BAGANSIAPIAPI,warta-kota.com | ROKAN HILIR – Masalah sampah organik kini tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan peluang emas untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Hal ini ditegaskan oleh Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Dr. Hj. Hj. Karmila Sari, S.Kom., M.M., saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) pengolahan sampah menjadi maggot Black Soldier Fly (BSF) di Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Jumat (10/4/2026).
Melalui kolaborasi strategis bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Karmila Sari menginisiasi gerakan ekonomi sirkular yang menyasar langsung ke akar rumput. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah domestik sekaligus memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat Riau.

Pemanfaatan 56 Titik Dapur ProduktifDalam pemaparannya, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau I ini mengungkapkan bahwa Rokan Hilir memiliki potensi bahan baku yang melimpah. Sedikitnya terdapat 56 titik dapur produktif yang setiap harinya menghasilkan sisa nasi dan sayuran dalam jumlah besar.
“Limbah organik ini jika dibuang begitu saja hanya akan mencemari lingkungan. Namun, dengan teknologi maggot yang kita bawa bersama para ahli dari BRIN, sampah ini bisa dikonversi menjadi produk bernilai tinggi dalam waktu hanya 20 hari,” jelas Karmila, yang saat ini duduk di Komisi X dan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.
Membedah Nilai Ekonomis: Dari Pakan hingga Kompos
Bimtek ini tidak hanya mengajarkan cara budidaya, tetapi juga membuka mata peserta terhadap potensi pasarnya. Produk pelet maggot diketahui memiliki harga pasar yang stabil di angka Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Bahkan, residu dari proses pengolahan tersebut menghasilkan pupuk kompos organik yang laku dijual Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilogram.
Efek dominonya pun dirasakan langsung oleh sektor perikanan. Karmila menekankan bahwa penggunaan maggot sebagai pakan alternatif dapat memangkas biaya produksi secara signifikan—menggantikan hingga 70 persen pakan ikan lele dan 50 persen pakan ikan nila. “Ini adalah strategi reduce cost yang paling konkret bagi peternak lokal kita untuk tetap bertahan di tengah fluktuasi harga pakan pabrikan,” tambahnya.
Ibu Rumah Tangga dan Milenial sebagai Ujung Tombak
Acara yang dihadiri oleh pengurus IWAPI, pelaku UMKM toko roti, hingga pelajar SMA ini menempatkan perempuan dan generasi muda sebagai aktor utama. Karmila berharap para peserta tidak sekadar menjadi pengamat isu lingkungan, tetapi menjadi ‘eksekutor’ yang mampu mengubah limbah menjadi profit.
“Target utama kami adalah melihat volume sampah di wilayah kita berkurang secara drastis, sementara di saat yang sama, pendapatan ekonomi masyarakat meningkat. Kami ingin setiap rumah tangga di Rohil menjadi bagian dari solusi lingkungan sekaligus meraih keuntungan ekonomi,” tutup Karmila optimis.
Bimbingan teknis ini diharapkan menjadi pemantik bagi munculnya duta-duta lingkungan baru di Rokan Hilir yang mampu menyebarluaskan metode budidaya maggot ke lingkungan bertetangga, menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan.(Redaksi)















