Breaking News

Home / Finance

Kamis, 16 Oktober 2025 - 23:51 WIB

The Fed Beri Sinyal Kuat: Potensi Pangkas Suku Bunga di FOMC Oktober 2025!

“`html

warta-kota.com, JAKARTA — Christopher Waller, seorang Gubernur di tubuh Federal Reserve (The Fed), mengutarakan dukungannya terhadap potensi penurunan suku bunga acuan lanjutan di penghujung bulan ini. Pernyataan ini muncul di tengah indikasi perlambatan yang mulai terlihat di pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

“Berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap data pasar tenaga kerja yang kami miliki saat ini, pandangan saya adalah Komite Kebijakan Federal Reserve (FOMC) seyogyanya mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lagi pada akhir Oktober,” ungkap Waller dalam sebuah pidato yang disampaikannya di Council on Foreign Relations, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat (17/10/2025).

Waller menekankan bahwa keputusan-keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi di masa mendatang. Ia menyatakan akan mengamati dengan seksama bagaimana data pertumbuhan ekonomi (PDB) yang kuat dapat bersinergi dengan sinyal-sinyal pelemahan yang ada di pasar tenaga kerja.

: Hilal Rate Cut The Fed Dibayangi Shutdown yang Tiada Akhir

Lebih lanjut, Waller menyoroti bahwa tarif perdagangan yang baru diberlakukan hanya memberikan pengaruh yang moderat terhadap tingkat inflasi. Ia menambahkan bahwa tekanan harga masih berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target 2% yang ditetapkan oleh The Fed. Akibatnya, fokus kebijakan kini beralih pada kondisi ketenagakerjaan yang menunjukkan tanda-tanda peringatan yang cukup jelas.

Dia memprediksi, apabila tren perlambatan dalam perekrutan tenaga kerja terus berlanjut sementara inflasi tetap terkendali, The Fed sebaiknya menurunkan suku bunga acuan hingga mencapai level netral di rentang 2,75%–3,00%. Level ini setara dengan sekitar 100–125 basis poin lebih rendah dari posisi saat ini.

: : Lima Nama Masuk Radar Trump untuk Ketua The Fed Pengganti Powell

Baca Juga  Pahami Perbedaan Bull Market dan Bear Market: Panduan Investasi Lengkap

Namun, Waller juga mengingatkan bahwa skenario sebaliknya, di mana pasar tenaga kerja kembali menunjukkan penguatan di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid, dapat menunda langkah pemangkasan lanjutan.

Dorongan untuk Pemangkasan Lebih Agresif

: : Laporan The Fed: Ekonomi AS Stagnan, Konsumsi Melemah

Di sisi lain, Stephen Miran, Gubernur The Fed yang baru menjabat dan saat ini mengambil cuti dari pemerintahan Trump untuk bertugas di bank sentral, berpendapat bahwa bank sentral perlu mengadopsi pendekatan yang lebih agresif dalam memangkas suku bunga dibandingkan pandangan rekan-rekannya.

Menurut Miran, kebijakan imigrasi yang baru, yang berpotensi menekan inflasi, serta eskalasi ketegangan perdagangan antara AS dan China, memberikan ruang bagi The Fed untuk menurunkan biaya pinjaman jangka pendek secara lebih cepat.

“Meskipun ekonomi AS secara umum masih berada dalam kondisi yang cukup baik, terdapat kemunculan risiko baru yang sebelumnya tidak ada. Menurut pandangan saya, kebijakan moneter saat ini tergolong terlalu ketat dan restriktif. Semakin lama kondisi ini dibiarkan, risiko terjadinya perlambatan ekonomi akan semakin besar,” jelas Miran.

Ia juga menyoroti bahwa peningkatan ketegangan perdagangan dengan China telah mengubah keseimbangan risiko dalam perekonomian AS.

The Fed dijadwalkan untuk mengadakan rapat kebijakan pada tanggal 28–29 Oktober 2025. Sebagian besar analis memprediksi akan ada pemangkasan suku bunga lanjutan sebesar 25 basis poin. Pada bulan sebelumnya, The Fed telah menurunkan suku bunga ke rentang 4,00%–4,25%.

Proyeksi terbaru dari The Fed mengindikasikan bahwa suku bunga dana federal (federal funds rate) diperkirakan akan turun ke rentang 3,5%–3,75% pada akhir tahun, dan kemudian menuju 3,25%–3,5% pada tahun 2026.

Pemangkasan suku bunga ini bertujuan untuk menstabilkan pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, sementara tingkat inflasi masih berada di atas target yang ditetapkan. Kebijakan perdagangan agresif yang dijalankan oleh Presiden Donald Trump, termasuk penerapan tarif yang signifikan terhadap barang-barang dari China, diperkirakan akan mempercepat tekanan harga dalam jangka pendek.

Baca Juga  APSyFI Surati Menkeu: Upaya Penyelamatan Industri Pembiayaan Terancam?

Akan tetapi, para analis mengamati bahwa komentar yang disampaikan oleh Waller kali ini menandai perubahan nada dari sikap *dovish* yang sebelumnya ia tunjukkan.

Tim analis dari Evercore ISI, dalam laporan mereka, menilai bahwa pernyataan Waller mencerminkan pergeseran penting. Saat ini, Waller menyoroti adanya ketegangan antara pertumbuhan ekonomi yang kuat dan data tenaga kerja yang menunjukkan pelemahan. 

“Dia memberikan peringatan bahwa kemungkinan pemangkasan suku bunga pada bulan Oktober tetap terbuka, tetapi keputusan untuk bulan Desember belum tentu akan diambil jika data ekonomi menunjukkan penguatan,” jelasnya.

Data terbaru dari Federal Reserve Philadelphia menunjukkan kondisi sektor manufaktur yang beragam pada bulan Oktober. Sementara itu, survei yang dilakukan oleh The Fed New York melaporkan bahwa aktivitas sektor jasa mengalami penurunan yang signifikan, dengan pelaku usaha yang kurang optimis terhadap prospek dalam beberapa bulan mendatang.

Sebelumnya, Ketua The Fed Jerome Powell juga menegaskan bahwa peluang untuk pemangkasan suku bunga pada bulan ini masih terbuka, sambil menyoroti bahwa risiko terhadap ketenagakerjaan semakin meningkat.

Waller, yang disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan Powell setelah masa jabatannya berakhir pada bulan Mei 2026, termasuk di antara para pejabat The Fed yang lebih awal mendukung pemangkasan suku bunga sebagai upaya untuk mencegah pelemahan pasar tenaga kerja yang lebih dalam.

“`

Share :

Baca Juga

Finance

Saham TRUE Disuspensi BEI: Analisis dan Rekomendasi Investasi Terbaru

Finance

Mengapa tingkat penetrasi industri asuransi RI di bawah Malaysia

Finance

BLT Naik! Pemerintah Perluas Kuota Bantuan Jadi 35 Juta Keluarga

Finance

Kesepakatan Dagang AS-China: Kucuran Berkah bagi Perekonomian Indonesia

Finance

Harga emas turun pada Senin (8/12) pagi, imbas sentimen kenaikan cadangan emas PBOC

Finance

Menkeu Minta OJK Lebih Ketat Awasi Saham Gorengan: Langkah Antisipasi!

Finance

Saham Bank Besar Naik Signifikan Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Finance

Reksadana Terproteksi BRI-MI Raih Rekor AUM Rp20,99 Triliun, Juara di Indonesia