Breaking News

Home / Finance

Kamis, 15 Mei 2025 - 17:52 WIB

Perang Tarif Mereda: IHSG Berpotensi Tembus 7.100 di Kuartal II 2025

warta-kota.com Redanya ketegangan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok membawa angin segar bagi pasar saham global, termasuk Indonesia. Namun, tantangan tetap ada, berupa perlambatan ekonomi domestik.

“Pelonggaran ketegangan perdagangan AS-Tiongkok berdampak positif pada pasar modal dunia, termasuk IHSG (indeks harga saham gabungan) yang berpotensi menguat melanjutkan tren positif sejak titik terendah pada awal April,” ujar Farash Farich, Chief Investment Officer BNI Asset Management, Kamis (15/5).

Menurutnya, kesepakatan tarif AS-Tiongkok, meskipun belum final, memberikan sentimen positif bagi investor. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebutnya sebagai jeda untuk mencegah kerusakan ekonomi jangka panjang, karena kesepakatan komprehensif mungkin membutuhkan waktu dua tahun atau lebih, mengingat pengalaman sebelumnya.

Farash menambahkan, kesepakatan ini mencerminkan pendekatan pragmatis AS dan Tiongkok, keduanya tampaknya lebih prihatin terhadap dampak ekonomi sistemik yang berisiko memperlambat pertumbuhan global.

“Pasar saham Indonesia diuntungkan dari perkembangan ini. Valuasi IHSG, berdasarkan rasio price-to-earning, masih berada di bawah minus 1 standar deviasi dari rata-rata historisnya, dan lebih rendah dibandingkan rata-rata historis valuasi pasar saham negara berkembang di Asia. Lebih lanjut, kepemilikan asing di pasar saham kita berada pada titik terendah dalam 10 tahun terakhir,” jelasnya.

Baca Juga  GOTO Tanggapi Gugatan Merek di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset, menyarankan investor dan trader untuk memanfaatkan momentum ini sembari mencermati kinerja kuartal I 2025. Meskipun kesepakatan AS-Tiongkok berdampak positif, koreksi pasar masih mungkin terjadi, namun terbatas.

“Potensi penguatan pasar saham mulai terbatas karena aksi profit taking. Strategi yang tepat adalah memanfaatkan momentum trading dan membeli saham yang melemah (buy on weakness), khususnya emiten dengan kinerja kuartal I 2025 yang solid,” katanya.

Saat ini, pasar saham masih mengalami tekanan jual, terlihat dari nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 35 triliun sejak awal tahun, meskipun trennya telah positif dalam sebulan terakhir.

Baca Juga  Aksi asing di saham big banks, keluar di BRI (BBRI) masuk ke Bank Mandiri (BMRI)

Ia mencatat 13 saham dengan kinerja positif pada kuartal pertama tahun ini, dengan rekomendasi utama pada CPIN, ANTM, ARTO, RALS, dan DKFT. Mengingat emas masih menjadi instrumen safe haven, saham-saham terkait emas seperti ANTM, HRTA, ARCI, dan BRMS juga menarik.

Martha Christina memproyeksikan IHSG akan berada di kisaran 6.800 hingga 7.100 pada kuartal II 2025. “Target 6.900 masih masuk akal hingga kuartal II 2025,” ujarnya dalam Media Day di kantornya.

Ketegangan perang dagang global, terutama kebijakan tarif impor AS, diperkirakan akan mereda. Tidak banyak perkembangan baru, tinggal menunggu finalisasi kesepakatan.

Terkait kondisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat di kuartal II 2025, kecuali pemerintah menerapkan kebijakan progresif baru.

Share :

Baca Juga

Finance

BI Turunkan Suku Bunga ke 5%, Dorong Pertumbuhan Usaha Pembiayaan

Finance

Ekosida Pantura: Konversi Lahan Ancam Swasembada Pangan Nasional

Finance

Gubernur BI Desak Bank Turunkan Suku Bunga, Pacu Pertumbuhan Kredit Nasional

Finance

Kekayaan Letjen Djaka: Profil dan Harta Sang Calon Dirjen Bea Cukai

Finance

Harga Emas Antam Hari Ini Sentuh Rp1.014.000: Buruan Beli Sebelum Naik!

Finance

BEI Waspadai Transaksi Mencurigakan Saham CRAB, BESS, dan BSWD

Finance

Gaji Rata-Rata 17 Provinsi Indonesia Masih di Bawah UMP: Temuan Terbaru Next Indonesia

Finance

Analis Prediksi: Kinerja Emiten Semen Lesu di Kuartal II, Simak Rekomendasinya