Pandeglang, warta-kota.com Warga Labuan, Pandeglang- Banten, menggelar tradisi ritual tahunan Khaul Kalembak di Masjid Agung Al Ittihad pada Kamis, (24/4/2025).
Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi momen peringatan atas tragedi dahsyat erupsi Gunung Krakatau pada tahun 1883 silam, sekaligus sarana edukasi mitigasi bencana bagi generasi muda.
Ritual yang telah berjalan lebih dari satu abad ini mendapat sorotan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta media nasional, yang mendorongnya untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak benda di Indonesia.
Acara yang dipimpin oleh H. Mochammad Salwa, keturunan langsung korban erupsi Krakatau ini diisi dengan doa bersama, serta pembacaan sejarah bencana dan pujian kepada Sang Pencipta.

“Khaul Kalembak bukan sekadar tradisi, tapi pengingat bahwa kita hidup di wilayah rawan bencana. Kewaspadaan dan persatuan adalah kunci keselamatan.” ucap H.Mochammad Salwa.
Khaul Kalembak, dalam bahasa Sunda Labuan berarti “terhantam gelombang besar,” yang merujuk pada tsunami setinggi 30 meter yang telah meluluh lantakkan Kampung Labuan pasca-erupsi Krakatau pada 26-27 Agustus 1883.
Ledakannya yang dahsyat terdengar hingga 4.800 km, debu vulkaniknya menggelapkan langit selama empat hari, dan menewaskan 36.000 jiwa secara global, dan 3600 di antaranya tercatat sebagai korban di Labuan. Mesjid kebanggaan warga kala itu pun musnah diterjang gelombang besar.
“Ritual ini adalah bentuk “collective memory” warga. Meski korban langsung sudah tiada, cucu dan cicit mereka tetap menjaga tradisi ini agar sejarah tak terulang,” ujar peneliti BRIN yang hadir dalam acara.
BRIN menilai, Khaul Kalembak layak diangkat sebagai warisan budaya. Karena memadukan nilai spiritual, kearifan lokal, dan kesadaran bencana.
Selain doa, acara ini menjadi medium edukasi tentang ancaman Krakatau yang masih aktif, termasuk erupsi 2018 lalu. Warga diajak memetakan jalur evakuasi dan menyimpan dokumen penting di tempat aman.
“Kami ingin anak-anak paham, merawat tradisi ini berarti juga siap siaga menghadapi bencana,” tambah Salwa.
Ritual yang berlangsung pukul 14.30 hingga jelang azan Ashar ini dihadiri lintas generasi, termasuk masyarakat non-korban.
“Ini bukti solidaritas, bencana bisa datang kapan saja dan kita harus bersatu,” ujar Siti (45), salah satu peserta.
Meski telah bertahan ratusan tahun, ancaman pudarnya ritual ini nyata. Minimnya dokumentasi dan partisipasi generasi muda menjadi tantangan.
BRIN berjanji, akan mendukung pendokumentasian sejarah lisan dan integrasi Khaul Kalembak ke kurikulum sekolah.
“Kami akan mengadvokasi pengusungannya ke Kemendikbudristek,” tegas perwakilan BRIN.
Sementara itu menurut penuturan Ki Sunda, salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Labuan mengatakan bahwa Labuan kala itu adalah sebuah kampung kecil yang memiliki sebuah mesjid dengan penduduk yang lumayan banyak. Namun, saat itu mesjid yang menjadi kebanggaan hilang musnah ditelan gelombang besar tsunami.
” Tinggalah kini cucu serta cicit dari para orang tua serta buyut mereka yang menjadi korban yang hingga kini masih tetap mempertahankan ritual ini. Bahkan bukan saja oleh para keluarga korban, masyarakat lainpun ikut merayakannya. Acara ini sudah menjadi ritual ratusan tahun dan terus dilaksanakan, semoga tidak pupus dimakan zaman,” terangnya.
Sebagai penutup, H.Mohammad Salwa berpesan bahwa : “Selama laut masih beriak dan Krakatau masih berdiri, Khaul Kalembak harus tetap hidup. Ini warisan leluhur yang menyelamatkan nyawa.” tandasnya.
Reporter : yona















