Potret Warga Miskin di Pandeglang Jelang HUT RI ke – 80, Hidup Prihatin Tanpa Listrik dan Bantuan Pemerintah
Pandeglang, warta- kota.com
Menyusuri kehidupan satu keluarga miskin ektrem di wilayah Kampung Solodengen, Rt 04 / Rw 11, Desa Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang, Pandeglang- Banten.
Perlahan, wartawan meniti potongan bambu yang dibikin titian jembatan dan menerobos hutan mangrove yang menjadi akses satu- satu nya jalan menuju gubug Irja (33) th bersama keluarga kecilnya.
Dikabarkan sebelumnya, Uun (27) th, istri dari Irja beberapa hari yang lalu mengalami kehilangan anak yang ke-2 akibat keguguran.

Menurutnya, saat akan dirawat di Puskesmas Panimbang, pihak Puskesmas merasa tidak sanggup dan disarankan untuk ke RS Alinda yang masih satu Kecamatan.
Kader Desa yang saat itu berada di RS Alinda, Iroh, mencoba membantu warganya. Dengan arahan selanjutnya menuju RSUD Labuan.
” Selama 4 hari berada di RSUD Labuan, karena si pasien tidak memiliki BPJS, lalu memakai SKTM,” ucap Iroh dikonfirmasi dilokasi Irja.
Sabtu, (9/8/2025)
Hal lain dikatakan oleh nya, karena pasien ini memakai SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), biaya perawatan selama 4 hari di RSUD Labuan mencapai Rp. 18 juta lebih.
” Setelah melalui negosiasi dengan pihak RSUD Labuan soal biaya perawatan yang tadinya sebesar Rp. 18 juta lebih, diturunkan menjadi Rp.7 juta pak,” katanya menambahkan.
Iroh mengaku, dengan kondisi keadaan warga miskin tersebut, dengan terpaksa menurut keterangan dari Irja meminjam uang dari pihak saudara istrinya.
Sementara itu dilokasi kediaman Irja, kondisi miris terpantau oleh beberapa awak media saat mengunjungi kediamannya.
Rumah gubug di pinggir empang, dengan akses jalan yang sulit, serta saat malam hanya diterangi oleh lampu minyak tanah untuk menghangatkan satu anak dan istri beserta orang tua nya.
” Sudah bertahun- tahun pak saya tinggal disini ikut dengan bapak saya. Dalam satu rumah ini ada anak saya satu laki- laki umur 3,5 Tahun, istri dan bapak saya sendiri,” katanya dikonfirmasi.
Irja mengaku, pekerjaan serabutan yang dimilikinya, mencari udang, kepiting, ikan maupun menjadi pemulung barang bekas dengan rela dilakukan nya untuk mencukupi keluarga bersama orang tua nya.
” Yah,, terkadang satu hari dapat uang sekitar 30 sampai 50 ribu pak. Jika kurang, paling malam saya mencari barang bekas atau apa saja,” tambahnya.
Irja mengaku, untuk bantuan dari pemerintah terkait Program PKH, BPNT, maupun Program BLT DD, hal itu belum pernah dirasakan nya.
” Saya hanya ingin hidup layak pak, pengen punya rumah yang layak, penghasilan yang baik juga untuk anak istri saya,” tuturnya menitikan air mata didampingi istrinya.
Rudiyanto, Ketua Rt 04 membenarkan warganya selama ini belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Hal itu dikatakannya saat dikonfirmasi wartawan.
” Betul pak, belum pernah dapat bntuan. Tapi saya sering sarankan agar segera membikin KTP sama KK, biar kalau ada apa- apa supaya cepat di tanganinya,” ucapnya.
Terlihat sang istri dalam pantauan wartawan sedang memasak air dengan menggunakan kayu bakar, sementara menjelang saat senja, penerangan yang redup dari sebuah lampu minyak tanah sebagai alat penerang satu- satu nya dari warga miskin ektrem yang tak tersentuh bantuan Pemerintah. (YNA)















