Breaking News

Home / Society Culture And History

Kamis, 2 Oktober 2025 - 05:52 WIB

Pesantren Al Khoziny Sidoarjo: Sejarah Panjang dan Santri dari Seluruh Indonesia

Suasana duka menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny yang terletak di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebuah kejadian tragis menimpa pesantren tersebut ketika bangunan pondok ambruk, menimpa ratusan santri yang tengah khusyuk melaksanakan salat Asar berjemaah pada hari Senin (29/9).

Upaya evakuasi intensif terus dilakukan hingga hari keempat pasca-kejadian, tepatnya pada hari Kamis (2/10). Data terkini hingga Rabu (10/9) malam menunjukkan bahwa sebanyak 108 korban telah berhasil dievakuasi, namun sayangnya, lima di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Lebih memilukan lagi, 59 santri lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dalam pencarian.

Ponpes Al Khoziny memiliki sejarah panjang dan merupakan salah satu pesantren paling bersejarah di Jawa Timur. Usianya telah melampaui satu abad, berdiri kokoh sejak antara tahun 1915 hingga 1920 Masehi.

Sebuah artikel di NU Online Jatim, yang ditulis oleh Moch Rofi”i Boenawi, seorang alumnus Al-Khoziny, mengungkapkan bahwa pesantren ini lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Buduran, merujuk pada lokasinya yang strategis di Desa Buduran.

Baca Juga  Resmi Cerai dari Erin Wartia, Andre Taulany Ucap Syukur

Nama Al-Khoziny sendiri diabadikan dari nama pendirinya yang penuh dedikasi, yakni KH Raden Khozin Khoiruddin, yang juga dikenal dengan sebutan Kiai Khozin Sepuh. Beliau adalah menantu dari KH Ya’qub, seorang tokoh agama terkemuka.

Selain itu, Kiai Khozin juga pernah mengemban amanah sebagai pengasuh Pesantren Silawanpanji pada periode ketiga. Pesantren ini telah mencetak banyak ulama besar yang berpengaruh di Indonesia, di antaranya adalah KH M Hasyim Asy’ari (pendiri Tebuireng, Jombang), KH Nasir (Bangkalan), KH Abd Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH Umar (Jember), KH Nawawi (Pendiri Pesantren Ma’had Arriyadl Ringin Agung Kediri), KH Usman Al Ishaqi (Alfitrah Kedinding, Surabaya), KH Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH Dimyati (Banten), KH Ali Mas’ud (Sidoarjo), dan KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo).

Salah satu keunggulan utama dan tradisi yang dipegang teguh di Ponpes Al Khoziny adalah komitmennya dalam menjaga tradisi keilmuan Islam klasik (salaf). Hal ini tercermin dalam fokus utama pada kajian kitab kuning, nahwu, fikih, serta berbagai mata pelajaran agama Islam lainnya.

Baca Juga  Unpad Sambut Gembira Mochtar Kusumaatmadja Jadi Pahlawan Nasional

Para santri yang menimba ilmu di pesantren ini berasal dari berbagai penjuru Indonesia, dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga wilayah timur Indonesia, mencerminkan daya tarik dan reputasi pesantren yang luas.

Ponpes ini memiliki fasilitas terpisah untuk santri pria dan wanita. Selain itu, Ponpes Al Khoziny juga memiliki lembaga pendidikan tinggi, yaitu Institut Agama Islam Al Khoziny Buduran Sidoarjo, yang menawarkan program sarjana dan pascasarjana.

Setelah musibah ambruknya bangunan, sejumlah tokoh penting Indonesia telah meluangkan waktu untuk mengunjungi Ponpes Al Khoziny, menunjukkan solidaritas dan dukungan. Di antara mereka adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, hingga Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Share :

Baca Juga

Society Culture And History

Ramalan Zodiak Kamis 8 Mei 2025: Taurus Bijak, Aries Lancar

Society Culture And History

Terungkap: Foto Tersembunyi Pawai PKI 1965 dan Identitas Dua Jenazah

Society Culture And History

Resmi Cerai dari Erin Wartia, Andre Taulany Ucap Syukur

Society Culture And History

Jelajahi 5 Destinasi Wisata Kaya Budaya Indonesia

Society Culture And History

Rahasia Ketenangan Jiwa: Gaya Hidup Minimalis Jepang

Society Culture And History

Budi Arie Sebut Delapan Tantangan Berat Koperasi Desa Merah Putih

Society Culture And History

Bongkar Paksa Bangunan Atalarik Syah: Kronologi Lengkap Sengketa Tanah

Society Culture And History

10 Etika Wisatawan yang Wajib Anda Ketahui Sebelum ke Paris