Breaking News

Home / Urban Infrastructure

Minggu, 26 Oktober 2025 - 21:52 WIB

Rel Ketiga LRT Bermasalah: Penyebab Mati Total dan Evakuasi Ratusan Penumpang

Insiden terjadi pada rangkaian kereta Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, yang mengalami kendala operasional pada Sabtu pagi, 25 Oktober 2025. Rekaman video yang tersebar luas di berbagai platform media sosial memperlihatkan sejumlah penumpang dengan tertib berjalan di sepanjang jalur pejalan kaki (walkway) di sisi rel layang, yang berada pada ketinggian sekitar 15 meter.

Mahendro Trang Bawono, Manager Public Relations LRT Jabodebek, menjelaskan bahwa gangguan tersebut diakibatkan oleh permasalahan pada sistem third rail, sebuah komponen vital yang berfungsi menyalurkan energi listrik ke kereta. “Sistem proteksi aktif, bekerja secara otomatis untuk memutus aliran listrik di seluruh jalur LRT Jabodebek, sehingga perjalanan terpaksa dihentikan sementara,” demikian pernyataan resmi dari KAI.

Akibat dari gangguan ini, seluruh perjalanan LRT Jabodebek terpaksa ditangguhkan. Pada pagi hari tersebut, dilaporkan ada lima rangkaian LRT yang mengalami kendala dan berhenti di tengah jalur. Sebanyak 653 penumpang berhasil dievakuasi ke stasiun-stasiun terdekat, termasuk Kuningan, Halim, Cawang, Kampung Rambutan, dan Bekasi Barat. Proses evakuasi dimulai pada pukul 08.41 dan baru selesai pada pukul 10.06.

Rel Ketiga dan Cara Kerja LRT Jabodebek

LRT, atau Light Rail Transit, adalah sistem transportasi modern yang menggunakan rel ringan untuk menghubungkan berbagai area di perkotaan. Meskipun ukuran kereta dan kapasitas angkutnya lebih kecil dibandingkan KRL dan MRT, keunggulan utama LRT terletak pada frekuensi perjalanan yang lebih tinggi, yang memungkinkan pengangkutan penumpang dalam jumlah besar setiap harinya, sebagaimana diungkapkan oleh berbagai sumber.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Mahendro, LRT Jabodebek beroperasi menggunakan tenaga listrik yang disalurkan melalui rel ketiga, atau yang dikenal juga sebagai third rail atau conductor rail. Sistem rel ketiga ini berfungsi sebagai sumber utama energi listrik untuk menggerakkan rangkaian LRT, serupa dengan peran kabel udara pada KRL Commuter Jabodetabek.

Baca Juga  Jasa Marga Terapkan Contraflow Puncak: Antisipasi Kemacetan Arus Mudik

Menurut railsiystem.net, dalam sebagian besar sistem, rel ketiga ini terletak di sisi luar jalur rel. Namun, ada juga konfigurasi di mana rel ketiga ditempatkan di tengah-tengah rel. Untuk menjaga keselamatan petugas yang melakukan inspeksi jalur, third rail ini ditopang oleh insulator keramik atau dilapisi dengan bracket yang terinsulasi.

Setiap rangkaian kereta dilengkapi dengan blok kontak logam yang terhubung dengan rel ketiga, yang disebut sebagai ‘sepatu’. Bidang kontak ini dapat berada di atas rel ketiga, di sisi dalam, atau bahkan di bagian bawah rel.

Sistem rel ketiga dengan bidang kontak atas cenderung rentan terhadap akumulasi salju beku atau sampah, yang dapat mengganggu operasional LRT. Beberapa sistem menggunakan kereta khusus yang berfungsi untuk menyemprotkan cairan minyak ke rel konduktor, mencegah terbentuknya lapisan yang dapat menghambat kontak antara rel dan sepatu kereta.

Di setiap persimpangan jalur, aliran listrik pada rel harus diinterupsi. Untuk memastikan transisi yang mulus bagi ‘sepatu’ kereta, disediakan ramp di bagian akhir bidang persimpangan. Dalam pengoperasian LRT, perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya ‘gapped’, yaitu kondisi ketika seluruh sepatu kereta tidak bersentuhan (gaps) dengan rel ketiga.

Dari segi biaya, sistem rel ketiga relatif lebih ekonomis untuk instalasi dibandingkan dengan sistem kontak kabel udara di atas kereta. Tidak diperlukan struktur seperti pantograf yang harus dibawa oleh kereta, dan tidak ada kebutuhan untuk rekonstruksi di atas jembatan. Selain itu, sistem ini juga lebih rapi secara visual.

Baca Juga  Polemik Aqua: ESDM Evaluasi Ulang Izin Pengambilan Air Tanah!

Rangkaian kereta TS 20 LRT Jabodebek menjalani serangkaian uji coba di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, pada 16 Juni 2025. Foto: Tempo/Ilham Balindra

Namun, sistem rel ketiga juga menimbulkan risiko bahaya aliran listrik tegangan tinggi (di atas 1.500 volt), yang jelas tidak aman. Keberadaannya juga sangat berbahaya bagi siapa pun yang terjatuh ke rel. Untuk mengatasi risiko ini, setiap peron dilengkapi dengan pagar platform dan pintu kaca. Risiko juga diminimalkan dengan menempatkan conductor rail di sisi luar rel yang berlawanan dengan peron.

Teknologi Persinyalan

Menurut Informasikereta, LRT Jabodebek mengadopsi teknologi persinyalan modern yang dikenal sebagai moving block—Communication Based Train Control (CBTC) dengan Grade of Automation (GoA) level tiga. Teknologi canggih ini memungkinkan LRT beroperasi tanpa masinis (driverless), meskipun tetap ada petugas di dalam kereta untuk menangani situasi darurat.

Sistem CBTC adalah sistem pengoperasian kereta yang berbasis komunikasi, menggunakan frekuensi radio khusus antar subsistem terintegrasi, termasuk rel, sistem, dan kereta. Keunggulan teknologi ini adalah kemampuannya untuk memantau posisi dan kecepatan kereta secara akurat dan real-time. Melalui konsep moving block, jarak antar kereta dapat diminimalkan, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi perjalanan.

Selain itu, sistem moving block pada LRT Jabodebek juga dilengkapi dengan Automatic Train Protection (ATP). Fitur penting ini mengirimkan sinyal informasi untuk mengatur kecepatan kereta, bahkan menghentikannya secara otomatis ketika mendekati halte.

Nandito Putra dan Novita Andrian turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Disebut Sebagai Jembatan Lengkung Terpanjang di Dunia, Seberapa Aman Jembatan Lengkung LRT?

Share :

Baca Juga

Urban Infrastructure

SDN Pondok Cina 1 Depok: Transformasi Menjadi Sekolah Inklusif untuk Anak Istimewa

Urban Infrastructure

Pramono Anjurkan Ibu Kota Jakarta Pindah ke Kota Tua: Solusi?

Urban Infrastructure

Aceh Lumpuh: Banjir dan Longsor Putuskan Akses 14 Jembatan, 12 Jalan Nasional

Urban Infrastructure

Pemkab Blora Dapat Izin Kemenkeu, Pinjam Rp215 Miliar Perbaiki Jalan Rusak

Urban Infrastructure

Lima Taman di Jakarta Terbuka 24 Jam & Gratis: Fasilitas Lengkap & Rekomendasi Terbaik

Urban Infrastructure

Adhi Karya Buka-bukaan: Fakta di Balik Polemik Tiang Monorel Jakarta

Urban Infrastructure

Inkindo: Evaluasi Total Bangunan Publik Tanpa Izin Mendesak Dilakukan

Urban Infrastructure

PTPP Garap Proyek Tol Surabaya-Gempol Senilai Rp 140 Miliar: Ekspansi Infrastruktur!