNY dan penggagas Sadar Belajar, sengaja membawa anak-anak penyandang disabilitas ke MagIS malam itu.
“Tujuan kami adalah memperkenalkan fasilitas umum, termasuk stadion, kepada anak-anak disabilitas. Karena mereka sangat terbatas akses dan pengalamannya dalam menikmati ruang publik,” jelas Rizal saat ditemui Pandangan Jogja, Jumat (22/8).
Inisiatif ini difasilitasi UPT Maguwoharjo dan didukung oleh komunitas suporter 11.5 Roots. Para suporter inilah yang berperan sebagai pemandu pribadi.
Sepanjang 90 menit, mereka mendampingi anak-anak, mendeskripsikan detail pertandingan: pergerakan bola, sorak sorai penonton, hingga momen gol tercipta.
Senyum yang Lebih Berbicara dari Kata-Kata

Adit, yang awalnya tampak gugup saat memasuki stadion, akhirnya tersenyum lebar.
“Ini pertama kalinya aku ke stadion. Pertama kali juga ketemu Gustavo Tocantins. Idolaku di PSS Sleman! Pengen lagi!” ucapnya polos, menulari keceriaan ke seluruh tribun kecil itu.
Tak jauh darinya, Aswanda – seorang anak tunawicara – mengungkapkan kegembiraannya dengan caranya sendiri. Kalimatnya mungkin terbata-bata, namun bahasa tubuhnya lebih bermakna.
Setiap kali Brigata Curva Sud atau BCS (suporter setia PSS Sleman) melantunkan chants, ia mengepalkan tangan ke udara. Setiap dentuman drum, ia ikut melompat. Bahasa tubuhnya menjadi bahasa universal kebahagiaan tanpa kata.
Gol: Getaran yang Terasa di Hati
Saat PSS mencetak gol ke gawang PSPS Pekanbaru, anak-anak ikut bersorak. Mereka tak melihat gol tersebut, namun merasakannya: melalui deskripsi pemandu, sorak-sorai stadion, dan getaran energi di udara. Malam itu, sepak bola bukan sekadar tontonan visual, melainkan pengalaman sensorik utuh – dirasakan lewat suara, getaran, dan hati.
Usai pertandingan, kebahagiaan mereka bertambah. Gustavo Tocantins, pencetak gol, naik ke tribun, menyapa anak-anak satu per satu. Kim Kurniawan pun turut menyapa, menepuk bahu mereka dengan hangat.
Bagi anak-anak itu, pertemuan singkat dengan idola jauh lebih berharga daripada skor 2-0. Mereka pulang dengan kenangan indah: stadion bukan tempat asing, melainkan tempat di mana mereka diterima.
“Kami berkolaborasi dengan Komunitas Sadar Belajar dan para pendamping untuk memfasilitasi teman-teman disabilitas di Stadion Maguwoharjo. Supaya stadion ini dapat dimanfaatkan secara inklusif oleh masyarakat,” ungkap Kepala UPTD Stadion MagIS, Jumat (22/8).















