Breaking News

Home / Urban Infrastructure

Selasa, 7 Oktober 2025 - 16:52 WIB

Waskita Karya Genjot Irigasi Sumsel: Proyek Rp 318,54 Miliar Dimulai!

PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengumumkan perolehan kontrak anyar dalam bidang pengembangan infrastruktur irigasi. Entitas BUMN ini secara resmi memenangkan tender untuk pengerjaan proyek Daerah Irigasi Komering sub DI Lempuing Fase 3 yang terletak di Sumatera Selatan. Nilai kontrak yang berhasil diamankan mencapai Rp 318,54 miliar.

Menurut Direktur Operasi II Waskita Karya, Dhetik Ariyanto, proyek ini merupakan kelanjutan dari inisiatif pembangunan Daerah Irigasi Komering Sub Lempuing yang sebelumnya telah ditangani pada kurun waktu 2012–2016. Ariyanto menjelaskan bahwa pembangunan sebelumnya telah berhasil mencakup area seluas kurang lebih 5.000 hektare (ha).

Dalam fase ketiga ini, lanjutnya, perusahaan akan menuntaskan pengerjaan untuk area yang tersisa seluas 8.500 ha, dari total 13.500 ha lahan irigasi yang direncanakan. “Waskita Karya merasa terhormat dapat kembali dipercaya untuk menggarap proyek irigasi yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjamin ketersediaan energi dan air. Kami berjanji untuk menyelesaikan proyek ini dengan standar kualitas yang tertinggi,” ungkapnya sebagaimana tertulis dalam keterangan resmi yang dirilis pada hari Selasa, 7 Oktober 2025.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa kelanjutan proyek ini meliputi rehabilitasi dan peningkatan Bendung Perjaya, pembangunan saluran primer dan sekunder Lempuing, serta pembangunan baru untuk saluran sekunder Blok G dan H beserta saluran drainasenya. Proyek ini merupakan bagian integral dari upaya Kementerian Pekerjaan Umum dalam memperkuat infrastruktur pertanian serta mendukung program swasembada pangan nasional.

Baca Juga  Adhi Karya Buka-bukaan: Fakta di Balik Polemik Tiang Monorel Jakarta

Ariyanto menambahkan, keberadaan daerah irigasi Komering Lempuing diharapkan mampu memacu produktivitas pertanian secara berkelanjutan. Dengan tersedianya suplai air yang memadai sepanjang tahun, para petani dapat melakukan penanaman dan panen secara teratur, bahkan selama musim kemarau.

“Sistem irigasi yang handal akan meminimalisir risiko gagal panen dan meningkatkan taraf hidup petani. Peningkatan hasil panen secara otomatis akan meningkatkan pendapatan dan nilai ekonomi lahan mereka,” paparnya.

Ia juga menuturkan bahwa pada bulan sebelumnya, Waskita juga sukses memperoleh kontrak rehabilitasi jaringan utama daerah irigasi di Banten dengan nilai sebesar Rp 415,44 miliar. Selain itu, perusahaan saat ini tengah mengerjakan sejumlah proyek irigasi strategis lainnya, termasuk Daerah Irigasi Belitang Lempuing di Sumatera Selatan serta modernisasi Daerah Irigasi Rentang, Daerah Irigasi Salamdarma, dan Daerah Irigasi Kamojing di Jawa Barat.

Sebelumnya, PT Waskita Karya telah membukukan total nilai kontrak baru sebesar Rp 1,4 triliun hingga bulan Juni 2025. Sebagian besar kontrak tersebut berasal dari proyek gedung, seperti konstruksi bangunan gedung DRPD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Akhmad Berahim di Kalimantan Utara, serta RSUD Tuan Besar Syarif Idrus di Kalimantan Barat.

Baca Juga  Pramono Anjurkan Ibu Kota Jakarta Pindah ke Kota Tua: Solusi?

Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, menyampaikan bahwa perusahaan mengelola 52 proyek yang tersebar di berbagai wilayah pulau di Indonesia hingga Juni 2025. “Mulai dari pembangunan gedung, konektivitas, hingga sumber daya air seperti bendungan dan irigasi,” jelasnya melalui keterangan tertulis pada hari Kamis, 19 Juni 2025.

Waskita juga bertanggung jawab atas beberapa proyek penting seperti LRT Velodrome-Manggarai, Jalan Tol Palembang-Betung, dan Bendungan Jragung. “Baru-baru ini, Waskita kembali memenangkan kontrak di Ibu Kota Nusantara (IKN), yaitu peningkatan jalan paket D di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan 1B-1C IKN, Kalimantan Timur, dengan nilai proyek mencapai Rp 396,6 miliar,” imbuh Wiwi.

Dia menegaskan bahwa Waskita Karya sangat selektif dalam memilih proyek baru. Sebelum menerima sebuah proyek, perusahaan melakukan mitigasi risiko melalui komite manajemen konstruksi untuk memastikan bahwa proyek yang dikelola tidak menimbulkan beban finansial dan memiliki risiko yang rendah.

“Perusahaan berfokus pada proyek dengan skema monthly payment serta memiliki uang muka,” tegasnya.

Annisa Febiola berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan Editor: Krisis Keuangan BUMN Karya Setelah Pemangkasan Anggaran

Share :

Baca Juga

Urban Infrastructure

Aceh Lumpuh: Banjir dan Longsor Putuskan Akses 14 Jembatan, 12 Jalan Nasional

Urban Infrastructure

Nikmati Gratis Naik MRT, LRT, dan Transjakarta: Syarat & Ketentuan 17 & 19 September

Urban Infrastructure

SDN Pondok Cina 1 Depok: Transformasi Menjadi Sekolah Inklusif untuk Anak Istimewa

Urban Infrastructure

Whoosh Sampai Surabaya? Pemerintah Rencanakan Perluasan Kereta Cepat!

Urban Infrastructure

Ekosida Pantura: Industri Picu Pesisir Utara Jawa Tenggelam Lebih Parah

Urban Infrastructure

Tawuran Maut Manggarai: Kericuhan Kembali Pecah Minggu Malam

Urban Infrastructure

Polemik Aqua: ESDM Evaluasi Ulang Izin Pengambilan Air Tanah!

Urban Infrastructure

Rel Ketiga LRT Bermasalah: Penyebab Mati Total dan Evakuasi Ratusan Penumpang