Breaking News

Home / Politics

Minggu, 7 September 2025 - 16:52 WIB

Xi Jinping & Putin: Ambisi Transplantasi Organ Demi Hidup Abadi?

Mungkinkah manusia mencapai keabadian melalui serangkaian transplantasi organ? Pertanyaan ini mencuat ke permukaan saat Presiden Tiongkok, Xi Jinping, berbincang dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di sela-sela perhelatan parade militer di Beijing belum lama ini.

Melalui seorang penerjemah, Putin mengutarakan kepada Xi bahwa organ tubuh manusia memiliki potensi untuk ditransplantasikan secara berulang, “sehingga seseorang dapat mempertahankan kemudaannya” meskipun usia terus bertambah.

Putin bahkan mengemukakan gagasan tentang memperlambat proses penuaan, dengan harapan manusia dapat hidup hingga usia 150 tahun.

Perbincangan tersebut diakhiri dengan tawa dari kedua pemimpin.

Namun, seberapa realistis ide tersebut, dan apakah percakapan ini mengindikasikan adanya rencana nyata dari kedua negara?

Selama ini, transplantasi organ sering dianggap sebagai solusi krusial untuk menyelamatkan jiwa.

Di Inggris Raya, transplantasi telah menjadi penyelamat bagi lebih dari 100.000 orang dalam 30 tahun terakhir, sebagaimana dilaporkan oleh NHS Blood and Transplant.

Kemajuan pesat dalam penelitian dan teknologi medis telah meningkatkan daya tahan organ yang ditransplantasikan dalam tubuh penerima.

Beberapa pasien bahkan berhasil mempertahankan fungsi ginjal hasil transplantasi selama lebih dari setengah abad.

Walau demikian, individu yang menjalani transplantasi juga menghadapi risiko dan potensi ketergantungan pada obat-obatan.

Seberapa besar risiko transplantasi organ yang dilakukan berulang kali?

Meskipun transplantasi organ dapat memperpanjang usia, terdapat batasan waktu yang perlu diperhatikan.

Masa pakai suatu organ sangat bergantung pada kesehatan donor dan penerima, serta gaya hidup yang mereka jalani dalam menjaga kesehatan.

Contohnya, ginjal dari donor yang masih hidup biasanya bertahan antara 20 hingga 25 tahun.

Namun, ginjal dari donor yang telah meninggal cenderung berfungsi selama 15 hingga 20 tahun.

Selain itu, jenis organ yang ditransplantasikan juga memengaruhi masa pakainya.

Menurut studi dari Journal of Medical Economics, rata-rata organ hati dapat bertahan selama 20 tahun, jantung selama 15 tahun, dan paru-paru sekitar 10 tahun.

Akan tetapi, diskusi antara Xi dan Putin melampaui sekadar transplantasi organ tunggal, dan mencakup kemungkinan transplantasi berbagai organ secara berulang.

Seberapa amankah hal itu?

Transplantasi satu jenis organ saja sudah melibatkan risiko signifikan.

Risiko utama adalah prosedur operasi itu sendiri, yang menempatkan pasien pada kondisi kritis.

Sebagai konsekuensi, penerima organ harus mengonsumsi obat anti-penolakan, yang dikenal sebagai imunosupresan, seumur hidup.

Baca Juga  Sanae Takaichi Berpotensi Jadi PM Perempuan Pertama Jepang: Analisis Peluangnya

Obat ini memiliki efek samping, seperti tekanan darah tinggi dan peningkatan risiko infeksi.

Bahkan dengan penggunaan obat-obatan, penolakan organ tetap mungkin terjadi karena sistem kekebalan tubuh berusaha menyerang organ baru yang dianggap sebagai benda asing.

Jika transplantasi organ dilakukan berulang kali dengan tujuan mencapai keabadian, risiko yang dihadapi tentu sangat besar.

Organ rekayasa dan sel punca

Saat ini, para ilmuwan sedang berusaha mengembangkan organ yang tidak memicu penolakan.

Salah satu pendekatan adalah menggunakan babi yang telah dimodifikasi secara genetik sebagai donor.

Transplantasi jantung dan ginjal dari babi ke manusia pernah dilakukan di Amerika Serikat.

Meskipun sempat berhasil, kedua pasien tersebut kini telah meninggal dunia.

Namun, mereka telah memberikan kontribusi penting dalam memajukan bidang xenotransplantasi, yaitu transplantasi sel, jaringan, atau organ dari satu spesies ke spesies lain.

Dengan belajar dari pengalaman, para ilmuwan terus menyempurnakan teknologi ini.

Saat ini, mereka menggunakan alat pengedit gen bernama CRISPR untuk menghilangkan gen tertentu pada babi dan menambahkan gen manusia, sehingga organ menjadi lebih kompatibel.

Baca juga:

  • Cangkok organ babi ke manusia: Mungkinkah menjadi solusi atas kekurangan stok organ global?
  • Cangkok jantung babi ke manusia berbuah kontroversi, dari masalah etis hingga agama
  • Cangkok ginjal babi ke manusia, ‘kabar baik untuk semua pasien gagal ginjal’

Organ babi dipilih karena ukurannya yang mirip dengan organ manusia. Namun, bidang ini masih sangat eksperimental.

Di sisi lain, para ilmuwan juga sedang meneliti kemungkinan memicu pertumbuhan organ baru menggunakan sel-sel tubuh manusia sendiri.

Pendekatan ini memanfaatkan sel punca, yang memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi semua jenis sel atau jaringan dalam tubuh.

Meskipun belum ada kelompok riset yang berhasil menciptakan organ manusia yang berfungsi penuh dan siap untuk ditransplantasikan menggunakan metode ini, para ilmuwan terus berupaya.

Pada tahun 2020, peneliti di UCL dan Francis Crick Institute di Inggris berhasil menciptakan kembali kelenjar timus manusia –organ vital dalam sistem kekebalan tubuh– menggunakan sel punca manusia yang direkayasa secara biologis.

Namun, penting untuk diingat bahwa semua teknologi ini bertujuan untuk mengobati penyakit, bukan untuk memperpanjang usia hidup manusia hingga 150 tahun.

Mungkinkah hidup abadi dengan transplantasi?

Pengusaha teknologi, Bryan Johnson, telah menghabiskan jutaan dolar setiap tahun untuk berupaya mengurangi usia biologisnya.

Baca Juga  Soeharto Pahlawan Nasional? Inilah 3 Berita Dunia Terkini!

Namun, ia belum pernah mencoba transplantasi organ.

Ia hanya pernah menjalani penyuntikan plasma ke tubuhnya, yang berasal dari putranya yang berusia 17 tahun.

Namun, ia akhirnya menghentikan praktik tersebut karena efeknya tidak sesuai dengan harapannya.

Selain itu, ia juga menghadapi pengawasan medis ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA).

Dr. Julian Mutz dari King’s College London menyatakan bahwa pendekatan seperti penggantian plasma sedang dieksplorasi sebagai alternatif transplantasi organ.

Namun, metode penggantian plasma ini masih bersifat eksperimental.

“Apakah strategi ini akan berdampak signifikan pada harapan hidup, terutama harapan hidup maksimum manusia, masih belum pasti. Namun, ini merupakan bidang yang menarik secara ilmiah.”

Profesor Neil Mabbott, seorang ahli imunopatologi dari Roslin Institute, University of Edinburgh, berpendapat bahwa batas usia maksimum manusia adalah sekitar 125 tahun.

Ia menyebutkan bahwa orang tertua yang pernah tercatat adalah seorang wanita Prancis bernama Jeanne Calment, yang hidup hingga usia 122 tahun –dari tahun 1875 hingga 1997.

Prof. Mabbott menjelaskan bahwa organ yang rusak dan sakit dapat diganti, tetapi tubuh secara keseluruhan menjadi kurang tangguh seiring bertambahnya usia.

“Kita menjadi kurang efektif dalam merespons infeksi, dan tubuh menjadi lebih rapuh, rentan terhadap cedera, dan sulit untuk pulih.”

Menurutnya, stres, trauma, dan dampak dari operasi transplantasi, ditambah dengan penggunaan obat imunosupresan, akan memperburuk kondisi pasien di usia lanjut.

Ia menyarankan agar fokus lebih diberikan pada masa-masa ketika kesehatan dapat dijaga dengan baik, daripada hanya memperpanjang umur.

“Hidup lebih lama tetapi menderita berbagai penyakit yang menyertai penuaan dan keluar-masuk rumah sakit untuk transplantasi jaringan lain, kedengarannya bukan cara yang menarik untuk menghabiskan masa pensiun saya!” pungkas Prof. Mabbott.

  • Transplantasi tinja membantu mengatasi penyakit kronis seorang pria Inggris
  • Cangkok ginjal babi ke manusia, ‘kabar baik untuk semua pasien gagal ginjal’
  • Kontroversi cangkok jantung babi ke manusia, dari masalah etis hingga agama
  • Orang Singapura makin berumur panjang, apa rahasianya?
  • Inikah cara mencurangi kematian? Kesempatan hidup kembali senilai Rp3 miliar
  • Pola makan dan diet di balik rahasia panjang umur warga Okinawa Jepang

Share :

Baca Juga

Politics

Tanggapan Ketua KWI Soal Kontroversi Paus Leo XIV

Politics

Maria Machado, Tokoh Oposisi Venezuela, Kandidat Kuat Peraih Nobel Perdamaian

Politics

Kuntadi Ditunjuk Prabowo Pimpin Badan Pemulihan Aset Kejagung

Politics

Komisi I DPR Tanggapi Dugaan Intimidasi Mahasiswa UII yang Gugat UU TNI

Politics

Biaya Haji 2026 Disetujui: BPIH Turun Jadi Rp 87,4 Juta!

Politics

Gubernur Sulut YSK Dengar Arahan Presiden Prabowo di Pertemuan BI 2025

Politics

Agus Suparmanto Nahkodai PPP: Kronologi Lengkap Pemilihan Ketua Umum

Politics

Para Pemimpin Eropa Sambut Paus Leo XIV: Harapan Damai di Tengah Krisis