Breaking News

Home / Politics

Selasa, 21 Oktober 2025 - 07:51 WIB

Sanae Takaichi Berpotensi Jadi PM Perempuan Pertama Jepang: Analisis Peluangnya

TOKYO, KOMPAS.TV – Sebuah babak baru dalam sejarah politik Jepang telah dimulai. Pada hari Selasa, 21 Oktober 2025, Parlemen Jepang secara resmi menunjuk Sanae Takaichi, seorang figur konservatif terkemuka, untuk mengemban amanah sebagai Perdana Menteri, menggantikan Shigeru Ishiba.

Penunjukan ini menandai momen bersejarah, menjadikan Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama yang memimpin Negeri Sakura sepanjang sejarahnya.

Keberhasilan Takaichi meraih kursi perdana menteri tak lepas dari solidnya koalisi yang dibangun oleh partainya, Partai Demokrat Liberal (LDP), bersama dengan Partai Inovasi Jepang (JIP), sebuah kekuatan politik berhaluan sayap kanan.

Terbentuknya aliansi strategis ini mengakhiri periode ketidakpastian politik yang melanda Jepang setelah LDP mengalami kekalahan dalam pemilihan majelis tinggi pada bulan Juli lalu.

Koalisi antara LDP dan JIP berhasil melewati proses di parlemen dengan lancar, berkat kurangnya konsolidasi di antara kekuatan-kekuatan oposisi.

Baca Juga  Pembangunan IKN Berlanjut: Gibran Pastikan Proyek Tetap Jalan

Meskipun demikian, koalisi ini belum sepenuhnya mengamankan mayoritas suara di parlemen, yang mengindikasikan potensi perdebatan sengit dengan pihak oposisi dalam upaya meloloskan berbagai rancangan undang-undang.

Ajaib, Pria Ini Selamat usai Bergulat dengan Beruang saat Jogging di Hutan Jepang

Saat menghadiri acara seremonial bersama mitra koalisi pada hari Senin, 20 Oktober 2025, Takaichi menekankan pentingnya stabilitas politik menjelang dimulainya masa pemerintahannya.

“Stabilitas politik merupakan fondasi yang sangat penting saat ini. Tanpa stabilitas, kita tidak akan mampu mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk mewujudkan ekonomi yang kuat dan diplomasi yang efektif,” ujar Takaichi, seperti dikutip dari Associated Press.

Meskipun menjadi perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Jepang, Takaichi belum dikenal sebagai seorang politikus yang secara aktif memperjuangkan kesetaraan atau keanekaragaman gender.

Baca Juga  Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Target 19 Juta Lapangan Kerja Optimis Tercapai?

Perempuan berusia 64 tahun ini dikenal sebagai seorang anak didik dari mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, yang tragisnya dibunuh pada tahun 2022.

Takaichi dikenal luas atas dukungannya terhadap kebijakan-kebijakan revisionis dan seringkali terlihat melakukan sembahyang di Kuil Yasukuni, sebuah tempat yang dianggap sebagai simbol persetujuan atas agresi Jepang selama Perang Dunia Kedua.

Selain itu, Sanae Takaichi juga dikenal sebagai pendukung kuat tradisi suksesi Kekaisaran Jepang yang hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Ia juga menentang wacana untuk mengizinkan pasangan suami istri menggunakan nama keluarga yang berbeda.

Jepang akan Punya PM Wanita Pertama, Partai Berkuasa Pilih Sanae Takaichi sebagai Pemimpin

Share :

Baca Juga

Politics

IHSG Tangguh? Analisis Dampak Shutdown Pemerintah AS

Politics

Menkeu Purbaya Jawab Anjloknya IHSG Pasca Reshuffle Kabinet Prabowo

Politics

Prabowo Ungkap Rencana: Bahasa Portugis Masuk Kurikulum Sekolah Indonesia

Politics

Prabowo Subianto Beri Instruksi Penanganan Banjir Sumatra

Politics

Proliga 2025: Misteri Megawati Hangestri, Minimnya Waktu Main Saat Gresik Petrokimia Menang

Politics

Kedatangan Presiden Macron dan Istri di Indonesia: Foto Eksklusif Turun dari Pesawat

Politics

Sidang Hasto: Penyelidik KPK Ungkap Kebocoran Sprinlidik Kasus Harun Masiku

Politics

Jadwal Visa Piala Dunia 2026 Diluncurkan Trump, Seattle Terancam?