Breaking News

Home / Finance

Senin, 13 Oktober 2025 - 14:51 WIB

Tips Jitu Investasi Aman Saat Pasar Bergejolak Akhir Tahun

warta-kota.com JAKARTA. Memasuki penghujung tahun 2025, para pelaku pasar modal kembali dihadapkan pada tantangan fluktuasi pasar yang signifikan, dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global dan arah kebijakan moneter yang masih abu-abu.

Namun demikian, para analis meyakini bahwa peluang investasi dengan potensi keuntungan tetap terbuka lebar, asalkan para investor mampu menerapkan strategi yang terukur dan sesuai dengan tingkat risiko yang dapat ditoleransi. 

Wahyu Laksono, pendiri Traderindo.com, menekankan bahwa kunci utama dalam menghadapi volatilitas pasar adalah dengan memelihara fokus pada tujuan investasi jangka panjang dan menghindari keputusan panik.

Menurutnya, penting bagi investor untuk menetapkan tujuan keuangan yang jelas dan memahami profil risiko mereka sejak awal, sehingga mereka dapat tetap tenang dan rasional di tengah gejolak pasar.

Menantikan Momentum Window Dressing, Perhatikan Rekomendasi Saham LQ45 Pilihan Para Analis

“Sesuaikan portofolio investasi dengan tingkat toleransi risiko yang dimiliki. Apakah Anda termasuk tipe investor konservatif, moderat, atau agresif?” ujarnya pada Senin (13/10/2025).

Andy Nugroho, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group, menambahkan bahwa investor dapat mempertimbangkan untuk mengalihkan fokus dari trading jangka pendek ke investasi berbasis dividen, yang memberikan pendapatan pasif secara berkala. 

Sementara itu, Chory Agung Ramdhani, Analis BRI Danareksa Sekuritas, berpendapat bahwa strategi terbaik di tengah ketidakpastian pasar adalah dengan memperkuat komitmen terhadap investasi jangka panjang melalui metode dollar-cost averaging (DCA), yaitu berinvestasi secara rutin tanpa terpengaruh oleh fluktuasi harga.

Baca Juga  WIKA Anak Usaha Digugat PKPU: Manajemen Beri Klarifikasi Lengkap

Chory melihat bahwa di masa depan, sektor hilirisasi komoditas dan energi baru terbarukan (EBT) akan menjadi fokus utama investasi. Namun, secara umum, sektor perbankan besar diyakini akan tetap menjadi penopang utama stabilitas pasar modal. 

Dari sisi instrumen investasi, obligasi negara dipandang menawarkan pendapatan tetap yang relatif stabil, terutama di tengah ketidakpastian suku bunga global.

IHSG Terus Mencetak Rekor, Apakah Window Dressing Akan Menyusul?

Andy juga menyoroti potensi investasi di sektor teknologi dan pembangunan infrastruktur sebagai area yang menarik untuk dijajaki.

Wahyu menambahkan bahwa sektor digital, teknologi hijau, obligasi pemerintah, dan emas dapat menjadi pilihan instrumen investasi yang resilien dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Strategi Investasi yang Bijak

Berbicara mengenai strategi investasi, Wahyu menekankan pentingnya diversifikasi portofolio ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, properti, dan emas. Ia juga menyarankan untuk melakukan rebalancing portofolio secara berkala agar komposisi aset tetap seimbang.

Langkah ini, menurutnya, akan membantu investor untuk secara otomatis “menjual saat harga tinggi” dan “membeli saat harga rendah”.

Untuk memitigasi risiko, Wahyu menyarankan agar investor fokus pada saham-saham dengan fundamental yang kuat (blue chip) dan obligasi pemerintah. Emas juga dapat berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) di tengah ketidakpastian global. 

Sinyal Window Dressing Semakin Kuat, Apakah IHSG Siap Melanjutkan Kenaikan?

Baca Juga  PHK Massal Industri Tekstil: Lonjakan Impor Benang dan Kain Jadi Biang Kerok

Menurut Chory, strategi investasi yang tepat di kuartal IV 2025 harus menggabungkan optimisme dengan kehati-hatian. “Penting untuk meningkatkan porsi cash atau dana likuid sebagai amunisi untuk memanfaatkan peluang saat terjadi koreksi pasar,” jelasnya. 

Momentum window dressing dapat dimanfaatkan secara selektif, terutama pada saham-saham big caps dengan fundamental yang kuat dan saham-saham dividen yang menjanjikan di awal tahun berikutnya. 

Chory juga menyarankan agar alokasi investasi disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor: investor konservatif sebaiknya lebih banyak berinvestasi pada obligasi, investor moderat menerapkan prinsip keseimbangan, dan investor agresif fokus pada saham.

Bagi investor yang konservatif, Chory merekomendasikan untuk fokus pada stabilitas dengan mengalokasikan sebagian besar dana (sekitar 40%-60%) ke obligasi dan 20%-40% ke kas atau reksa dana pasar uang (RDPU), serta porsi saham yang kecil (sekitar 10%-30%).

Menantikan Momentum Window Dressing, Perhatikan Rekomendasi Saham LQ45 Pilihan Para Analis

Sementara itu, bagi investor moderat, Chory menyarankan prinsip keseimbangan dengan mengalokasikan sekitar 40%-60% dana ke saham, sisanya dibagi merata untuk obligasi (sekitar 30%-40%), dan kas atau RDPU (sekitar 10%-20%).

Bagi investor agresif, tetap fokus pada pertumbuhan dengan mengalokasikan sebagian besar investasi ke saham atau reksadana saham (sekitar 60%-80%), dengan porsi kas minimal (10%-20%).

Share :

Baca Juga

Finance

Anak Usaha United Tractors UNTR Kantongi Modal Rp 285 Miliar

Finance

Dana Kopdes Merah Putih Cair: Purbaya Ungkap Jadwal Pencairan Saat Program Siap

Finance

Bea keluar diberlakukan, begini dampaknya bagi emiten produsen emas

Finance

Rebound Saham BCA: Pembelian Asing Melonjak, Fundamental Kuat Jadi Penopang

Finance

Insanul Fahmi Ungkap Alasan Jatuh Hati pada Inara Rusli: Bukan Sekadar Bisnis!

Finance

Sukuk Ritel SR023: Investasi Aman dengan Kupon Menarik, Mulai Ditawarkan!

Finance

PLN Amankan Pasokan Listrik Sumatera dengan Gas Andaman

Finance

Harga Emas Antam dan Galeri24 Hari Ini: Turun Drastis!