Breaking News

Home / Science

Jumat, 24 Oktober 2025 - 05:51 WIB

Waspada! Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik: Ini Dampaknya Bagi Kesehatan

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fakta mencengangkan: air hujan di Jakarta kini mengandung partikel mikroplastik.

Penemuan ini menjadi alarm serius bagi Jakarta sebagai kota metropolitan dengan tingkat aktivitas tinggi dan penggunaan plastik yang masif, menunjukkan bahwa pencemaran plastik kini bahkan datang dari langit.

Penelitian yang digagas BRIN ini dilakukan selama periode 12 bulan di berbagai lokasi di Jakarta. Profesor Riset BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa konsentrasi partikel mikroplastik dalam air hujan bervariasi, berkisar antara tiga hingga 40 partikel per meter persegi per hari.

Ia menambahkan bahwa air hujan, yang seharusnya murni dan bersih, kini bertindak sebagai media pembawa partikel plastik berukuran mikroskopis.

Baca juga: Menteri LH Soal Hujan Mikroplastik: Jabodetabek Buang Sampah Ditumpuk Saja, Tak Ditutup

“Dalam hitungan detik, mikroplastik yang berada di udara dapat larut dan terbawa turun bersama air hujan. Oleh karena itu, kami menyebutnya sebagai air hujan yang sudah ‘terkontaminasi’,” jelas Reza dalam diskusi bertajuk “Isu Mikroplastik Dalam Air Hujan dan Fenomena Panas Ekstrem” yang diselenggarakan di Balai Kota DKI Jakarta, pada Jumat, 24 Oktober 2025.

Sumber utama mikroplastik yang mencemari udara berasal dari serat pakaian sintetis, seperti polyester dan nylon, serta penggunaan plastik sekali pakai. Partikel-partikel halus dari material tersebut sangat mudah terlepas ke udara, terutama saat proses pencucian, pembakaran, atau penguraian akibat paparan sinar matahari.

Reza menegaskan bahwa penyebaran mikroplastik sangat erat kaitannya dengan praktik pengelolaan sampah dan aktivitas manusia di wilayah perkotaan.

Reza menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di Jakarta sebenarnya sudah cukup baik, dengan tingkat pengangkutan sampah dari sumbernya mencapai lebih dari 95 persen.

Namun, di wilayah-wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Bekasi, Banten, dan Purwakarta, tingkat pengumpulan sampah masih di bawah 50 persen.

Baca Juga  Reaksi Roy Marten: Gisella Anastasia Dekat dengan Pria Baru

“Masih banyak warga yang melakukan pembakaran sampah secara terbuka, dan dari proses inilah mikroplastik dilepaskan ke udara,” terangnya.

Baca juga: Bahaya Mikroplastik di Hujan Jakarta: Picu Penyakit Kronis dan Bahayakan Ibu Hamil

Partikel mikroplastik memiliki karakteristik seperti “spons,” yang memungkinkan mereka menyerap bahan kimia berbahaya dan mikroorganisme.

Jika terhirup oleh manusia, partikel-partikel ini berpotensi menyebabkan iritasi atau peradangan, dan bahkan dapat memasuki aliran darah jika ukurannya kurang dari 50 mikron. Fenomena hujan mikroplastik ini juga telah terdeteksi di 18 kota besar lainnya di Indonesia.

Semakin tinggi kepadatan penduduk dan aktivitas industri suatu wilayah, semakin tinggi pula konsentrasi mikroplastik yang ditemukan. Sebagai contoh, konsentrasi mikroplastik di Muara Angke mengalami peningkatan signifikan, mencapai lima kali lipat antara tahun 2015 dan 2022.

Sebagai solusi jangka panjang, Reza menganjurkan pengembangan bioplastik alami dan penelitian mengenai mikroba yang mampu mendegradasi plastik.

“Temuan ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Mikroplastik adalah jejak aktivitas manusia yang tidak bisa kita abaikan. Bahkan air hujan pun kini menyampaikan pesan bahwa bumi membutuhkan perhatian dan perawatan kita,” ujarnya.

Dwi Atmoko, Fungsional Madya BMKG, menambahkan bahwa mikroplastik termasuk dalam kategori aerosol padat atau cair yang tersuspensi di udara. Partikel-partikel ini dapat bergerak secara vertikal maupun horizontal mengikuti pola angin, dan kemudian terbawa turun bersama hujan melalui proses deposisi basah.

Ia menjelaskan bahwa aerosol di atmosfer dapat mencapai ketinggian hingga 15 kilometer, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh pengamatan satelit CALIPSO. Namun, saat kondisi udara tenang, partikel-partikel tersebut akan kembali jatuh ke permukaan bumi.

Baca juga: Kenapa Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik? Begini Kata Peneliti BRIN dan IPB

Baca Juga  Misteri Alam Semesta: Bukti Simulasi Komputer?

“Mikroplastik yang jatuh di Jakarta tidak serta merta berasal dari Jakarta. Bisa jadi terbawa oleh angin dari wilayah lain,” kata Dwi.

Musim kemarau dan praktik pembakaran sampah terbuka menjadi faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan konsentrasi mikroplastik di udara.

“Saat udara panas dan kering, partikel-partikel tersebut lebih mudah terangkat ke atmosfer dan kemudian kembali turun bersama hujan,” imbuh Dwi.

Asep Kuswanto, Kepala DLH DKI Jakarta, menyampaikan apresiasi atas temuan BRIN. Menurutnya, temuan ini menjadi pengingat bahwa permasalahan polusi plastik telah memasuki fase yang kompleks.

“Kami mendorong peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik,” ujar Asep.

DLH DKI telah melakukan pemantauan mikroplastik di Teluk Jakarta dan sungai-sungai sejak tahun 2022, dengan hasil kelimpahan mencapai 9.891–12.489 partikel per meter kubik.

Baca juga: Begini Cara Pemprov DKI Atasi Mikroplastik di Langit dan Air Hujan Jakarta

Rahmat Aji Pramono, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinas Kesehatan DKI Jakarta, menekankan bahwa mikroplastik berpotensi menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan dan dapat memasuki organ-organ vital tubuh jika ukurannya sangat kecil. 

Kelompok-kelompok rentan, seperti ibu hamil, perokok, dan penderita penyakit kronis, memiliki risiko yang lebih tinggi.

Rian Sarsono, Plt. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta, memandang temuan BRIN sebagai peringatan dini, bukan sebagai ancaman yang menakutkan. Ia menyarankan penerapan gaya hidup bersih dan sehat untuk meminimalkan risiko paparan mikroplastik, serta menekankan pentingnya operasi modifikasi cuaca untuk mengatur curah hujan.

“Hujan memang membawa mikroplastik, tetapi juga berperan dalam membersihkan udara dari partikel-partikel berbahaya. Kita harus senantiasa menjaga keseimbangan alam,” pungkas Rian.

Share :

Baca Juga

Science

BMKG Ungkap Sumber Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta: Fakta Terbaru

Science

Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Aceh: Analisis Lengkap BMKG dan Dampaknya

Science

Bandung Diguncang Gempa Magnitudo 3: Waspada Dampak Guncangan!

Science

Misteri Alam Semesta: Bukti Simulasi Komputer?

Science

Gempa Guncang Maluku Barat Daya: Terkini Setelah Sumenep, Waspada!

Science

Meteor Jatuh di Cirebon: Penjelasan Lengkap BRIN tentang Dampaknya

Science

Gempa Bumi Guncang Jakarta: Lampu Bergoyang, Getaran Terasa Kuat