Breaking News

Home / News / Pandeglang

Selasa, 21 April 2026 - 15:46 WIB

Keluarga Siswa dan Penyelenggara Program Jelaskan Kejadian,  “Keluhan Kesehatan Bukan Disebabkan oleh MBG”

PANDEGLANG , warta- kota.com

Klarifikasi dan penjelasan telah disampaikan oleh pihak keluarga siswa yang sempat dilaporkan mengalami keluhan kesehatan, serta pengelola penyedia jasa pelayanan pangan, menyusul beredarnya informasi mengenai dugaan keracunan makanan yang menimpa dua orang siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukajadi 1, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Dari penjelasan yang disampaikan, terungkap bahwa keluhan yang muncul diduga disebabkan oleh faktor lain dan bukan berasal dari makanan yang disalurkan melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagai penyedia layanan makanan untuk program tersebut, SPPG Carita Banjarmasin melalui Lisa Alfiyani, S.T. yang bertindak sebagai tenaga ahli gizi di lembaga tersebut, memberikan penjelasan secara rinci mengenai seluruh rangkaian proses penyediaan dan penyaluran makanan yang telah dilaksanakan. Ia menegaskan bahwa seluruh kegiatan tersebut telah disusun dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku demi menjamin keamanan dan kualitas pangan yang disajikan kepada para penerima manfaat.

Secara keseluruhan, program ini ditujukan bagi 1.782 orang penerima manfaat yang tersebar di sembilan lembaga pendidikan di wilayah tersebut, meliputi: RA Almunawarah sebanyak 48 orang, TK Kenanga sebanyak 38 orang, TK Pembina sebanyak 51 orang, SDN Banjarmasin 1 sebanyak 79 orang, SDN Banjarmasin 2 sebanyak 127 orang, SDN Carita 1 sebanyak 190 orang, SDN Carita 2 sebanyak 47 orang, SDN Sukajadi 1 sebanyak 147 orang, serta SMAN 15 Pandeglang sebanyak 350 orang siswa,” jelasnya pada
Selasa malam, (21/4/2026) saat dikonfirmasi media.

Dalam pelaksanaannya, pihak SPPG Carita Mandiri melakukan proses penyediaan makanan dimulai dengan tahap persiapan yang direncanakan secara matang dan memperhatikan aspek kebersihan serta kesehatan. Jenis hidangan yang disajikan pada hari tersebut terdiri dari kentang goreng, dimsum, tahu goreng, kol rebus, dan buah salak, yang disusun dengan mempertimbangkan nilai gizi dan keamanan konsumsi bagi anak-anak.

Sebelum makanan disalurkan ke setiap lembaga pendidikan, menurutnya telah dilakukan serangkaian pemeriksaan menyeluruh yang meliputi pengecekan jumlah paket makanan, kesesuaian jenis hidangan dengan daftar menu yang telah ditetapkan, serta penilaian terhadap kondisi fisik makanan itu sendiri. Pengecekan ini juga mencakup pengukuran suhu penyimpanan dan penyaluran yang diatur sedemikian rupa agar tetap berada dalam batas aman sesuai dengan ketentuan keamanan pangan yang berlaku.

Baca Juga  Terkait Dugaan Pungli di Sektor Industri Pariwisata dan Parkir Ilegal, LSM KPKB Minta Kejari Lebak Segera Panggil Para Terduga Pelaku.

“Seluruh makanan yang kami olah dan salurkan dipastikan berada dalam kondisi yang layak dikonsumsi dan aman bagi kesehatan. Kami juga melaksanakan pemantauan secara langsung di setiap tahapan kegiatan, mulai dari proses pengolahan hingga penyerahan kepada pihak sekolah, guna memastikan bahwa pendistribusian berjalan dengan tertib, aman, dan tepat sasaran. Hingga seluruh proses selesai, tidak ditemukan kendala yang berarti, dan seluruh makanan diterima dalam keadaan baik oleh para siswa. Kami menjamin bahwa pelaksanaan kegiatan ini telah disusun secara terstruktur dan dipantau secara ketat sehingga dapat memberikan manfaat yang nyata dan aman bagi seluruh penerima manfaat,” tegas Lisa Alfiyani.

Sementara itu, penjelasan juga disampaikan oleh pihak keluarga siswa yang sempat menjadi sorotan dalam pemberitaan tersebut. Ade Kusnadi (52 tahun), yang merupakan paman dari Mariska, siswa kelas IV SDN Sukajadi 1, memberikan keterangan terkait kondisi yang sebenarnya terjadi serta latar belakang munculnya keluhan kesehatan yang dialami oleh keponakannya tersebut.

Dalam penuturannya, Ade Kusnadi menjelaskan bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab penuh mengurus kehidupan sehari-hari Mariska, mengingat siswa tersebut merupakan anak yatim yang sudah tidak memiliki ayah, sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Tangerang dan hanya dapat pulang dalam waktu-waktu tertentu. Ia menyampaikan bahwa informasi yang sempat beredar mengenai dugaan keracunan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

“Berdasarkan keterangan yang kami terima dari pihak sekolah, pada hari Selasa, 21 April 2026, sekitar pukul 09.00 WIB, Mariska dan satu orang temannya sempat mengeluh merasa lemas dan mengalami sakit perut. Namun, setelah kami memeriksa dan menanganinya secara langsung, ternyata keluhan tersebut tidak disebabkan oleh makanan yang disediakan di sekolah,” kata Paman korban dikonfirmasi warta-kota.com.

Saat ini, menurut penuturan dari Paman korban kondisi siswa telah berangsur membaik, dan ia telah dinyatakan sehat serta dalam keadaan sehat walafiat. “Saat ini, Mariska berada di kediaman mertua kami dalam keadaan sehat dan aktif kembali seperti biasa,” jelas Ade Kusnadi.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan fakta penting yang menjadi penyebab utama keluhan kesehatan yang dialami keponakannya tersebut. Dijelaskan bahwa pada pagi hari kejadian, Mariska berangkat ke sekolah dalam keadaan belum sempat sarapan pagi. Sebelum masuk ke dalam lingkungan sekolah, siswa tersebut diketahui membeli es dan mengonsumsi makanan jajanan yang jenis dan keamanannya tidak diketahui secara pasti oleh pihak keluarga. Kondisi perut yang kosong serta kemungkinan kandungan bahan dalam makanan yang dikonsumsi tersebut diduga menjadi pemicu timbulnya rasa sakit perut, mual, dan keluhan lainnya yang sempat muncul.

Baca Juga  Harley-Davidson Luncurkan Motor Baru: Harga Terjangkau, Mesin Lebih Kecil

“Jadi intinya, keluhan yang dirasakan itu terjadi bukan karena makanan yang diberikan di sekolah, melainkan karena kebiasaan makan dan jenis makanan yang dikonsumsi di luar jam makan yang telah diatur. Kami bersyukur kondisi keponakan kami sudah pulih kembali dan tidak menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius,” tambahnya.

Tanggapan juga disampaikan oleh Cecep Saepulbahri, selaku Ketua DPC Organisasi Masyarakat Badak Banten Perjuangan Kabupaten Pandeglang yang menilai bahwa kejadian ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi seluruh pihak yang terkait. Ia menekankan bahwa makanan merupakan kebutuhan yang sifatnya sensitif terhadap kondisi tubuh, sehingga perlu adanya perhatian yang sama besar dari berbagai pihak, baik pengelola penyedia makanan, pihak sekolah, maupun keluarga siswa.

“Kita tidak dapat serta-merta menyimpulkan bahwa setiap keluhan kesehatan yang muncul setelah mengonsumsi makanan berarti disebabkan oleh kualitas makanan tersebut. Bisa jadi, kondisi tersebut muncul karena siswa memang sudah memiliki keluhan kesehatan sebelumnya, atau karena kebiasaan makan yang tidak teratur serta konsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya. Logikanya, apabila makanan yang disalurkan tersebut memang mengandung zat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan kesehatan, maka dampaknya pasti akan dirasakan oleh sebagian besar bahkan seluruh siswa yang mengonsumsinya, bukan hanya oleh satu atau dua orang saja. Oleh karena itu, kejadian ini seharusnya membuat kita semua lebih berhati-hati dan bekerja sama dalam menjaga kesehatan dan keselamatan anak-anak kita,” ungkap Cecep.

Dengan disampaikannya berbagai klarifikasi dan penjelasan tersebut, diharapkan seluruh pihak dapat memahami gambaran kejadian yang sebenarnya, sekaligus meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kebersihan, kualitas makanan, serta pola makan yang sehat dan teratur demi terwujudnya kondisi kesehatan yang optimal bagi para siswa. (@/YNA)

Share :

Baca Juga

Nasional

John L. Situmorang, S.H., M.H., Penasehat Hukum Alizar Jinggo Meminta Majelis Hakim Jatuhkan Vonis Maksimal Terhadap Eks Kadis Perkim Metro

Berita Utama Daerah

GRIB Jaya Deli Serdang Dan PAC Tanjung Morawa Siap Menangkan Yusuf Siregar

News

Jalin Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas, Polres Kepulauan Meranti Gencarkan Program Suling Emas

Pandeglang

Acara Bukber dan Silaturahmi Bersama Mitra Kerja Menghiasi Nuansa Ramadhan 1447 Hijriyah

News

Kebijakan Kominfo Kabupaten Solok Soal KerjaSama Media Tuai Kontroversi

News

Perpisahan 107 Siswa Siswi Kelas Xll MAN 2 Solok Berlangsung Dengan Penuh Haru

News

Untuk Mencegah Gangguan Keamanan Dan Ketertiban Lapas Narkotika Kelas IIA Pematangsiantar Melaksanakan Razia Insidentil
Korban perdagangan anak di bawah umur melapor ke SPKT Polda Jambi didampingi keluarga dan pendamping hukum.

Daerah

Sindikat Jual Anak di Bawah Umur Terbongkar di Jambi! Pembeli Diduga di Batam Masih Bebas Berkeliaran