Breaking News

Home / Public Safety And Emergencies

Senin, 6 Oktober 2025 - 09:51 WIB

Pencemaran Radioaktif Banten: Warga Resah, Minim Informasi, dan Kurang Perlindungan

“`html

Kecemasan mendalam menyelimuti warga yang tinggal di sekitar pabrik peleburan limbah metal di Banten, yang kini menjadi pusat perhatian akibat radiasi radioaktif sesium-137. Ketidakpastian terus menghantui, karena mereka merasa belum mendapatkan informasi yang jelas dari pihak berwenang mengenai kejadian ini serta potensi dampak kesehatan akibat paparan radiasi.

Menanggapi situasi ini, para pengamat nuklir mendesak agar pihak berwenang segera membuka pos pengaduan bagi masyarakat. Inisiatif ini dianggap penting sebagai bagian integral dari prosedur pengamanan yang komprehensif. Satgas Penanganan Radiasi Cs-137 yang dibentuk pemerintah menyatakan bahwa usulan tersebut masih dalam tahap pertimbangan.

Sebagai respons terhadap kejadian ini, pemerintah secara resmi telah menetapkan Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande sebagai area Kejadian Khusus Cemaran Radiasi Cesium-137.

Terungkapnya insiden radiasi Cs-137 ini bermula dari temuan kontaminasi radioaktif pada udang beku asal Indonesia yang diekspor ke Amerika Serikat, memicu investigasi lebih lanjut.

Sesium-137, atau yang lebih sering disebut Cs-137, adalah unsur radioaktif sintetis yang dihasilkan oleh manusia, bukan berasal dari alam. Paparan radiasi dari unsur ini, pada tingkat tertentu, berpotensi menimbulkan dampak serius seperti kanker, bahkan hingga menyebabkan kematian.

Cs-137 merupakan produk sampingan dari reaktor nuklir yang memancarkan radiasi beta dan gamma. Unsur ini memiliki umur paruh yang relatif panjang, mencapai sekitar 30 tahun.

Sifat Cs-137 yang mudah larut dalam air memungkinkan penyebarannya ke berbagai elemen lingkungan, termasuk tanah, tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia.

Meskipun demikian, dalam kondisi yang terkendali, Cs-137 memiliki manfaat yang signifikan dalam berbagai bidang seperti medis, industri, dan penelitian.

Hampir sebulan lamanya, sebagian warga Kampung Combrang, RT 04/02, Desa Nambo Udik, Kecamatan Cikande, Serang, Banten, hidup dibayangi rasa khawatir dan was-was.

Penyebabnya adalah Kampung Combrang, yang merupakan rumah bagi sekitar 90 keluarga termasuk 20 lansia dan 50 anak-anak, terletak sangat dekat dengan lokasi sumber radiasi radioaktif PT. Peter Metal Technology (PT. PMT). Jarak antara kampung mereka dan pabrik tersebut kurang dari 200 meter.

PT. PMT telah disegel oleh pihak berwenang sejak pekan kedua September lalu sebagai bagian dari upaya penanganan.

Di pabrik peleburan metal ini, tim gabungan pemerintah menemukan tingkat radiasi Cs-137 yang mencapai 0,3-0,5 mikrosievert per jam. Tingkat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal yang berada di angka 0,1 mikrosievert per jam.

Penyegelan PT. PMT merupakan tindak lanjut dari temuan Customs Border Protection (CBP) Amerika Serikat atas udang beku yang diimpor dari Indonesia yang mengandung Cs-137. Diketahui bahwa pabrik pengolahan udang tersebut berjarak sekitar tiga kilometer dari PT. PMT.

‘Jangan sampai kami yang tinggal paling dekat, malah enggak tahu apa-apa’

Sejak penyegelan PT. PMT, pemandangan petugas yang mengenakan pakaian pelindung khusus antiradiasi telah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warga Kampung Combrang.

Namun, hingga saat ini, warga mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi, baik dari pemerintah daerah maupun pusat, mengenai apa yang sebenarnya terjadi, termasuk risiko dan bahaya paparan radiasi radioaktif terhadap kesehatan mereka.

“Setiap hari ada petugas pakai APD lengkap lalu-lalang di depan rumah,” ujar Arief, 36 tahun, seorang tokoh masyarakat Kampung Combrang, pada hari Sabtu (04/10).

“Mereka pakai masker, pakai sarung tangan saat datang ke kampung dan bersalaman [dengan warga], bikin ketakutan, tapi enggak ada yang menjelaskan [secara resmi],” tambahnya dengan nada prihatin.

Arief mengungkapkan bahwa dalam percakapan informal, seorang petugas sempat menyampaikan kepadanya bahwa tingkat radiasi udara di kampung tersebut berada “di atas normal.”

Ia sangat berharap agar pemerintah segera mengadakan sosialisasi yang komprehensif dan menyediakan pemeriksaan medis gratis bagi seluruh warga.

“Kami enggak menolak investasi, tapi kami juga butuh perlindungan. Jangan sampai kami yang tinggal paling dekat, malah enggak tahu apa-apa,” tegasnya.

Karsih, seorang mantan pekerja PT PMT yang kini menjadi warga Kampung Combrang, mengungkapkan bahwa operasional pabrik sebenarnya telah dihentikan sejak akhir Juli 2025—jauh sebelum penyegelan oleh pemerintah.

“Tiba-tiba berhenti saja. Katanya bangkrut. Waktu itu saya enggak tahu apa-apa, tahunya belakangan baru ramai soal radiasi,” kata perempuan berusia 42 tahun tersebut.

Baca juga:

  • Udang beku dari Indonesia terpapar zat radioaktif, dari mana kontaminasi muncul?
  • Limbah zat radioaktif dibuang di kompleks perumahan, pakar: ‘ada kelalaian dalam pengawasan penggunaan zat radioaktif’
  • Kisah pria yang mengoleksi benda-benda radioaktif

Karsih juga mengaku bahwa dirinya belum pernah menjalani pemeriksaan kesehatan sejak isu radiasi Cs-137 mencuat ke publik.

“Belum, belum diperiksa. Katanya ada yang diperiksa, tapi cuma beberapa orang bagian peleburan. Saya khawatir juga, soalnya tiap hari dulu masuk kerja, tapi enggak tahu apakah kena dampaknya atau enggak,” ungkapnya dengan nada cemas.

Ia menambahkan bahwa banyak pekerja lain yang sudah tidak diketahui keberadaannya dan sulit dihubungi. Menurutnya, pabrik peleburan limbah besi menjadi baja ringan di Kawasan Industri Modern Cikande ini dioperasikan oleh sejumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China.

“Enggak ada yang ngasih tahu hasilnya [penyelidikannya] kayak gimana. Jadi ya tambah takut saja,” keluhnya.

Warga sempat protes

Arief menuturkan bahwa warga sebenarnya telah lama menyampaikan keluhan terkait aktivitas pabrik tersebut. Jauh sebelum kasus radiasi mencuat, mereka sudah seringkali terganggu oleh getaran dan asap yang dihasilkan dari proses peleburan.

“Dulu sebelum ada [temuan radioaktif] ini juga kami sudah sering protes. Rumah bergetar kayak gempa, malam-malam keluar asap sampai ibu saya batuk-batuk,” tuturnya dengan nada kesal.

“Sekarang tambah takut, karena katanya ada radiasi. Tapi sampai sekarang belum ada pemeriksaan kesehatan, belum ada penjelasan dari pemerintah.”

Baca Juga  Demo Besar-besaran Ojol: Janji Prabowo Soal Kesejahteraan Driver Terancam?

Keluhan kesehatan

Beberapa warga bahkan mulai merasakan keluhan terkait kondisi kesehatan mereka, seperti batuk dan gatal-gatal, ungkap Arief. Namun, sayangnya, belum ada pemeriksaan medis menyeluruh yang dilakukan oleh pemerintah untuk menindaklanjuti keluhan tersebut.

BBC News Indonesia belum dapat memverifikasi secara pasti apakah gejala kesehatan yang dialami warga tersebut berkaitan langsung dengan isu radiasi. Akan tetapi, warga sangat berharap dapat memperoleh kejelasan dan perlindungan yang layak dari negara di tengah situasi yang tidak pasti ini.

“Kami dengar katanya pemerintah melindungi warga. Tapi perlindungannya seperti apa? Sosialisasi saja belum pernah,” kata Arief dengan nada bertanya.

Radioaktif Cs-137 menyebar

Sumber radiasi Cs-137 tidak hanya ditemukan di PT PMT, tetapi juga terdeteksi di wilayah lain, seperti di sebuah lapak limbah besi di Kampung Sadang, Desa Sukatani, Kecamatan Cikande.

Lapak yang berjarak sekitar tiga kilometer dari PT PMT tersebut telah dipasangi garis peringatan radiasi sebagai langkah pengamanan.

Suheni, 68 tahun, seorang petani yang beraktivitas di sekitar lapak limbah besi di Kampung Sandang, mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi apa pun terkait kasus temuan radiasi tersebut hingga saat diwawancarai pada hari Sabtu (04/10).

“Belum ada [pemeriksaan kesehatan dan sosialisasi],” ujarnya dengan singkat.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, terdapat sejumlah plang peringatan bahaya radiasi serta lambang peringatan radioaktif yang dipasang di sekitar area PT. PMT.

Plang peringatan serupa juga terlihat tersebar di beberapa titik perkampungan warga yang berdekatan dengan kawasan industri, seperti di Kampung Sadang, Desa Sukatani, dan Kampung Kedung Laban, Desa Kibin, di Kecamatan Cikande. Kedua lokasi tersebut diketahui merupakan tempat berkumpulnya para pengepul besi bekas.

Sementara itu, pabrik pengemasan udang yang menjadi titik awal terungkapnya kasus ini, dilaporkan telah beroperasi kembali secara normal.

Kejadian khusus cemaran radiasi cesium-137

PT. PMT dan perusahaan pengolahan udang tersebut berlokasi di Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande, Serang, Banten. Kawasan industri yang dibangun sejak tahun 1991 ini menampung sekitar 300 perusahaan, termasuk berbagai industri multinasional yang bergerak di sektor pangan.

Pemerintah telah secara resmi menetapkan kawasan industri seluas 3.175 hektare tersebut sebagai area Kejadian Khusus Cemaran Radiasi Cesium-137.

PT. PMT dan pengelola KIM Cikande dikabarkan akan menghadapi gugatan hukum dari pemerintah sebagai tindak lanjut atas kejadian ini. Hingga saat ini, kedua pihak korporasi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah hukum yang akan diambil.

Di samping itu, pemerintah juga telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Radiasi Cs-137 yang beranggotakan perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Komando Brimob Polri (KBRN). Menteri Koordinator bidang Pangan, Zulkifli Hasan, ditunjuk sebagai ketua satgas.

Peneliti BRIN: perlu buka posko

Profesor Djarot Sulistio, seorang peneliti senior nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menilai bahwa kurangnya komunikasi yang efektif dengan warga merupakan “masalah klasik” yang sering terjadi. Ia menjelaskan bahwa tidak banyak penyelidik dari kalangan ilmuwan yang mampu menyampaikan informasi secara sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat.

“Saya kira memang perlu orang-orang yang menjelaskan secara bahasa sederhana, tetapi tidak salah. Tidak melebih-lebihkan, tidak mengurangi makna yang ada,” ujarnya.

Mantan Kepala Bapetan ini mengusulkan agar pemerintah segera membuka posko komunikasi yang dapat memberikan penjelasan yang akurat dan komprehensif kepada masyarakat.

Ia juga berpendapat bahwa warga di Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande saat ini belum memerlukan evakuasi.

“Karena kalau selama itu mampu segera dilokalisir, maka otomatis… asal masyarakat setempat tidak mendekati sumber-sumber atau hotspot yang sudah ditetapkan oleh petugas,” jelasnya.

Bagaimana respons pemerintah?

Wakil Bupati Serang, Najib Hamas, menyatakan bahwa penanganan radiasi Cs-137 sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah pusat. Namun, terkait isu kesehatan masyarakat, pemerintah daerah turut terlibat aktif.

“Kami Pemkab diberi tanggung jawab adalah masyarakat yang kemungkinan terindikasi [masalah] kesehatan, maka menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten Serang untuk melakukan pengobatan, perawatan sesuai dengan rekomendasi dari Bapeten,” jelasnya.

Pihak Bapeten juga menegaskan bahwa seluruh penanganan dan pengambilan keputusan saat ini berada di tangan Satgas Penanganan Radiasi Cs-137.

Ketua Divisi Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Radiasi Cs-137, Bara Krishna Hasibuan, mengklaim bahwa pemeriksaan terhadap warga telah dilakukan.

“Sudah ada, cuma kita memang nggak terus terang selama ini. Kita nggak mau mereka panik,” ungkapnya.

Bara Krishna menjelaskan bahwa sejauh ini, telah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 1.500 pekerja di KIM Cikande. Dari jumlah tersebut, sembilan orang dinyatakan positif terpapar Cs-137. Saat ini, mereka sedang menjalani perawatan dan pemantauan intensif di RS Fatmawati.

“[Pil] khusus dari Singapura, sudah dipesan dari Kementerian Kesehatan,” tambahnya.

Pil yang dimaksud adalah Prussian Blue, yang berfungsi mengikat cemaran zat radioaktif Cs-137 di dalam tubuh dan membantu proses pengeluarannya melalui feses.

Terkait usulan pembukaan posko komunikasi dan keluhan kesehatan yang disampaikan warga, Bara Krishna menyatakan, “setelah kita kaji, kemungkinan itu [akan dilakukan]”.

Ia melanjutkan bahwa saat ini Satgas telah berhasil mengidentifikasi 15 lokasi lapak besi tua yang diduga kuat menyimpan material-material yang mengandung Cs-137.

“Jadi nanti begini. Jadi itu semua [material mengandung Cs-137] kita kumpulkan. Kita sudah bersihkan dua lokasi [lapak],” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa material besi bekas yang ditemukan di lapak-lapak tersebut kemungkinan besar berasal dari limbah buangan PT PMT. Material tersebut saat ini dikumpulkan sementara di gedung PT. PMT yang sudah tidak beroperasi.

Baca Juga  Korban meninggal dunia bencana Sumatera jadi 961 orang, pengungsi tembus 1 juta orang

Bara Krishna juga mengungkapkan bahwa tim kepolisian masih terus berupaya “mengejar” pemilik PT PMT yang saat ini berada di China untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Dari mana asal-usul radiasi Cs-137 di Banten?

Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa sumber utama radiasi Cs-137 berasal dari “bijih besi, skrup dan barang sejenis” yang diimpor oleh PT PMT dari Filipina. Bahan-bahan tersebut kemudian dilebur melalui proses pembakaran.

Asap yang dihasilkan dari proses peleburan tersebut mencemari lingkungan, bahkan hingga mencapai pabrik pengolahan udang yang berjarak tiga kilometer. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya unsur radioaktif pada blower dan ventilator pabrik tersebut—meskipun diklaim dengan konsentrasi yang rendah.

Temuan sumber radiasi pada barang-barang di lapak-lapak besi tua semakin memperkuat dugaan bahwa material tersebut berasal dari limbah buangan PT PMT.

Meskipun memiliki potensi bahaya, Cs-137 yang dikelola dengan baik memiliki banyak manfaat dalam berbagai industri.

Di sektor medis, zat radioaktif ini dapat dimanfaatkan untuk terapi kanker (radioterapi).

Dalam dunia industri, pemanfaatan Cs-137 bertujuan untuk mengukur ketebalan logam, kelembapan tanah, serta melakukan kalibrasi pada alat deteksi radiasi.

Di bidang penelitian, zat radioaktif yang dihasilkan dari reaksi nuklir ini juga berguna untuk melacak pergerakan sedimen, air, atau sumber pencemaran lingkungan.

Namun, muncul pertanyaan mengenai apakah ada indikasi kebocoran Cs-137 dari peralatan industri lain yang beroperasi di KIM Cikande.

“Tim Bapetan lagi cek itu,” jawab Ketua Divisi Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Radiasi Cs-137, Bara Krishna Hasibuan.

Baru-baru ini, pemerintah Indonesia telah mengembalikan puluhan kontainer yang terkontaminasi radioaktif dari Filipina. Beberapa kontainer yang akan masuk ke Indonesia juga berisi besi bekas yang diduga mengandung radioaktif.

Heryudo Kusumo, seorang pakar instalasi nuklir, menduga bahwa bahan dasar pembuatan material tersebut berasal dari peralatan industri yang mengandung radioaktif di Filipina.

“Saya menduga bahwa kontainer yang tercemar radioaktif tersebut berasal dari peralatan yang mengandung zat radioaktif, yang dilaporkan hilang di Filipina,” ungkapnya.

Ia merujuk pada beberapa sumber pemberitaan, termasuk pengumuman peringatan dari Institute Penelitian Nuklir Filipina kepada para pemilik lapak besi tua terkait pencurian peralatan yang mengandung Cs-137.

“Saya sampaikan tulisan tentang hal tersebut, yang telah saya kirimkan ke Bapeten untuk ditindaklanjuti,” imbuh Heryudo.

Mengaktifkan pemantauan radioaktif

Profesor Djarot Sulistio, seorang peneliti senior nuklir dari BRIN, mendorong dilakukannya evaluasi terhadap “seluruh struktur sistem pengawasan sumber radioaktif”.

“Karena apa? Sumber radioaktif ini kan dipakai di mana-mana. Di pabrik baja, di pabrik kertas, di mana-mana. Dan keluar masuknya antar negara atau antar wilayah itu juga frekuensinya lumayan tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa salah satu langkah pencegahan penyebaran radioaktif yang tidak dapat dideteksi oleh indera manusia adalah dengan memasang alat pemantau radiasi.

“Monitor di gerbang-gerbang strategis Indonesia maupun juga gerbang-gerbang di kawasan industri, maka otomatis kita mampu mendeteksi jalur-jalur transportasi sumber radioaktif tersebut,” tambah Prof Djarot.

Apa itu Sesium-137, dan dampaknya bagi manusia?

Sesium-137 adalah zat radioaktif yang merupakan hasil sampingan dari fisi nuklir, seperti yang terjadi pada bom nuklir, uji coba senjata nuklir, dan operasi reaktor nuklir tertentu.

“Sesium-137 itu tidak berbentuk gas, tapi dia bisa berbentuk serpihan atau mungkin debu,” jelas Prof Djarot.

Cs-137 memiliki sifat mudah menyebar melalui udara, larut dalam air, dan menempel pada tanah atau material lainnya. Zat radioaktif ini juga mudah terserap oleh tumbuhan, hewan, dan manusia.

Paparan Cs-137 dari luar tubuh manusia dapat menyebabkan luka bakar radiasi, sakit radiasi akut, bahkan hingga kematian. Beberapa gejala sindrom radiasi akut meliputi mual, muntah, diare, pusing, dan pendarahan. Tingkat keparahan gejala sangat bergantung pada dosis radiasi yang diterima oleh tubuh.

Di sisi lain, ketika Cs-137 masuk ke dalam tubuh melalui udara, air, atau makanan, zat ini akan mudah menempel pada otot. Radiasi gamma dan beta yang dipancarkan oleh Cs-137 dari dalam tubuh dapat merusak sel dan DNA, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kanker.

Namun, sekali lagi, hal ini sangat tergantung pada jumlah dosis radiasi, durasi paparan, serta faktor usia. Semakin tinggi dosis dan semakin sering terpapar, maka risiko yang ditimbulkan akan semakin besar.

“Sesium memang tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dihilangkan. Karena yang bisa kita lakukan adalah memindahkan ke lokasi yang aman supaya dia meluruh. Karena dia waktu paruhnya, usia sampai itu sekitar 30 tahun,” jelas Prof Djarot.

Penanganan paparan Cs-137 dilakukan melalui dekontaminasi, yaitu proses menghilangkan partikel Cs-137 dari permukaan material. Namun, material atau cairan pembersih partikel tersebut harus disimpan di tempat yang aman.

“Jadi harus dipindahkan ke lokasi yang aman, dia akan meluruh pelan-pelan sampai nanti dianggap aman,” katanya.

Sementara itu, Cs-137 yang sudah masuk ke dalam tubuh dapat diobati dengan pemberian pil Prussian Blue.

Wartawan Muhammad Iqbal di Banten ikut berkontribusi dalam artikel ini.

  • Limbah radioaktif caesium 137 di Tangsel, pakar: ‘Dari kajian lebih besar bahayanya, makanya saya heran kok masih ada yang menggunakan’
  • Chernobyl: Kerusakan DNA akibat radiasi ‘tidak diturunkan kepada anak-anak’
  • Kapsul radioaktif ‘seukuran kacang polong’ yang hilang telah ditemukan di Australia – bagaimana benda ‘berbahaya’ itu hilang dan akhirnya bisa ditemukan?

“`

Share :

Baca Juga

Public Safety And Emergencies

Kebakaran Terra Drone, belasan karyawan yang minta tolong dari atap selamat

Public Safety And Emergencies

Etomidate: Obat Biang Keladi Penangkapan Jonathan Frizzy, Polisi Ungkap Efeknya

Public Safety And Emergencies

Gempa Filipina 7,6 SR Picu Peringatan Tsunami Mencapai Indonesia

Public Safety And Emergencies

Layanan SIM, STNK, dan BPKB Libur Lebaran 12-13 Mei 2025: Catat Jadwal Bukanya!

Public Safety And Emergencies

Tragis! Gedung Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Roboh: Tiga Tewas, Puluhan Hilang

Public Safety And Emergencies

Masalah Wahana: Mencari Pihak yang Bertanggung Jawab

Public Safety And Emergencies

Kecelakaan Maut Bus ALS Medan-Bekasi: 12 Penumpang Tewas di Padang Panjang

Public Safety And Emergencies

SMAN 72: Update Terkini Kondisi Korban dan Temuan Ledakan