Pandeglang, warta-kota.com
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok B3 tercoreng oleh temuan serius di lapangan. Sejumlah paket menu basah yang di distribusikan dari dapur MBG Desa Cigondang terbukti dalam kondisi basi dan tidak layak dikonsumsi. Fakta ini memicu kritik tajam dari Ketua BPPKB Pac Labuan, yang menilai kejadian ini sebagai kegagalan pengendalian kualitas yang membahayakan kelompok paling rentan.
Laporan warga menunjukkan kondisi makanan yang dikirimkan sangat mengkhawatirkan. Masakan yang seharusnya bergizi justru berbau asam, berubah warna, dan memiliki tekstur yang tidak wajar—tanda nyata pembusukan sebelum sampai ke penerima. Endang Golok, warga setempat dan juga Ketua BPPKB Pac Labuan menyatakan keprihatinan mendalam karena makanan yang disalurkan bukan lagi sumber nutrisi, melainkan potensi penyebab gangguan kesehatan. Ketidaksesuaian kualitas ini menegaskan adanya celah fatal dalam mata rantai pengadaan, pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman.
Ketua BPPKB menyoroti kelalaian dalam pemenuhan standar keamanan pangan. Faktor krusial seperti pengaturan suhu penyimpanan, ketepatan waktu pengolahan, dan durasi pengiriman terbukti tidak diawasi secara ketat. Ia menuntut peninjauan ulang terhadap seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP). Tanpa pemeriksaan bahan baku yang ketat, pelatihan intensif bagi petugas, dan sistem pengaduan yang berfungsi, program ini dikhawatirkan hanya menjadi rutinitas tanpa makna, bahkan merugikan.
Ibu Ainun, Ketua Kader Desa Cigondang secara tegas membenarkan temuan tersebut. Menu sayur kacang buncis hingga telur bumbu yang dikirimkan dinyatakan sudah basi, sehingga harus dibuang dan menjadi mubazir.
“Kejadian ini harus menjadi pelajaran nyata. Dapur MBG Desa Cigondang wajib memperbaiki kualitas masakan dan menjamin sterilitas bahan, alat, serta tempat memasak agar kesalahan serupa tidak terulang,” tegasnya pada Selasa, 2 Juni 2026.
Kekhawatiran serupa disampaikan langsung oleh penerima manfaat berinisial Eh. Ia menceritakan keterkejutannya saat menerima paket pada hari Selasa.
“Saya hampir memberikan makanan itu kepada anak saya. Beruntung saya periksa dulu dan mendapati makanannya sudah basi. Kalau sudah dimakan, pasti anak saya sakit perut. Ini sangat berisiko,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Kritik warga dan Ormas BPPKB menjadi sinyal keras bahwa program MBG tidak boleh sekadar berjalan, tetapi harus berjalan dengan benar. Keamanan pangan adalah syarat mutlak. Jika standar kebersihan dan kualitas tidak dipatuhi dengan disiplin tinggi, maka tujuan mulia program ini untuk meningkatkan gizi masyarakat justru akan berbalik menjadi ancaman kesehatan yang nyata.
Sementara itu, pihak pengelola Dapur SPPG Cigondang Labuan belum memberikan klarifikasinya hingga berita ini disampaikan. (#/YNA)















