Breaking News

Home / Finance

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 20:51 WIB

Prediksi IHSG Akhir Tahun: Target Analis dan Strategi Investasi

warta-kota.com, JAKARTA — Sejumlah pengamat pasar modal memperkirakan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan cenderung terbatas hingga penghujung tahun 2025.

Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, Kiwoom Sekuritas belum melakukan revisi target IHSG untuk akhir tahun 2025.

Ia menjelaskan bahwa target konservatif IHSG tetap berada pada level 7.500. Sementara itu, proyeksi moderat berada di antara 7.800–7.900, dan skenario paling optimis adalah 8.000.

: Aksi Net Buy Investor Asing di BEI Sepekan Menyusut jadi Rp2,73 Triliun, IHSG Masuk Zona Merah

“Target tersebut belum direvisi karena ekspektasi perolehan laba emiten belum menunjukkan perubahan yang signifikan, dan valuasi pasar masih berada dalam kondisi netral,” ungkapnya kepada Bisnis, seperti dikutip pada hari Sabtu (23/8/2025).

Liza menambahkan, dari sudut pandang valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan dengan price-to-earnings ratio (PER) forward sebesar 14,8x per akhir Juli 2025. Angka ini masih di bawah rata-rata historis lima tahun yang berada di kisaran 15,5x. Namun, beberapa sektor, seperti batu bara dan smelter, mulai menunjukkan valuasi premium seiring dengan antusiasme terhadap hilirisasi.

: Saham Non-Cyclicals jadi Benteng Terakhir IHSG Jika PDB RI Tak Capai 5%

Meskipun demikian, peluang IHSG untuk menembus level psikologis 8.000 pada bulan Agustus 2025 dianggap masih cukup ambisius. Beberapa faktor penahan meliputi sentimen global dan domestik yang belum stabil, kelanjutan arus modal keluar (capital outflow) dari investor asing, serta kinerja emiten perbankan yang masih menunjukkan pertumbuhan yang lambat.

Baca Juga  IHSG Menguat ke 8.405: BUMI, DSSA, BRPT Pimpin Kenaikan LQ45 Hari Ini

Meskipun indeks dolar AS (DXY) sempat mengalami pelemahan, nilai tukar rupiah justru sempat tertekan hingga mencapai Rp16.500 per dolar AS, sebelum akhirnya kembali menguat ke level Rp16.388 per dolar AS.

: Kinerja Reksa Dana Saham Tersengat Rebound IHSG Semester II/2025

Secara keseluruhan, Liza menilai bahwa laporan kinerja keuangan emiten pada semester I/2025 menunjukkan hasil yang beragam. Emiten di sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur mencatatkan kinerja yang solid, didorong oleh harga komoditas yang tinggi dan stimulus dari pemerintah. Akan tetapi, sektor properti, perbankan kecil, dan barang konsumsi masih belum pulih sepenuhnya.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. (RELI), Reza Priyambada, memprediksi bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang 7.200–7.800 hingga akhir tahun, sambil menunggu sentimen lebih lanjut yang akan terjadi.

Sejauh ini, Reza berpendapat bahwa penguatan IHSG masih tergolong wajar jika didukung oleh sentimen positif. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar cenderung memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk kembali masuk ke pasar.

Terlebih lagi, dengan memperhatikan kinerja sejumlah emiten pada semester I/2025 yang tumbuh moderat dan kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya membaik, kenaikan IHSG pun diperkirakan akan terbatas.

Senior Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, menyatakan bahwa banyak emiten yang menunjukkan hasil di bawah ekspektasi pasar pada semester I/2025. Hal ini semakin membebani proyeksi pasar saham secara keseluruhan.

Baca Juga  Pentingnya Perencanaan Keuangan Matang Sebelum Berpetualang Liburan

“Dengan kecenderungan pendapatan lebih banyak emiten pada Semester I/2025 yang masih di bawah ekspektasi, maka kami masih memperkirakan target IHSG pada 6.900,” jelasnya.

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menganalisis bahwa IHSG saat ini diperdagangkan pada PER sekitar 11 kali. Angka ini masih jauh dari rekor PER IHSG di kisaran 16–17 kali sebelum memasuki fase bubble, sehingga ruang untuk kenaikan masih dinilai terbuka.

Namun, David mengingatkan para investor untuk tetap berhati-hati, mengingat IHSG telah mencatatkan kenaikan sebesar 8% hanya dalam bulan Juli 2025.

Melihat kinerja pada semester I/2025, ia mencermati bahwa sektor energi, terutama panas bumi dan batu bara, masih mencatatkan margin yang tinggi. Emiten properti dan kawasan industri juga mendapatkan sentimen positif dari aliran investasi asing dan insentif pemerintah.

Sebaliknya, sektor konsumsi primer terpukul oleh melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, sementara emiten teknologi masih berjuang untuk mencapai profitabilitas yang berkelanjutan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Share :

Baca Juga

Finance

Tinggal 5 hari perdagangan, pergerakan IHSG bakal terbatas di sisa 2025

Finance

Rekomendasi Beli Saham Emas: Harga Rp400-an, Kinerja Kuartal 1 2025 Memukau

Finance

Saham BUMI Kembali Berkilau: Masuk Tiga Indeks Bergengsi!

Finance

Donald Trump Picu Kekhawatiran, Wall Street Terjun Bebas!

Finance

Harga Buyback Emas Antam Terbaru: Cek Tabel & Pajak 3 November 2025

Finance

Perjanjian Dagang Internasional Picu Penurunan Penerimaan Negara? Ini Kata Kemenkeu

Finance

Prospek Cerah: Yield SUN Turun, Pasar Obligasi Korporasi Bergairah

Finance

BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75 Persen: Analisis dan Dampaknya