Breaking News

Home / Weather

Sabtu, 29 November 2025 - 22:52 WIB

Pakar ITB Ungkap Penyebab Banjir Sumatera: Analisis Lengkap

warta-kota.com – Para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), turut memberikan penjelasan mengenai berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya banjir di Indonesia.

Bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sekitarnya sejak 24 November 2025 lalu, telah mengakibatkan kerusakan yang signifikan.

Menurut data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 27 November 2025, tercatat sebanyak 34 orang meninggal dunia, dan 52 warga masih dinyatakan hilang.

Selain itu, ribuan penduduk terkena dampak dan terpaksa mengungsi. Jumlah ini pun berpotensi untuk bertambah seiring berjalannya waktu.

Dr. Muhammad Rais Abdillah, pakar ITB sekaligus Ketua Program Studi Meteorologi dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, menjelaskan bahwa karakteristik curah hujan di wilayah tersebut memang berbeda dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Beliau berpendapat bahwa fenomena ini merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor atmosfer, kondisi geospasial, serta daya tampung wilayah.

Baca juga: 5 Jurusan Kuliah Cepat Balik Modal karena Gaji Tinggi, Ada 1 Jurusan IPS

Curah hujan lebih dari 300 milimeter

“Wilayah Tapanuli saat ini memang sedang mengalami musim hujan. Sumatera bagian utara memiliki pola curah hujan sepanjang tahun atau bahkan dua puncak musim hujan dalam setahun, dan saat ini kita berada di salah satu puncaknya,” ungkapnya, seperti yang dikutip dari laman ITB pada Sabtu (29/11/2025).

Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa curah hujan selama periode tersebut tergolong sangat deras. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan dan laporan dari berbagai media, beberapa wilayah mencatat curah hujan melebihi 150 milimeter.

Bahkan, ada stasiun BMKG yang mencatat curah hujan hingga lebih dari 300 milimeter, yang termasuk dalam kategori curah hujan ekstrem.

Sebagai gambaran, curah hujan ekstrem di Jakarta pada awal Januari 2020, yang menyebabkan banjir besar di Jabodetabek, mencapai sekitar 370 milimeter dalam satu hari.

Kondisi di Sumatera Utara pada akhir November 2025 ini memiliki karakteristik curah hujan yang hampir serupa dengan peristiwa Jakarta 2020. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dampak banjir dan longsor yang terjadi sangat luas dan signifikan.

Ciri khas pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar Sumatera

Menurut Rais, fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem ini menunjukkan adanya ciri khas pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Sumatera bagian utara.

Baca Juga  Waspada Hujan Deras! BMKG: Jakarta Sore Ini Berpotensi Basah

“Pada tanggal 24 November, sudah terlihat adanya sistem yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, kita menyebutnya sebagai vortex, meskipun pada saat itu masih berupa bibit dan matanya belum terlihat jelas,” jelasnya.

Fenomena tersebut kemudian berkembang menjadi sistem Siklon Tropis Senyar, yang terbentuk di sekitar Selat Malaka dan bergerak ke arah barat.

Meskipun tidak sekuat siklon yang terjadi di Samudra Hindia atau Pasifik, sistem ini cukup kuat untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas jangkauan presipitasi di Sumatera bagian utara.

Tidak hanya itu, Rais juga mengungkapkan adanya pengaruh fenomena atmosfer skala meso dan sinoptik, seperti vortex siklonik dan indikasi cold surge vortex.

Yaitu hembusan angin kencang dari utara yang membawa massa udara lembap serta memperkuat pembentukan awan hujan.

Kondisi ini memicu peningkatan intensitas presipitasi dan memperbesar risiko terjadinya banjir di wilayah Sumatera Utara.

Baca juga: Hari Ini Pengumuman Seleksi Beasiswa LPDP 2025 Tahap 2, Cek Linknya

Selain faktor atmosfer, pakar geospasial ITB berpendapat bahwa kerusakan lingkungan, perubahan tata guna lahan, dan berkurangnya daya tampung wilayah menjadi faktor penting yang memperburuk dampak banjir.

Peta tiga pola utama curah hujan di Indonesia berdasarkan studi Aldrian dan Susanto (2003), yang telah disempurnakan secara visual oleh Kadarsah (2007).

Sumatera Utara termasuk dalam Region B, yang ditandai dengan pola hujan ekuatorial dengan distribusi bimodal dan dua puncak musim hujan, yang biasanya terjadi pada periode ekuinoks sekitar bulan Maret dan Oktober.

Karakteristik ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mengalami musim hujan hampir sepanjang tahun dengan tingkat variabilitas curah hujan yang tinggi.

Secara klimatologis, wilayah Sumatera bagian utara memang sedang berada di puncak musim hujan. Berbeda dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, daerah ini memiliki distribusi hujan sepanjang tahun dengan potensi dua puncak musim hujan.

Banjir bukan cuma hujan

Sementara itu, Dr. Heri Andreas, dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB dari Kelompok Keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi Geodesi, menjelaskan bahwa banjir bukan hanya tentang curah hujan, tetapi juga tentang bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi.

“Ketika presipitasi terjadi, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai limpasan (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah,” jelasnya.

Baca Juga  Kebijakan Visa Perketat, Jumlah Mahasiswa Asing di AS Anjlok 17 Persen

Beliau menambahkan bahwa kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan penyerapan air yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang telah beralih fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi.

Ketika kawasan tersebut mengalami degradasi, kemampuan infiltrasinya menurun secara signifikan dan menyebabkan peningkatan limpasan yang jauh lebih besar.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuannya untuk menahan limpasan air. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir dengan cepat ke sungai dan memicu terjadinya banjir,” ujarnya.

Menurutnya, penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial sangat penting untuk mitigasi jangka panjang.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Beasiswa bagi 150.000 Guru dan Kurangi Beban Administratif

“Peta bahaya dan risiko banjir yang kita miliki saat ini belum optimal, karena masih terbatas oleh data geospasial yang akurat dan pemodelan yang komprehensif,” tambahnya.

Dengan pemahaman tersebut, upaya mitigasi banjir tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik.

Seperti pembangunan tanggul atau normalisasi sungai, tetapi juga harus disertai dengan pendekatan non-struktural yang lebih komprehensif.

Heri menekankan pentingnya penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, serta peningkatan akurasi data geospasial dan pemodelan banjir untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat.

Perlindungan kawasan resapan air alami seperti hutan, rawa, dan sempadan sungai dinilai sangat penting untuk menjaga kapasitas wilayah dalam menyerap air dan mengurangi limpasan.

Di sisi lain, para pakar ITB ini menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini yang tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Prediksi cuaca dan potensi bencana harus dapat diterjemahkan menjadi informasi praktis yang menjawab kebutuhan warga. Misalnya, kapan dan area mana yang berpotensi terdampak serta langkah-langkah antisipasi yang harus dilakukan.

Penguatan literasi kebencanaan, edukasi publik, dan diseminasi informasi yang efektif menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan masyarakat.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi seperti ITB, mitigasi banjir ke depan diharapkan dapat mengintegrasikan sains atmosfer, pemodelan geospasial, tata kelola lingkungan.

Serta komunikasi kebencanaan yang lebih adaptif dan berbasis data untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana.

Share :

Baca Juga

Weather

Waspada Hujan Deras! BMKG: Jakarta Sore Ini Berpotensi Basah

Weather

Jakarta Cerah Berawan, Bogor Waspada Hujan Lebat Seharian
Kasdam II/Sriwijaya meninjau kesiapan Yon TP 984 di Desa Tampang Baru, Muba, bersama penyerahan mobil operasional baru jenis double cabin Mitsubishi Triton oleh PMPB Sumsel

Berita Utama

Kasdam II/Sriwijaya Tinjau Kesiapan Yon TP 984 di Muba, PMPB Sumsel Serahkan Mobil Operasional

Weather

Banjir Sumatera: Izin Kehutanan Jadi Sorotan Utama dalam Satu Dekade

Weather

Waspada Hujan Deras: Prakiraan Cuaca BMKG untuk Jabodetabek Hari Ini

Weather

Kronologi Lengkap BMKG: Penyebab Longsor Cilacap 13 November 2025 Terungkap!