Breaking News

Home / Berita Utama Daerah / Daerah / Jambi / News / Peristiwa / Warta Kota terkini

Kamis, 26 Juni 2025 - 10:44 WIB

Bentrok Mahasiswa vs Aparat di Jambi: Kekerasan yang Dibiarkan, Aspirasi yang Dikubur

Mahasiswa menjadi korban saat aksi unjuk rasa di Jambi ricuh. Ia mengalami sesak napas dan luka ringan setelah diduga terkena gas air mata dan benturan fisik

Mahasiswa menjadi korban saat aksi unjuk rasa di Jambi ricuh. Ia mengalami sesak napas dan luka ringan setelah diduga terkena gas air mata dan benturan fisik

Jambi, Warta-kota.com

JAMBI – Bentrokan antara mahasiswa dan aparat kembali terjadi di Jambi. Sayangnya, insiden semacam ini bukan lagi hal luar biasa. Ia terus berulang, seolah telah menjadi bagian dari “ritual wajib” setiap kali massa turun ke jalan menyuarakan suara rakyat. Di balik gas air mata dan tameng polisi, tersimpan satu fakta penting: negara gagal membuka ruang dengar yang sehat bagi generasi muda.

Pemerintah Provinsi Jambi dinilai abai dalam menangani akar masalah. Tidak ada itikad kuat untuk duduk bersama, berdialog, atau sekadar hadir menemui massa yang telah berpanas-panasan menyampaikan tuntutan. Yang terjadi justru sebaliknya: kehadiran aparat dalam jumlah besar, pembatasan akses, hingga tindakan represif yang kerap berujung luka fisik dan trauma psikologis.

Baca Juga  Kebakaran hebat di SMA 1 Tebing Tinggi Nyaris Melahap Semua Isi sekolah

Di tengah tekanan dan kemarahan massa, bentrok pun terjadi. Skema ini seakan terus diulang. Ketikaterluhat bentrokan pecah, opini publik digiring menjauh dari isu utama yang disuarakan mahasiswa: persoalan lingkungan yang rusak akibat tambang, praktik korupsi di lingkaran pemerintahan, hingga buruknya layanan publik di berbagai sektor.

“Kami melihat pola ini bukan kebetulan, tapi seperti sudah menjadi bagian dari sistem,” ujar seorang aktivis mahasiswa yang enggan disebutkan namanya. Menurutnya, aksi damai yang diabaikan pemerintah justru menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak karena kekecewaan.

Yang lebih memprihatinkan, aparat yang bertindak di luar batas hukum seperti pemukulan, intimidasi, dan penangkapan sewenang-wenang, nyaris tidak pernah mendapat sanksi tegas. Proses hukum bagi pelaku kekerasan dari unsur kepolisian kerap mandek, tidak transparan, atau bahkan hilang dari pemberitaan. Sebaliknya, mahasiswa yang menjadi korban harus menghadapi stigmatisasi, luka, dan kerap tidak mendapatkan pemulihan.

Baca Juga  CCTV Kantor Bupati Simalungun Diduga Dihack Orang Tak Bertangung Jawab,BSSN dan APH Diminta Lakukan Pengusutan

Tim Redaksi Warta-Kota.com menilai kekerasan terhadap massa aksi sebagai bentuk kegagalan sistemik dalam berdemokrasi. Aspirasi tidak bisa dibungkam dengan kekuatan. Pemerintah daerah harusnya menjadi fasilitator penyelesaian masalah, bukan malah bersembunyi di balik barikade dan protokoler.

Kami menyerukan agar aparat kembali pada fungsi dasarnya: mengayomi dan melindungi warga negara. Pemerintah juga mesti menyadari bahwa suara mahasiswa bukan ancaman, melainkan tanda bahwa masih ada yang peduli pada negeri ini.

Jambi butuh pemimpin yang hadir, bukan yang hilang saat rakyat bersuara.

 

Share :

Baca Juga

News

Diduga Selubungi Praktik Judi Berkedok Permainan Anak, Gelper di Jalan Hangtuah Bengkalis,Minta APH Usut Tuntas

News

Jalin Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas, Polres Kepulauan Meranti Gencarkan Program Suling Emas

Banten

Ketua Umum Forum Pemuda Banten Mohamad Pares Adhara Soroti Upaya Melawan Kotak Kosong Di Pilkada Banten

News

Bupati Kepulauan Meranti Sampaikan Nota Keuangan Ranperda Perubahan APBD 2025

Berita Utama

Kebakaran Lahan Hanguskan ±6 Hektare Kebun Masyarakat di Bukit Sundi, Tim Gabungan Lakukan Pemadaman
Suasana tertib dan khidmat saat Apel Gelar Pasukan pengamanan Presisi Merdeka Run 2025 di Lapangan Mapolresta Jambi.

Daerah

Jelang Presisi Merdeka Run 2025, Polda Jambi Gelar Apel Besar di Mapolresta: Kapolda Tekankan Humanisme dan Disiplin

News

Dendam!!! Diduga Oknum Kades Desa Buluhcina Terlibat Dalam Penyebaran Data WBP Lapas Pekanbaru. AS Law Firm Layangkan Somasi
Poster konferensi pers "Menelisik Perpres No.5 Tahun 2025: Satgas PKH Menertibkan Siapa?" yang digelar oleh Aliansi Petani Jambi Menggugat, menampilkan narasumber dari WALHI, KPA, Serikat Tani, dan Persatuan Petani Jambi.

Berita Utama

Perpres Penertiban Kawasan Hutan Tuai Protes: Petani Jambi Menggugat, “Kami Butuh Pupuk, Bukan Intimidasi”