Kita sangat miris dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini
Kenapa saya berkata begitu karena fakta dilapangan memang seperti itu
Cobalah bapak ibuk agak sesekali kamu bertanya kepada guru-guru, cleaning service, security, dan para pekerja lainnya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bernama Pondok Pesantren, dibalik bangunannya yang mentereng, biaya masuknya belasan hingga puluhan juta, SPP-nya jutaan perbulan, dan muridnya ratusan bahkan ribuan… Berapa kah gaji mereka terima perbulan? Jawabannya mungkin akan membuatmu emosi,marah, jengkel dan terdiam.
Dibalik Bangunan yang Menjulang, Penopang nya sangat Keropos.
Di balik kemegahan fisik sekolah yang fasilitasnya sekelas hotel berbintang itu, tersimpan rapuhnya kondisi ekonomi mereka yang bekerja di dalamnya. Yayasan seringkali lebih sibuk mempercantik gedung daripada memikirkan dapur,gaji dan kesejahteraan pekerjanya. Bangunan sekolah ditinggikan sampai ke langit, namun penopang utamanya “para guru dan staf” dibiarkan rapuh dan keropos karena kesejahteraan yang diabaikan. Mereka “dipaksa” tampil necis demi citra sekolah, padahal isi dompetnya tipis bahkan menjerit.
Kenapa ketidakadilan ini bisa langgeng bertahun-tahun? Karena mayoritas lembaga pendidikan ini seolah menjadi “negara dalam negara” yang tak tersentuh radar pengawasan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Tidak ada yang mengecek apakah upah mereka layak atau jam kerja mereka manusiawi. Lebih parahnya lagi, tidak ada serikat guru atau serikat pekerja di dalamnya yang berfungsi sebagai “tangan pertama” penjaga keadilan. Posisi tawar mereka lemah; jika protes sedikit saja, ancamannya langsung pemecatan atau dianggap pembangkang.
Sekolah yang berada dibawah Kementerian Agama ini terkadang luar biasa kejam dan zalim terhadap para pegawai pegawainya. Bahkan ada para guru yang menerima gaji sekali 3 bulan dengan alasan DANA BOS belum turun.
IKHLAS BERAMAL
Jebakan Dalih “Ikhlas” dan “Ibadah” adalah kata kata yang sering diucapkan oleh pimpinan ketika memberikan pengarahan.
Ketika para pendidik ini mulai merasa tercekik kebutuhan, yayasan seringkali mengeluarkan senjata pamungkasnya: Dalih “ikhlas” dan “ladang pahala”. Kata-kata suci dijadikan tameng untuk menutupi ketidakadilan upah. Bandingkan dengan pabrik yang sering kita hujat sebagai simbol kapitalisme, di sana seorang tukang sapu bisa membawa pulang gaji UMR karena sistemnya jelas.
Di sini, Gelar sarjana seringkali dihargai jauh di bawah standar layak hidup, hanya karena label “pengabdian” yang dimanipulasi.
Lembaga Pendidikan Seharusnya Menjadi Teladan.
Sudah seharusnya lembaga pendidikan, apalagi yang membawa label agama, menjadi contoh utama bagi institusi lain dalam hal memanusiakan manusia. Jangan sampai kita sibuk membangun peradaban lewat gedung-gedung mewah, tapi justru mendzalimi mereka yang mengajarkan peradaban itu sendiri. Hak-hak pekerja bukanlah sedekah yang diberikan jika ada sisa, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan sebelum keringat mereka kering.
Videl
Penulis :














