Breaking News

Home / Finance

Minggu, 16 November 2025 - 12:52 WIB

Waspada! Dana Asing Diprediksi Cabut Hingga 2025, Ini Saham Pilihan Analis!

“`html

warta-kota.com JAKARTA. Pergerakan modal asing menunjukkan dinamika menarik di pasar modal Indonesia. Meskipun terjadi pelepasan obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN), arus dana asing justru terlihat memasuki pasar saham pada pekan lalu.

Seperti yang kita ketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari Jumat (14/11) dengan catatan negatif. IHSG mengalami penurunan tipis sebesar 0,02%, berada di level 8,370. Secara akumulatif selama sepekan, IHSG terkoreksi sebesar 0,29%.

Berdasarkan data yang dirilis oleh RTI, walaupun IHSG mengalami penurunan mingguan, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 600,82 miliar di pasar reguler. Jika dihitung secara keseluruhan, di seluruh pasar, dana asing yang masuk mencapai Rp 4,84 triliun.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya aliran modal asing yang keluar dari pasar SBN sebesar Rp 6,33 triliun. Selain itu, tercatat juga aliran keluar dana sebesar Rp 1,39 triliun dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada pekan kedua November 2025.

Potensi Aliran Dana Asing Tetap Terbuka Menjelang Akhir Tahun 2025, Inilah Saham-Saham Pilihan Menurut Analis

Namun demikian, BI juga mencatat bahwa pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan masih mencatatkan aliran modal asing masuk atau net buy sebesar Rp 3,92 triliun di pasar saham.

Jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, dalam enam bulan terakhir, aliran dana asing yang masuk ke seluruh pasar mencapai Rp 16,18 triliun, dengan kenaikan IHSG sebesar 22,52% selama periode tersebut.

Akan tetapi, sejak awal tahun, secara keseluruhan, aliran dana asing justru menunjukkan angka keluar sebesar Rp 34,68 triliun di seluruh pasar. Meskipun demikian, IHSG masih mampu mencatatkan kenaikan sebesar 18,23% secara year to date (YTD).

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, berpendapat bahwa aliran dana asing yang keluar dari instrumen SBN sebagian besar перенаправлено ke pasar saham selama pekan lalu.

Meskipun demikian, ia memperkirakan bahwa aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham masih berpotensi terjadi hingga akhir Desember 2025, meskipun tidak dalam skala besar.

Waspadai Potensi Profit Taking, Berikut Saham-Saham Rekomendasi Analis Hingga Akhir Tahun

Hal ini disebabkan oleh adanya potensi aksi ambil untung (profit taking) di sisa tahun 2025, terutama setelah IHSG berulang kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Selain itu, mengecilnya peluang penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Desember 2025 juga menjadi faktor pendorong.

Baca Juga  JP Morgan Prediksi IHSG 10.000: Analisis Lengkap dan Faktor Pendorong

“Faktor yang dapat mengkompensasi aksi net sell secara YTD adalah kinerja emiten-emiten yang memiliki fundamental yang kuat dalam jangka panjang, serta sektor bisnis yang saat ini sedang berkembang pesat, seperti energi, properti, keuangan, dan infrastruktur,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (15/11).

Jika aliran dana asing kembali masuk dan mencatatkan net buy secara signifikan, IHSG berpotensi kembali mencetak rekor baru (ATH). Namun, proyeksi saat ini menunjukkan bahwa IHSG mulai rentan terhadap aksi profit taking setelah menembus level 8.400 beberapa waktu lalu.

Meskipun demikian, Praska memproyeksikan bahwa IHSG akan tetap berada di level 8.000 hingga akhir tahun, dengan kisaran antara 8.100 hingga 8.200.

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyampaikan bahwa angka net sell yang masih cukup besar secara YTD membatasi potensi pembalikan menjadi net buy asing yang signifikan di akhir tahun.

Performa Indeks Kompas100 Mengungguli Kinerja Blue Chip, Simak Saham-Saham Rekomendasi Analis

Risiko aksi jual bersih (net sell) juga masih tetap ada, terutama jika terjadi peningkatan volatilitas global, seperti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan, atau adanya aksi profit-taking setelah reli kuat pada beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar.

“Secara umum, sentimen hingga akhir tahun masih konstruktif, asalkan likuiditas global tetap terjaga dan Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (14/11).

Harry menambahkan, meskipun aliran dana asing secara historis berkorelasi positif dengan pergerakan IHSG, struktur pasar saat ini mengalami perubahan. Proporsi investor domestik saat ini lebih dominan.

“Oleh karena itu, IHSG masih dapat terkoreksi, meskipun investor asing mencatatkan net buy yang besar dalam satu sesi perdagangan,” jelasnya.

Dengan kondisi ini, net buy oleh investor asing menjelang akhir tahun masih mampu memberikan dukungan, terutama pada emiten-emiten dengan kapitalisasi pasar besar (big caps). Akan tetapi, aliran dana asing saja tidak menjamin IHSG akan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) yang baru tanpa partisipasi penuh dari investor domestik.

Baca Juga  Harga Tembaga Meroket: Kekhawatiran Pasokan Global Picu Kenaikan Signifikan

IHSG Diproyeksikan Cenderung Sideways, Perhatikan Saham-Saham Rekomendasi Analis, Senin (22/9)

Potensi koreksi masih tetap ada, mengingat valuasi beberapa sektor mulai mendekati rata-rata historis. Selain itu, aksi window dressing oleh investor domestik terkadang tidak seragam.

“Dampak positif dari net buy asing lebih kepada menjaga stabilitas IHSG dan mengurangi volatilitas, bukan mendorong reli yang agresif,” tuturnya.

Harry juga memproyeksikan bahwa IHSG dapat mencapai level 8.120 pada akhir tahun 2025, dengan asumsi price to earning ratio (PER) sebesar 13x.

Rekomendasi Saham

Menurut Praska, selain sektor perbankan, sektor-sektor lain yang masih menarik bagi investor asing antara lain sektor energi, minyak dan gas (migas), batubara, infrastruktur, dan barang konsumen non-primer.

Untuk saham-saham BUMN, investor asing masih akan mengincar sektor bisnis yang prospektif dengan proyeksi kinerja keuangan yang membaik dalam jangka pendek dan menengah.

“Misalnya, emiten BUMN di sektor perbankan, energi, migas, dan infrastruktur,” tuturnya.

IHSG Diproyeksikan Bergerak Mixed, Cek Saham Rekomendasi Analis untuk Senin (17/11)

Praska merekomendasikan kepada investor untuk memperhatikan saham ADRO, BMRI, PGAS, dan MAPI dengan target harga masing-masing Rp 2.100 per saham, Rp 5.000 per saham, Rp 1.850 per saham, dan Rp 1.550 per saham.

  ADRO Chart by TradingView  

Harry berpendapat bahwa di luar sektor perbankan, minat investor asing mulai menyebar ke sektor komunikasi, energi (terutama gas dan downstream oil), serta sektor selective consumer yang menunjukkan perbaikan margin.

Dari sisi sentimen, investor asing kini lebih selektif terhadap emiten dengan pertumbuhan pendapatan yang terprediksi, tata kelola yang kuat, dan likuiditas yang tinggi. Hal ini berarti bahwa tidak hanya emiten konglomerasi besar yang menjadi incaran, tetapi juga emiten mid-large caps berkualitas dengan fundamental yang kuat.

IHSG dalam Tren Bearish, Cek Saham Rekomendasi Analis, Kamis (26/6)

“Untuk emiten BUMN, ketertarikan juga tetap ada, terutama pada subsektor telekomunikasi dan perbankan,” jelasnya.

Harry merekomendasikan untuk membeli saham TLKM, ICBP, dan BBCA dengan target harga masing-masing Rp 3.900 per saham, Rp 12.800 per saham, serta Rp 9.600 per saham.

“`

Share :

Baca Juga

Finance

Harga Emas Antam dan Galeri24 Hari Ini: Turun Drastis!

Finance

Rupiah Perkasa: Menguat ke Rp 16.699, Dolar AS Tertekan!

Finance

Hilirisasi Kelapa: Rosan Roeslani Ungkap Potensi Serap 10 Ribu Pekerja

Finance

PHE Raih Sukses Besar: Obligasi Global US$1 Miliar Oversubscribed 2,4 Kali

Finance

Aturan ETF emas siap meluncur kuartal I-2026, MI bersiap bikin produk

Finance

Analis Ungkap Rumor Semen Indonesia Lepas Saham Semen Baturaja

Finance

Rekomendasi Beli Saham Emas: Harga Rp400-an, Kinerja Kuartal 1 2025 Memukau

Finance

Strategi Gates Foundation: 3 Fokus Utama 20 Tahun Mendatang Sebelum Penutupan