warta-kota.com, Kab Solok – Sebuah video dugaan perundungan terhadap siswa sekolah dasar viral di media sosial dan menuai kecaman publik. Peristiwa tersebut diduga terjadi di SDN 32 Aia Batumbuk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada Senin (15/3/2026).
Video yang beredar luas itu diunggah oleh akun Facebook Amak Chichay Aliyo Kiara dan telah ditonton lebih dari 25 ribu kali. Dalam rekaman tersebut terlihat seorang siswa berinisial R (12) yang diketahui merupakan anak yatim menjadi korban perundungan oleh beberapa teman sekolahnya di dalam ruang kelas.
Belakangan Diketahu kejadian Perundungan terjadi pada Kamis pagi 12 Maret 2026.
Dalam video itu tampak sejumlah siswa yang masih mengenakan seragam sekolah dan jaket melakukan Perundungan Terhadap korban. R terlihat duduk tertunduk di lantai menahan sakit, sementara beberapa pelaku melakukan tindakan yang mengarah pada kekerasan, termasuk pukulan ke arah kepala korban.
Ironisnya, sejumlah siswa lain yang berada di dalam ruangan hanya menyaksikan kejadian tersebut bahkan terdengar tertawa tanpa ada upaya menghentikan atau menolong korban.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar terkait pengawasan di lingkungan sekolah. Terjadinya aksi perundungan di dalam ruang kelas, yang notabene berada di lingkungan pendidikan resmi, dinilai menunjukkan lemahnya pengawasan dari pihak guru maupun manajemen sekolah.
Banyak pihak menilai kejadian ini tidak semestinya terjadi apabila pengawasan di lingkungan sekolah berjalan maksimal. Aktivitas belajar mengajar di ruang kelas seharusnya berada dalam kontrol guru atau tenaga pendidik, sehingga tindakan kekerasan antar siswa dapat dicegah sejak dini.
Selain itu, kasus ini juga dinilai menjadi cerminan lemahnya upaya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. Kampanye anti-bullying yang selama ini sering digaungkan oleh dunia pendidikan dinilai belum berjalan efektif di lapangan.
Kritik juga diarahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Solok yang dinilai perlu lebih serius dalam melakukan pembinaan, pengawasan, serta edukasi kepada sekolah-sekolah mengenai pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Elafki belum memberikan tanggapan resmi terkait viralnya video tersebut. Media warta-kota.com telah mencoba mengonfirmasi melalui pesan WhatsApp, namun belum mendapat jawaban.
Viralnya video itu memicu berbagai reaksi dari warganet. Kolom komentar unggahan dipenuhi kecaman serta desakan agar pihak sekolah dan pemerintah daerah mengambil langkah tegas.
Salah satu komentar datang dari akun Sukma Yarta Sofyan yang menilai para pelaku perlu diberikan sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kalau menurut ambo, anak-anak pelaku buli ko memang harus di agiah lo sanksi yang bisa dicaliak seluruh kawan sekolahnyo, sehingga kejadian itu indak terulang baik dek pelaku itu maupun siswa yang lainnyo,” tulisnya.
Komentar lain dari akun Yenta Sriyanti juga mendesak agar kasus tersebut diproses secara serius dengan menuliskan, “Usut dan tangkap.”
Perhatian juga datang dari istri Bupati Solok Jon Pandu, yakni Kurniati Tipasatrio, yang turut memberikan komentar pada unggahan tersebut dengan menuliskan “Astagfirullah” disertai tiga emotikon menangis sebagai bentuk keprihatinan.
Sementara itu, ibu korban, Rospelni, saat dikonfirmasi wartawan melalui sambungan telepon WhatsApp menjelaskan bahwa pihak sekolah melalui guru dan komite sekolah telah berupaya melakukan mediasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Namun proses perdamaian belum dapat dilaksanakan secara penuh karena para siswa yang diduga sebagai pelaku saat ini tengah menjalani libur Lebaran.
Menurut Rospelni, saat ini pihak keluarga lebih memprioritaskan pemulihan kondisi mental dan psikologis anaknya. Keluarga berusaha mengembalikan rasa percaya diri R agar tetap berani kembali ke sekolah.
“Fokus kami sekarang memulihkan mental dan psikologis R dulu. Kami ingin dia kembali percaya diri untuk tetap sekolah,” ujar Rospelni.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan di Kabupaten Solok. Banyak pihak menilai, jika pengawasan sekolah dan pembinaan karakter siswa berjalan optimal, maka perundungan seperti yang terekam dalam video tersebut tidak akan terjadi secara terang-terangan di dalam kelas.
Masyarakat pun mendesak agar pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Solok segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan di sekolah, sekaligus memperkuat program pendidikan karakter dan kampanye anti perundungan agar lingkungan sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. (ZulPancer)














