Breaking News

Home / Finance

Senin, 17 November 2025 - 06:51 WIB

Outflow Asing Tekan Sektor Perbankan: Analis Ungkap Saham Pilihan

warta-kota.com – JAKARTA. Pergerakan saham-saham sektor perbankan menunjukkan tren penurunan selama sepekan terakhir. Namun, kondisi ini justru membuka peluang menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi saham secara selektif.

Pada penutupan sesi perdagangan pertama hari ini, Senin (17 November 2025), terpantau saham-saham perbankan berhasil mencatatkan penguatan secara harian. Akan tetapi, jika dilihat dalam rentang waktu satu minggu, nilai saham-saham ini cenderung mengalami penurunan. 

Sebagai contoh, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan sebesar 0,58% dalam sepekan, menjadi Rp 8.525 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) terkoreksi sebesar 0,40% dalam sepekan, menjadi Rp 2.490 per saham. 

Deretan Emiten Big Caps Semakin Bervariasi, Perhatikan Saham Rekomendasi dari Analis

Selanjutnya, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BMRI) juga mengalami penurunan sebesar 0,45% dalam sepekan, menjadi Rp 4.400 per saham. Begitu pula dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang terkoreksi sebesar 0,25% dalam sepekan, menjadi Rp 3.920 per saham.

Namun demikian, terdapat beberapa saham bank yang berhasil mencatatkan pertumbuhan. Salah satunya adalah saham BMRI yang berhasil naik 1,27% dalam sepekan, menjadi Rp 4.790 per saham. 

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, tekanan yang terjadi pada sektor perbankan terutama disebabkan oleh adanya arus keluar dana asing dari saham-saham bank besar (big banks), ditambah dengan kekhawatiran mengenai kualitas aset di segmen konsumsi.

“BBCA dan BBRI masing-masing mencatatkan *net sell* asing sebesar Rp 224 miliar dan Rp 200 miliar. BMRI menjadi satu-satunya saham yang mencatatkan *net buy* signifikan sebesar Rp 431 miliar, sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen rencana *buyback*,” jelas Abida kepada Kontan, Senin (17 November 2025). 

Baca Juga  Pentingnya Perencanaan Keuangan Matang Sebelum Berpetualang Liburan

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tekanan jual tersebut menciptakan sentimen negatif terhadap sektor perbankan secara keseluruhan, meskipun beberapa saham sempat mengalami *rebound* tipis pada sesi perdagangan terakhir.

IHSG Berpotensi Melanjutkan Pelemahan pada Kamis (19/6), Simak Saham-Saham Rekomendasi dari Analis

Dari sisi fundamental, pasar juga memberikan respons terhadap perkembangan penyaluran kredit dan kualitas aset. Hingga September, kredit mengalami pertumbuhan sebesar 7,6% secara tahunan, tetapi pertumbuhan ini tidak merata. Kredit investasi tercatat tumbuh sebesar 13% *YoY*, sementara kredit konsumsi dan modal kerja mengalami pelemahan. 

“NPL konsumsi mengalami kenaikan sebesar 33% *YoY*, terutama di KPR nonsubsidi dan apartemen. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan pada segmen kelas menengah,” ungkap Abida.

Meskipun demikian, Abida berpendapat bahwa valuasi sektor perbankan saat ini berada pada level diskon. PBV sektoral mengalami penurunan hingga 1,7 kali, atau sekitar minus dua standar deviasi dari rata-rata lima tahun. Walaupun demikian, BRI Danareksa Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi Netral untuk sektor ini.

“Penurunan valuasi lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, bukan karena adanya perubahan fundamental. Namun, kekhawatiran terkait NPL, melemahnya kredit konsumsi, dan minimnya katalis membuat kami belum secara agresif merekomendasikan sektor perbankan,” jelas Abida. 

IHSG Diproyeksikan Rebound, Perhatikan Saham-Saham Rekomendasi Analis untuk Kamis (16/10)

Menurutnya, strategi terbaik yang dapat diterapkan saat ini adalah melakukan akumulasi saham secara bertahap pada bank-bank yang memiliki likuiditas yang kuat dan kualitas aset yang terjaga.

Baca Juga  CEO Indosat (ISAT) Vikram Sinha Tambah Kepemilikan Saham

Dari sisi *risk reward*, Abida menyebutkan bahwa BBCA dan BRIS merupakan dua saham perbankan yang paling menarik untuk saat ini. 

  BBCA Chart by TradingView  

BBCA direkomendasikan untuk dibeli (*BUY*) dengan target harga Rp 11.200 atau berpotensi mengalami kenaikan sebesar 38%. Valuasi BBCA diperdagangkan pada PER FY26F sebesar 16,8 kali dan PBV sebesar 3,4 kali, dengan likuiditas CASA sebesar 83,7%, ROE sebesar 21,4%, serta kualitas aset yang stabil. Sentimen *buyback* pada harga maksimal Rp 9.200 juga menjadi penopang penting.

“Pertumbuhan *loan growth* tahun depan ditargetkan sebesar 8% – 10%. Pemangkasan BI rate memang berpotensi menekan NIM sebesar 20–30 bps, tetapi ruang pemulihan kredit akan terbuka lebih lebar,” tuturnya.

Sementara itu, BMRI dan BRIS juga masih menarik untuk diperhatikan. BMRI direkomendasikan untuk dibeli (*BUY*) dengan target harga Rp 5.000 (*upside* 10,9%), valuasi PBV sebesar 1,4 kali, ROE sebesar 17,2%, serta *dividend yield* sebesar 7,2%.

Untuk BRIS, target harga dipatok sebesar Rp 2.900 (*upside* 10%) dengan PER FY25F sebesar 15,6 kali dan PBV sebesar 2,4 kali.

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Simak Saham-Saham Rekomendasi Analis untuk Selasa (4/11)

“BRIS didukung oleh pertumbuhan pembiayaan yang solid dan ROE sebesar 16%. Risiko utamanya berasal dari perlambatan bisnis emas dan potensi kenaikan *cost of fund*,” papar Abida.

Menurutnya, tekanan jangka pendek pada sektor perbankan masih mungkin berlanjut, tetapi level valuasi saat ini memberikan peluang bagi investor jangka menengah untuk mulai masuk secara selektif.

Share :

Baca Juga

Finance

Rupiah menguat 0,16% dalam sepekan, simak proyeksinya untuk pekan depan

Finance

BP Tapera Tanggapi Risiko Rumah Subsidi Jurnalis: Ancaman PHK di Media

Finance

BUAH Stock Split: Jadwal dan Dampaknya Bagi Investor Segara Kumala

Finance

Harga Emas Antam Hari Ini Melonjak, Investasi Galeri24 Juga Ikut Naik!

Finance

IHSG Cetak Rekor 8.394, Transaksi Harian Bursa Mengalami Koreksi

Finance

Dana Kopdes Merah Putih Cair: Purbaya Ungkap Jadwal Pencairan Saat Program Siap

Finance

Anjlok 50%! Kinerja Adaro Andalan Semester I-2025: Laba Bersih Menurun Drastis

Finance

IHSG Jumat: Analisis Potensi Konsolidasi dan Rekomendasi Saham Pilihan