Breaking News

Home / Society Culture And History

Minggu, 4 Mei 2025 - 05:52 WIB

Misteri Hurrem Sultan: Selir Ukraina, Bangsawan Italia, atau Penyihir Rusia? Pengaruhnya di Kesultanan Ottoman

Lebih dari empat abad setelah wafatnya pada tahun 1558, kehidupan Hurrem Sultan yang penuh teka-teki dan memikat hati para sejarawan masih terus dikaji ulang hingga saat ini.

Terkenal juga sebagai Roxelana, Hurrem Sultan merupakan salah satu figur perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Kekaisaran Ottoman.

Ia adalah istri tercinta Sultan Suleiman Agung, salah satu penguasa terkuat sepanjang masa. Akan tetapi, Hurrem Sultan jauh lebih dari sekadar selir.

Perjalanan hidupnya sungguh luar biasa: dari seorang budak hingga mencapai puncak kekuasaan kekaisaran. Ia menjadi tokoh kunci yang mengubah lanskap politik Kekaisaran Ottoman pada abad ke-16.

Kekaisaran Ottoman menguasai wilayah Eropa Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara sejak abad ke-14 hingga awal abad ke-20.

Kekaisaran ini diakui sebagai salah satu kerajaan terbesar dan terlama dalam sejarah dunia.

Banyak sejarawan meyakini Hurrem sebagai pelopor era “kesultanan perempuan,” periode ketika perempuan di lingkungan kerajaan memiliki pengaruh besar—suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemerintahan Ottoman.

Kehidupan Roxelana di harem Ottoman—area privat di istana sultan tempat tinggal para istri, selir, perempuan keluarga, dan pelayan perempuan—terdokumentasi dengan baik.

Namun, misteri asal-usulnya tetap menjadi perdebatan hingga berabad-abad kemudian.

Apakah ia tawanan dari Ukraina modern, putri seorang pendeta Ortodoks, atau bangsawan Italia yang diculik bajak laut?

Teori terakhir ini memang tak terduga.

Dari Tawanan Menuju Istana

Sebagian besar sejarawan meyakini Hurrem Sultan lahir pada awal abad ke-16 di Ruthenia, wilayah historis yang mencakup sebagian Ukraina, Polandia, dan Belarus modern.

Tidak ada catatan pasti mengenai nama lahir Hurrem.

Beberapa sumber dari Ukraina menyebutnya Aleksandra Lisovska atau Anastasia, sementara yang lain meyakini ia dikenal dengan nama-nama seperti La Rossa (merah), Rozanna (mawar yang anggun), Roksolan (perempuan Ruthenia), Roksana, atau Roxelana di Eropa Barat.

Namun, dokumen resmi Ottoman menyebutnya sebagai Haseki Hürrem Sultan.

“Hürrem” berarti ceria dalam bahasa Persia, dan “haseki” adalah gelar kehormatan bagi ibu dari putra seorang sultan.

Beberapa sumber menyebutkan Hurrem sebagai putri seorang pendeta Ortodoks, sementara yang lain menduga ia berasal dari keluarga petani.

Profesor Feridun Emecen dari Turki menyatakan bahwa terdapat catatan yang menunjukkan Hurrem ditawan oleh penyerbu Tatar Krimea di Rohatyn, sebuah kota yang kala itu merupakan bagian dari kerajaan Polandia.

Rohatyn kini terletak di Ukraina barat.

Menurut profesor Turki lainnya, Zeynep Tari, Hurrem kemudian dijual sebagai budak dan dibawa ke Kekaisaran Ottoman di usia remaja awal.

Ia lalu dihadiahkan kepada Pangeran Suleiman, yang kemudian dikenal sebagai Suleiman Agung.

Profesor Tari menduga Hurrem memasuki harem sekitar tahun 1520. Teori ini didasarkan pada fakta bahwa putra pertama pasangan tersebut, Pangeran Mehmed, lahir pada tahun berikutnya.

Baca Juga  Kisah Tak Terduga Paus Leo XIV di Papua Tahun 2003: Misi dan Aktivitasnya

Melanggar tradisi yang berlangsung selama berabad-abad, Suleiman kemudian menikahi Hurrem.

Tindakan ini mengejutkan istana dan secara signifikan—dan tak terduga—meningkatkan status Hurrem.

Sebelumnya, belum pernah ada sultan Ottoman yang menikahi seorang selir.

Bangsawan Italia?

Meskipun secara umum Hurrem diyakini berasal dari Ruthenia, terdapat teori alternatif mengenai latar belakangnya.

Salah satu klaim yang sangat kontroversial berasal dari peneliti Dr. Rinaldo Marmara.

Ia mengklaim telah menemukan sebuah manuskrip di arsip Vatikan yang menunjukkan bahwa Hurrem sebenarnya adalah bangsawan Italia.

Namanya asli Margherita dan berasal dari keluarga Marsigli di Siena.

Menurut Dr. Marmara, dokumen Vatikan tersebut menyebutkan Hurrem dan saudara laki-lakinya ditangkap oleh bajak laut dan dijual sebagai budak di istana Ottoman.

Marmara lebih lanjut menyatakan bahwa manuskrip tersebut mengungkapkan dugaan hubungan kekerabatan antara keturunan Hurrem, Sultan Mehmed IV, dan Paus Alexander VII.

Teori ini menimbulkan keraguan pada identitas Hurrem sebagai perempuan Ruthenia dan menyiratkan garis keturunan bangsawan yang tersembunyi.

Namun, sejarawan lain tetap skeptis.

Profesor Tarim, misalnya, mengingatkan bahwa keaslian klaim ini membutuhkan lebih banyak bukti pendukung.

Ia menyebutkan tidak ada catatan apa pun mengenai hal ini dalam laporan-laporan duta besar Venesia yang sangat detail.

Pada masa itu, laporan duta besar merupakan salah satu sumber gosip istana dan urusan diplomatik paling terpercaya.

“Jika hal seperti itu terjadi, [catatan-catatan] itu pasti akan memberitahukan kita. Kita pasti sudah mengetahuinya jauh lebih awal,” katanya.

Profesor Emecen juga menyatakan skeptisisme yang sama.

Meskipun Hurrem memang berkorespondensi dengan keluarga kerajaan Polandia, Emecen mengatakan ini kemungkinan besar bagian dari diplomasi formal dan bukan bukti asal-usul bangsawan.

‘Penyihir Rusia’

Kebingungan mengenai latar belakang Hurrem semakin bertambah karena berbagai sumber memiliki cara berbeda dalam menceritakan kisahnya.

Dokumen dan puisi era Ottoman terkadang menyebut Hurrem sebagai “penyihir Rusia”.

Sebutan yang merendahkan ini digunakan oleh para pengkritik Hurrem, khususnya setelah putra tertua Suleiman, Pangeran Mustafa, dieksekusi.

Pangeran Mustafa lahir dari perempuan lain dan merupakan pewaris takhta Ottoman pertama.

Hurrem secara luas diyakini telah merencanakan kejatuhan Pangeran Mustafa, membuka jalan bagi putra-putranya sendiri untuk naik takhta.

Profesor Emecen menjelaskan bahwa istilah “Rus” dalam konteks Ottoman tidak secara eksklusif merujuk pada etnis Rusia.

Sebaliknya, itu adalah penanda geografis untuk siapa pun yang berasal dari utara, termasuk wilayah Ukraina dan Belarus modern saat ini.

Para pelancong Barat dan diplomat Venesia pada masa itu juga menyebut Hurrem sebagai orang Rusia, tetapi para ahli berpendapat bahwa ini lebih mencerminkan asal geografisnya daripada etnisnya.

“Pada masa itu, tidak ada Rusia dalam batas-batas saat ini. [Dalam surat-menyurat dari periode tersebut] yang mereka maksud dengan Rusia adalah ‘dari wilayah geografis Rusia’,” kata Profesor Emecen.

Baca Juga  Rumah Atalarik Syah Dibongkar Paksa: Reaksi Tak Terduga Sang Aktor

“Pada abad ke-16, wilayah dengan populasi Ukraina di Polandia dinamai provinsi ‘Ruske’ dan Rohatyn adalah bagian dari itu,” tambah Vitalii Chervonenko dari BBC News Ukraina.

“Orang Ukraina pada masa itu disebut ‘Rusyns’ tetapi ini tidak ada hubungannya dengan Rusia,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, identitas Hurrem Sultan memiliki signifikansi politik baru, terutama di Ukraina di mana ia menjadi tokoh nasional.

Patung-patung untuk menghormatinya berdiri di Rohatyn, kota yang diduga menjadi tempat kelahirannya.

Sebuah masjid di kota Mariupol yang sekarang diduduki Rusia, menyandang namanya bersama dengan nama Suleiman.

Pada 2019, atas permintaan Kedutaan Besar Ukraina di Ankara, penyebutan “asal Rusia”-nya dihapus dari prasasti di makamnya di kompleks Masjid Süleymaniye di Istanbul.

Prasasti yang diperbarui kini menyoroti warisan Ukraina Hurrem Sultan. Hal ini menggarisbawahi bagaimana warisan Hurrem berlanjut dalam konteks geopolitik modern.

Kegiatan Filantropi

Pengaruh Hurrem meluas jauh melampaui tembok harem, khususnya kegiatan kemanusiaannya yang abadi.

Ia memerintahkan pembangunan masjid, dapur umum, dan yayasan amal di Istanbul dan Yerusalem, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman.

Distrik Haseki di Istanbul hingga kini masih menyandang namanya.

Menurut catatan sejarah, Hurrem Sultan wafat secara alami di Istanbul pada 15 April 1558.

Jenazahnya dimakamkan di Masjid Süleymaniye. Kemudian, atas perintah Sultan sendiri, sebuah makam dibangun di lokasi pemakamannya.

Kematiannya menandai akhir dari kehidupan yang luar biasa, tetapi bukan akhir dari pertanyaan-pertanyaan seputar dirinya.

Apakah ia seorang tawanan Ruthenia? Seorang bangsawan Italia? Atau seorang perempuan berkuasa yang disalahpahami?

Yang jelas, Hurrem Sultan tetap menjadi salah satu figur paling memikat dan diperdebatkan dalam sejarah Ottoman dan sejarah dunia.

Baca juga:

  • Ramalan Nostradamus soal kematian Paus muncul di internet – Mengapa ramalannya tetap populer sampai sekarang?
  • Bagaimana Islam memengaruhi seniman India dalam melukis kelahiran Yesus?
  • Kisah putri pewaris takhta Bhopal di India yang menentang stereotip perempuan Muslim

Baca juga:

  • Misteri asal usul Christopher Columbus terungkap – Berasal dari Spanyol dan berdarah Yahudi
  • Mengungkap peran besar Islam di Eropa lewat hadiah-hadiah Khalifah Harun al-Rasyid
  • Tiga perempuan yang ‘terlupakan’ namun berpengaruh terhadap pengetahuan soal Mesir kuno
  • Ramalan Nostradamus soal kematian Paus muncul di internet – Mengapa ramalannya tetap populer sampai sekarang?
  • Kisah geng perempuan yang meneror London selama puluhan tahun
  • Temuan kemewahan spektakuler di Pompeii mengungkap detik-detik sebelum letusan dahsyat Gunung Vesuvius

Share :

Baca Juga

Society Culture And History

Bongkar Paksa Bangunan Atalarik Syah: Kronologi Lengkap Sengketa Tanah

Society Culture And History

Jelajahi Vila Sintra: Istana, Museum, & Pesona Kota Tua Portugal

Society Culture And History

Mike Tyson: Kisah ‘Si Leher Beton’ dari Penjara Menuju Hidayah Sejati

Society Culture And History

Luna Maya & Maxime Bouttier: Ritual Melukat Jelang Pernikahan Sakral

Society Culture And History

Lima Istana Mewah di India: Pengalaman Liburan Tak Terlupakan

Society Culture And History

10 Etika Wisatawan yang Wajib Anda Ketahui Sebelum ke Paris

Society Culture And History

Jejak Paus Leo XIII di Indonesia: Lokasi Kunjungannya yang Mengejutkan

Society Culture And History

Mengenang Sirikit: Kisah Hidup Ibu Suri Thailand yang Inspiratif di Usia 93 Tahun