Breaking News

Home / Society Culture And History

Selasa, 14 Oktober 2025 - 17:52 WIB

Terungkap: Foto Tersembunyi Pawai PKI 1965 dan Identitas Dua Jenazah

Enam dekade telah berlalu sejak peristiwa kelam 1965. Berbagai studi terus bermunculan, berupaya menyajikan analisis dan perspektif alternatif yang menantang narasi tunggal yang digaungkan oleh pemerintah Orde Baru. Dalam sebuah buku terbaru yang membahas peristiwa 1965, dua akademisi mengambil langkah serupa, namun dengan pendekatan yang berbeda: medium visual.

Geoffrey Robinson dan Douglas Kammen adalah dua akademisi yang dimaksud. Dalam buku yang direncanakan rilis tahun ini, mereka menghimpun ratusan foto dari ribuan yang diambil pada periode awal 1960-an hingga 1970-an.

Buku mereka berjudul Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left—yang selanjutnya akan disingkat menjadi Exposed.

Menurut Geoffrey, foto-foto ini merupakan “arsip sejarah yang krusial,” yang menggambarkan transformasi dinamika politik dalam negeri menjadi salah satu tragedi genosida terburuk di abad ke-20.

“Buku ini digarap dengan semangat untuk mengungkap tabir yang selama ini menyelimuti kebenaran, serta membuka peluang bagi pemahaman sejarah yang lebih mendalam,” ujar Geoffrey kepada BBC News Indonesia.

“Bahkan, mungkin juga memberikan keadilan bagi para korban.”

Salah satu foto memperlihatkan ratusan individu yang ditahan di Kraton Surakarta pada bulan Desember 1965. Mereka dicurigai memiliki keterkaitan dengan PKI atau organisasi massa ‘Kiri’ lainnya.

Foto lainnya menampilkan pemandangan serupa: ratusan orang berada di sebuah lapangan di Jawa Tengah, ditangkap oleh militer atas tuduhan menjadi bagian dari kelompok Kiri.

Tidak hanya mendokumentasikan para korban 1965, Geoffrey dan Douglas juga berhasil mengumpulkan foto-foto yang mengungkap sosok-sosok elite yang berada di pusat pusaran politik pada masa itu: militer, PKI, serta Sukarno.

Sebagai contoh, sebuah foto memperlihatkan Ketua PKI, DN Aidit, yang sedang ditangkap oleh tentara dengan wajah tertutup kain. Foto ini diyakini diambil sebelum Aidit dieksekusi di Jawa Tengah pada akhir tahun 1965.

Douglas menjelaskan bahwa foto-foto yang mereka kumpulkan berfungsi sebagai jendela yang memungkinkan kita untuk sejenak menengok kembali peristiwa yang terjadi di masa lampau.

“Tentang apa yang mereka [negara dan militer] sembunyikan dan apa yang tanpa sengaja terungkap melalui foto-foto yang ada,” jelasnya.

‘Visual [tentang] 1965 Sangat Minim dan Tidak Lengkap’

Keterikatan Geoffrey Robinson dengan Peristiwa 1965 berawal pada pertengahan 1970-an. Dua senior sekaligus mentornya di Universitas Cornell, Benedict Anderson dan George Kahin, menjadi sumber inspirasinya. Geoffrey banyak belajar dari mereka.

Benedict Anderson menulis riset mendalam tentang penyebab kekacauan 1965, berjudul A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, bersama Ruth McVey. Analisis ini dikenal dengan ‘Cornell Paper’ dan sempat memicu kemarahan TNI. Dalam risetnya, Ben dan Ruth mengindikasikan adanya keterlibatan militer di balik peristiwa 1965. Ben sendiri dicekal masuk ke Indonesia setelah menerbitkan Cornell Paper.

Sementara itu, George Kahin pernah menyusun buku berjudul Nationalism and Revolution in Indonesia (1952). Dia juga mendirikan Cornell Modern Indonesia Project (CMIP), yang menjadi wadah bagi penelitian para akademisi asing tentang Indonesia—khususnya di bidang politik dan sosial.

Di mata Geoffrey, Indonesia adalah “negara yang indah.” Keindahan ini ia rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Bali.

“Kemudian saya menyadari bahwa di balik segala keindahan alam Bali, terdapat rahasia, peristiwa buruk yang menimpa masyarakatnya. Hal ini juga menggambarkan betapa drastisnya perubahan politik Indonesia,” ujarnya saat diwawancarai oleh BBC News Indonesia.

Rahasia tersebut kemudian diungkap oleh Geoffrey dalam bukunya yang berjudul The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali (1995).

Buku tersebut menjelaskan bagaimana politik turut membentuk wajah Bali. Geoffrey menelusuri garis sejarah yang mengiringi kehidupan masyarakat Bali, mulai dari masa kolonial Belanda hingga Peristiwa 1965.

Dalam konteks 1965, Geoffrey menulis bahwa “sekitar 5% penduduk Bali yang kurang dari dua juta jiwa [pada saat itu] menjadi korban pembantaian massal.” Kengerian yang terjadi di Bali merupakan titik kelam dalam sejarah dunia modern, demikian penegasan Geoffrey.

Baca Juga  Sampoerna Gelar Pesta Rakyat 2025: Meriahkan Akhir Tahun!

Sejak saat itu, Geoffrey mencurahkan perhatiannya pada Tragedi 1965—dan Indonesia. Menurutnya, dampak destruktif dari peristiwa 1965 sangat besar, sebanding dengan pembantaian politik global lainnya, seperti di Rwanda, Armenia, hingga Kamboja.

Jumlah korban 1965 diperkirakan mencapai antara 500.000 hingga 1 juta orang. Mereka dibunuh, dipenjara, dan dihilangkan secara paksa.

Setelah rezim diktator Soeharto tumbang, upaya untuk mengungkap Peristiwa 1965 sejelas mungkin—termasuk alasan di balik terjadinya tragedi ini—muncul satu per satu melalui penelitian, publikasi, dan film dokumenter.

Meskipun demikian, Geoffrey merasa masih ada kekurangan.

“Bukti visual tentang 1965 sangat minim dan tidak lengkap. Kami berpendapat bahwa hal ini berkontribusi pada pengetahuan yang relatif rendah tentang 1965 di kalangan masyarakat umum,” tegasnya.

“Di sisi lain, kesalahpahaman tentang peristiwa ini juga seringkali ditemukan.”

Keinginan untuk menyajikan dimensi “baru” pada Peristiwa 1965 pun tertanam dalam benaknya. Bersama Douglas Kammen, seorang akademisi dan pengajar di National University of Singapore, Geoffrey memulai langkah untuk mewujudkan apa yang ia definisikan sebagai “sejarah visual.”

Geoffrey dan Douglas membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan proyek pengarsipan visual 1965 ini.

Proyek Exposed dimulai sekitar tahun 2017. Foto-foto diperoleh dari berbagai sumber, termasuk pemerintah, militer, jurnalis lokal dan internasional, media massa, organisasi sipil, hingga seniman. Tiga linimasa utama menjadi fokus: sebelum 1965, saat 1965, dan setelah 1965.

Setiap sumber foto memiliki karakteristik yang berbeda. Geoffrey mencontohkan foto yang diperoleh dari arsip negara atau militer.

Pertama, foto-foto 1965 yang berasal dari TNI umumnya menggambarkan korban sebagai pengkhianat yang tidak memiliki identitas, sementara pelaku—negara, militer, serta organisasi masyarakat—di-framing sebagai pahlawan yang menjaga hukum dan ketertiban.

Kedua, menurut Geoffrey, gambar resmi mengenai 1965 hampir tidak pernah menunjukkan kekerasan yang meluas dan ekstrem yang dilakukan oleh pelaku utama—tentara dan sekutu sipil.

Dan ketiga, dalam banyak foto, tentara dan sekutunya berpose dengan penuh kebanggaan, seolah-olah merayakan kemenangan yang akan dinikmati oleh generasi mendatang.

“Sebaliknya, sebagian besar tahanan politik tampak putus asa, lesu, dan kalah. Mungkin karena mereka tidak melihat jalan keluar, atau mungkin karena mereka telah diperingatkan oleh tentara untuk tidak mengungkapkan emosi mereka,” ungkap Geoffrey.

Tangkapan Foto 1965: Tahanan yang Dikumpulkan sampai Pawai PKI

Geoffrey menjelaskan bahwa salah satu fotografer lokal yang memberikan kontribusi besar terhadap dokumentasi 1965 adalah Moelyono. Pada era 1960-an, Moelyono bekerja di surat kabar Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta.

Saat peristiwa 1965 meletus, Moelyono direkrut oleh militer untuk mengambil foto-foto dalam operasi “penumpasan PKI.”

Hasil jepretan kamera Moelyono memperlihatkan jenazah dua anak laki-laki yang tergeletak tengkurap di lumpur. Foto tersebut diambil saat Moelyono ikut dalam rombongan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang tengah memberantas orang-orang “Kiri” di Jawa Tengah pada akhir tahun 1965.

Puluhan tahun setelah “tugas” tersebut, Moelyono bercerita kepada antropolog asal AS, Karen Strassler, bahwa tentara memberlakukan batasan ketat terhadap apa yang boleh ia foto dan gambar mana yang akhirnya dipublikasikan.

Yang terpenting, terang Moelyono saat bertemu Karen, kamera tidak boleh merekam kekerasan yang dilakukan oleh tentara.

“Moelyono juga diminta untuk tidak menunjukkan wajah anggota PKI atau mereka yang terkait dengan PKI yang sudah meninggal. Hal ini cukup membantu menjelaskan posisi aneh dalam foto mayat tersebut,” papar Geoffrey.

Geoffrey dan Douglas mengakui bahwa mereka hanya menemukan sedikit foto yang menampilkan kekerasan eksplisit—yang mengakibatkan hilangnya nyawa, misalnya. Potret lokasi pembantaian massal juga tidak tersedia.

Baca Juga  Penculikan anak berinisial BR dari Makassar sampai Jambi – Mengapa anak dan masyarakat adat rawan jadi korban eksploitasi?

Keadaan ini terjadi karena, sekali lagi, militer memegang kendali penuh atas distribusi informasi pada tahun 1965. Secara umum, foto-foto yang dihasilkan pada periode 1965-1967 mencerminkan bagaimana militer membangun propaganda secara terstruktur melalui Pusat Penerangan Angkatan Darat.

Pesan yang ingin disampaikan kepada publik adalah penegasan tentang betapa bengis dan jahatnya PKI beserta anggota maupun simpatisannya.

“Ada satu foto yang setelah kami telusuri ternyata diambil pada [Peristiwa] Madiun 1948, ketika tentara dan PKI berkonflik. Foto korban kekerasan 1948 itu disebarluaskan lagi oleh militer Indonesia untuk membingkai bahwa PKI brutal dan pengkhianat,” Geoffrey menjelaskan kepada BBC News Indonesia.

Sejak awal, Geoffrey melanjutkan, militer sengaja menciptakan narasi palsu tentang orang-orang “PKI.” Dan ketika tujuan itu berhasil, dalam arti publik terpengaruh secara emosional, militer segera merebut ruang kosong tersebut dengan menanamkan propaganda baru ke dalam ingatan kolektif masyarakat.

“PKI itu kejam, dan tentara adalah pahlawan yang menyelamatkan [Indonesia],” imbuh Geoffrey.

Meskipun sebagian besar visual tentang 1965 dimaksudkan untuk memperkuat otoritas militer, Geoffrey dan Douglas berpendapat bahwa foto-foto yang mereka kumpulkan juga memperlihatkan—secara tidak sengaja—kekerasan sistematis terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI.

Sebagai contoh, satu foto menunjukkan seorang pejabat militer lokal berbicara di hadapan kerumunan orang di Purwodadi, Jawa Tengah. Orang-orang dalam foto tersebut memegang senjata—bambu runcing—serta dikelilingi oleh tentara yang membawa senapan.

Kerumunan tersebut merupakan bagian dari kelompok milisi yang direkrut oleh tentara untuk menumpas orang-orang komunis.

Di foto lain, ratusan orang ditempatkan di lapangan di sebuah desa di Jawa Tengah. Mereka duduk di tanah. Ada anak kecil dan laki-laki dewasa.

Di hadapan mereka berdiri anggota milisi lokal yang menenteng bambu runcing.

Tidak jauh berbeda dengan dua foto di atas, foto di bawah ini menggambarkan para tahanan yang dikumpulkan di balai desa di Klaten, Jawa Tengah.

Di samping para tahanan berdiri tentara dan masyarakat lokal yang seolah-olah mengawasi gerak-gerik mereka.

“Selain [foto kekerasan dan tahanan] itu, ada satu foto yang benar-benar menarik perhatian saya: foto pawai PKI di Yogyakarta. Diambil sebelum [Peristiwa] 1965 [pecah],” ujar Geoffrey.

“Foto ini dapat memberikan semacam refleksi atas propaganda militer terhadap PKI.”

Dalam foto yang diceritakan Geoffrey, yang diambil oleh Moelyono sekitar tahun 1965, sekelompok anak muda terlihat menikmati acara pawai yang diselenggarakan oleh PKI di alun-alun Kraton Yogyakarta.

Beberapa dari mereka menatap langsung ke arah kamera dan tertangkap tersenyum.

Geoffrey menyatakan bahwa tidak semua foto berhasil dikumpulkan, seperti foto penyiksaan tahanan, kekerasan seksual, atau saat korban 1965 diangkut untuk dibantai di suatu lokasi.

Namun, sebagai seorang sejarawan, Geoffrey percaya bahwa foto-foto yang ia peroleh bersama Douglas dapat membuka bagian dari masa lalu yang selama ini disembunyikan. Foto-foto tersebut, menurut Geoffrey, memberikan analisis mengenai babak penting dalam sejarah kelam yang berlangsung relatif singkat, dari tahun 1965 hingga 1967.

“Kami percaya bahwa ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat dan dengan memperlihatkan kondisi produksinya, baik itu secara politik maupun sosial, gambar-gambar ini dapat mengingatkan kita pada hal-hal yang telah diabaikan dalam narasi konvensional,” sebut Geoffrey.

Douglas berharap foto-foto yang disusun dalam Exposed mampu mengisi celah sejarah 1965 yang masih ada. Ia menggarisbawahi bahwa Exposed diharapkan dapat “menantang narasi resmi yang telah membentuk ingatan sosial masyarakat di Indonesia.”

“Kami menginginkan foto dan gambar ini ditempatkan dalam konteks sejarah agar kelak interpretasi baru dapat terbentuk setelah lebih dari setengah abad propaganda pemerintah bergerak [memberi pengaruh] ke masyarakat dan politik, bahkan sampai saat ini,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

Society Culture And History

Luna Maya & Maxime Bouttier: Ritual Melukat Jelang Pernikahan Sakral

Society Culture And History

Rekor Dunia: 10 Patung Tertinggi, Tiga Ada di Asia Tenggara

Society Culture And History

Jelajahi 5 Destinasi Wisata Kaya Budaya Indonesia

Society Culture And History

Kejutan Konklaf: Tiga Kardinal Terkuat Calon Paus, Sejarah Asap Putih dan Hitam Terungkap

Society Culture And History

Pandji Pragiwaksono Bereaksi: Sanksi 96 Babi-Kerbau & Denda 2 Miliar Jadi Sorotan

Society Culture And History

Lima Zodiak dengan Aura Paling Memikat: Rahasia Pesona Mereka Menurut Astrologi

Society Culture And History

Kisah Haru Ibunda Luna Maya, Profil Desa Maya di Momen Siraman Putri Tersayang

Society Culture And History

Anies Baswedan Ungkap Kondisi Terbaru Najwa Shihab Setelah Kehilangan Ayah