Breaking News

PMKRI Cabang Kota Semarang Gelar Aksi Simbolik Tolak Kenaikan PPN 12%

Warta-kota.com || Jawa Tengah – Gerakan mahasiswa di Kota Semarang, Jawa Tengah kembali melakukan aksi menyuarakan suara rakyat.

Aksi kali ini digelar di persimpangan lampu merah di dekat Mapolda Jawa Tengah pada hari Senin (30/12/2024).

“Lampu merah adalah locus mata pencaharian masyarakat miskin kota, ada pengamen, badut, dan mereka semua terdampak terhadap kenaikan pajak kali ini,” ungkap Andreas Kevin Patola, Ketua Presidium PMKRI Cabang Semarang.

Menurut Natanael koordinator aksi, mengadakan aksi di persimpangan lampu merah ini menandakan sebagian besar dari rakyat miskin kota yang bermata pencaharian di persimpangan lampu merah ini tidak akan bisa mendapat mata pencahariannya lagi karena sebagian besar dari masyarakat mengalami dampak dari kenaikan PPN 12 % ini.

Peserta aksi membawa spanduk besar dengan tulisan Tolak PPN 12% yang dibentangkan sebagai makna perlawanan terhadap kebijakan pemerintah terkait kenaikan PPN 12 % yang rencananya akan mulai diberlakukan pada tahun 2025.

Baca Juga  Pekanbaru Kembali Ramai dengan Aktivitas Perjudian Berkedok Gelanggang Permainan (Gelper)

Selain itu, mereka juga mengenakan pit hitam dan topi natal.

Pit hitam dan topi natal adalah simbol kebusukan penguasa.

“Pit hitam dan topi natal adalah simbol kebusukan penguasa, ia berusaha baik membujuk rakyat agar setuju kenaikan PPN. Namun, setelah PPN naik rakyat dicekik, dibiarkan, bahkan cenderung dibuang,” ujar Andreas.

Lebih lanjut Andreas mengatakan bahwa hal ini sama seperti perilaku pit hitam dalam sejarah perbudakan abad 17-18.

Menurut Andreas, memberi kado kenaikan pajak alih-alih untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Namun, digunakan untuk korupsi demi kepentingan pribadi.

Hal ini terbukti dari vonis hukuman Harvey Moeis, Andreas bahkan menduga agaknya hukum di Indonesia bisa dibeli.

Aksi simbolik ini juga membagikan selembaran brosur sebagai kado yang dibagikan.

“Ini merupakan representasi pekerja formal mengenai target, menghabiskan tenaga, waktu untuk bekerja. Namun, kebutuhan uang makan, sekolah anak, kehidupan sehari tak cukup karena kenaikan PPN mencekik mereka,” lanjutnya.

Baca Juga  Jokowi Minta ASEAN Tangani Masalah Muslim Rohingya di Rakhine State

“Tentu ini tak hanya dialami oleh pekerja formal, semua buruh bahkan pekerja non formal juga akan mengalaminya, terkhusus kelompok masyarakat yang termarjinalkan semakin terdesak,” imbuhnya.

Aksi simbolik depan lampu merah menandakan penting bagi kita elemen masyarakat miskin kota untuk bersama-sama menolak PPN 12% dan mendesak pemerintah memberikan kado sebaliknya, yaitu membuat Perppu pembatalan kenaikan PPN 12%.

“Kami tantang pemerintah Prabowo agar tidak omon-omon kali memang benar ingin membela rakyat,” tegasnya Andreas.

Selain menyuarakan penolakan kenaikan PPN 12%, aksi PMKRI Cabang Semarang ini juga mendesak agar putusan banding kasus korupsi Harvey Moeis, diperberat dan diperbesar dendanya senilai 80T untuk menutupi defisit APBN akibat program makan siang dan susu gratis, sehingga tak perlu menaikkan pajak dan membebani masyarakat.

“Kami tantang Presiden Prabowo untuk mengesahkan Perppu, ditunggu kado tahun barunya untuk masyarakat miskin, jenderal,” pungkasnya Andreas.

(Red)

Share :

Baca Juga

News

MBG di Kecamatan Labuan Berjalan Lancar, Meski Ada Hal yang Perlu Disempurnakan

Wilayah Hukum Nasional

Reda Manthovani JAM-Intelijen : “Kehadiran Rumah Adhyaksa Banten Bukti Kejaksaan Peduli Masyarakat Banten”

Berita Utama

Sekda Medison Apresiasi Pengabdian ASN dalam Peringatan Hari Besar KORPRI 2025

Berita Utama

Polsek Bayung Lencir Gerak Cepat Kelokasi Tempat Kebakaran Sumur Minyak Tradisional Didesa Kali Berau

News

Dojo INKANAS IX Koto Sungai Lasi Di Bawah Bimbingan Bripka Nando Raih 13 Medali Di Festival Karate Antar Dojo Se-Kota/Kabupaten Solok

News

BERSAMA BNN, LAPAS SIBOLGA MUSNAHKAN BARANG HASIL RAZIA

Berita Utama

Pemkab Solok Ikuti Rakor Alokasi Tambahan TKD dan Pemanfaatannya Secara Daring

News

Ketua KONI Sumbar Kunjungi Kabupaten Solok, Dorong Kebangkitan Porprov