Pandeglang, warta-kota.com
Desa Teluk, sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, hari ini menjadi sorotan karena upaya inovatifnya dalam mengatasi masalah sampah.
Pemerintah Desa Teluk mengambil langkah inovatif dengan memasang pagar bambu di sekitar Jembatan Cipunten Agung, sebuah tindakan yang bertujuan untuk mencegah oknum yang tidak bertanggung jawab membuang sampah ke sungai Cipunten Agung.
” Pemasangan pagar bambu yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan Jumat Bersih ini melibatkan partisipasi dari warga dan Linmas Desa Teluk. Pagar bambu ini dipasang di sisi kiri dan kanan jembatan, masing-masing sepanjang 12 dan 6 meter,” kata Kepala Desa Teluk. Jum’at, (7/11/2025).
Kepala Desa Teluk, Sopian Hadi, menjelaskan bahwa tindakan ini diambil sebagai respons terhadap kebiasaan buruk sebagian pengguna jalan yang membuang sampah sembarangan di atas jembatan, yang kemudian mencemari Sungai Cipunten Agung dan wilayah pesisir pantai Desa Teluk.
Langkah ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali dilakukan. Sekitar dua tahun lalu, inisiatif serupa telah dilakukan oleh Kades Sopian Hadi bersama warga Teluk, dan terbukti efektif dalam mengurangi kasus pembuangan sampah di jembatan. Hal ini menunjukkan bahwa Pemdes Teluk memiliki komitmen yang kuat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Namun, yang menarik dari upaya ini adalah kombinasi antara tindakan fisik dan pendekatan spiritual. Selain memasang pagar bambu, Pemdes Teluk juga memasang spanduk dengan tulisan yang cukup unik.
“Ya Allah, sadarkanlah orang yang buang sampah ke sungai. Kalau enggak sadar, miskinkanlah. Aminnn.” Spanduk ini bukan hanya berfungsi sebagai imbauan, tetapi juga sebagai doa dan harapan agar masyarakat memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Inisiatif Pemdes Teluk ini mencerminkan keseriusannya dalam mengatasi masalah sampah. Mereka tidak hanya berfokus pada tindakan fisik seperti pemasangan pagar, tetapi juga berupaya menyentuh aspek spiritual dan moral masyarakat. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, diharapkan akan tercipta perubahan perilaku yang lebih mendalam dan berkelanjutan.
Tentu saja, menurut nya upaya ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari pihak lain. Warga dan Pemdes Teluk berharap agar Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Banten dapat memberikan bantuan berupa material pagar yang lebih kuat dan tahan lama. Dengan adanya dukungan ini, pagar tidak hanya akan berfungsi sebagai penghalang fisik, tetapi juga memberikan nilai estetika yang lebih baik dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Inisiatif Pemdes Teluk dalam menanggulangi masalah sampah adalah contoh yang patut ditiru oleh desa lain di Indonesia. Dengan menggabungkan tindakan nyata dan harapan spiritual, mereka telah menciptakan sebuah model yang inovatif dan efektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Semoga upaya ini dapat menginspirasi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih bersih dan sehat. (YNA)















