Breaking News

Home / Health

Kamis, 16 Oktober 2025 - 02:51 WIB

Operasi Plastik Remaja: Antara Percaya Diri dan Risiko Kesehatan Mental

Prosedur pengencangan wajah dan leher, atau yang lebih dikenal dengan istilah facelift, yang dahulunya dianggap sebagai tindakan bedah mayor yang berat dan menjadi pilihan terakhir, kini justru menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Berbagai platform media sosial diramaikan dengan diskusi mengenai berbagai jenis peremajaan wajah, yang dilakukan oleh mereka yang bahkan masih berusia 20-an dan 30-an. Mulai dari teknik mini, ponytail, hingga deep plane, semuanya menjadi sorotan.

Di tengah riuhnya unggahan daring, banyak individu dengan terbuka membagikan transformasi wajah mereka melalui foto “sebelum dan sesudah” operasi. Bahkan, tak sedikit yang berani menampilkan kondisi wajah mereka saat masih dalam proses pemulihan yang menyakitkan, lengkap dengan memar yang jelas terlihat.

Dulu, prosedur peremajaan wajah melalui bedah plastik seolah-olah hanya menjadi hak eksklusif kalangan berada dan mereka yang telah lanjut usia. Namun, kini, paradigma tersebut perlahan bergeser.

Semakin banyak individu berusia muda yang kini memilih untuk menjalani prosedur ini, dan dengan bangga memamerkan hasilnya.

Meskipun risiko dan dampak psikologis tak dapat diabaikan, banyak konsumen, yang mayoritas adalah perempuan, tetap memilih jalur yang terkadang terasa menyakitkan ini demi mencapai kepercayaan diri melalui perubahan penampilan.

Para penyedia jasa, termasuk dokter dan klinik kecantikan, juga terus berinovasi dan mengembangkan teknologi terkini untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat ini.

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah ketidakpercayaan diri semakin merajalela di era digital yang seringkali menampilkan realitas yang dipoles, sehingga banyak orang rela mengeluarkan biaya besar untuk menjalani operasi?

Atau, apakah masyarakat sudah sedemikian terbiasa dengan perawatan non-bedah seperti botox dan filler, sehingga tindakan mengangkat kulit wajah, mengencangkan otot dari tulang pipi, dan mengatur ulang jaringan wajah serta lemak terasa sebagai langkah logis dan menawarkan hasil yang lebih tahan lama?

‘Hanya Ingin Menjadi Versi Terbaik’

Bagi Emily, yang memutuskan untuk menjalani operasi facelift di usia 28 tahun, motivasinya adalah untuk mendapatkan tampilan “snatched”—yang ditandai dengan rahang yang tegas, tulang pipi yang menonjol, dan mata yang tajam seperti mata rubah.

Untuk mewujudkan impian tersebut, ia memilih untuk menjalani operasi di Turki. Menurutnya, keputusan ini telah membawa “perubahan hidup” yang signifikan, dan ia sama sekali tidak menyesalinya.

“Secara keseluruhan, saya menjalani enam operasi dalam satu prosedur. Meliputi facelift di bagian tengah wajah, lip lift, dan rhinoplasty (operasi hidung),” ungkapnya.

Pengusaha asal Toronto, Kanada ini kemudian menjelaskan secara rinci mengenai proses yang ia jalani. Ia masih ingat bagaimana dokter bedahnya memutar lagu-lagu favoritnya saat ia mulai dibius total. Kemudian, “Saya tertidur, terbangun, muntah, dan mendapati diri saya dengan wajah dan hidung yang baru,” kenangnya.

Proses pemulihannya, menurut Emily, membutuhkan waktu yang cukup lama. Rasa sakit dan memar mulai mereda dalam beberapa minggu pertama, tetapi dibutuhkan waktu hingga enam bulan untuk dapat merasakan kembali bagian pipinya.

Apakah ia akan mengulangi prosedur ini lagi? Ia mengaku masih ragu.

“Sejak operasi, hidup saya berubah menjadi lebih baik. Saya menjadi lebih sehat, mengurangi konsumsi minuman beralkohol, lebih rajin merawat kulit, dan tidur dengan nyenyak.”

“Jika saya tahu apa yang akan saya rasakan dan alami sekarang, mungkin saya tidak akan melakukannya,” aku Emily.

“Ibu saya bahkan tidak tahu sampai saya memberitahunya beberapa hari setelah operasi,” tambahnya.

Namun, ia kemudian terdiam sejenak dan merenung. “Tapi, saya hanya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya. Dan sekarang, saya rasa saya sudah berhasil mencapainya.”

Caroline Stanbury, presenter TV dan salah satu bintang dari acara Real Housewives of Dubai, memutuskan untuk menjalani operasi facelift ketika usianya menginjak 47 tahun.

Pada saat itu, banyak orang menyarankannya untuk tidak melakukannya, dengan alasan bahwa usianya masih terlalu muda untuk menjalani prosedur tersebut.

“Bagi saya, ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Mengapa saya harus menunggu hingga usia 60-an, merasa putus asa, dan benar-benar membutuhkannya? Saya ingin terlihat dan merasa luar biasa sekarang,” tegas Caroline.

Baca Juga  Rahasia Diet Serena Williams: Sukses Turun 14 Kg Pasca Melahirkan dengan Metode Kontroversial

Prosedur yang ia jalani sekitar dua tahun lalu ini dilakukannya setelah menghabiskan waktu selama 20 tahun menjalani perawatan botox dan filler secara rutin, hingga ia merasa penampilannya mulai “terlihat aneh”.

Ia kemudian bersedia membayar US$45.000 (sekitar Rp 745,6 juta) untuk menjalani operasi facelift deep plane di Amerika Serikat.

“Saya masih terlihat seperti diri saya sendiri, dan prosedur ini memberi saya kesempatan 20 tahun lagi untuk merasa hebat,” ungkapnya.

Bagaimana Perkembangan Facelift di Era Modern?

Data dari Asosiasi Bedah Plastik Estetika Inggris (BAAPS) menunjukkan peningkatan sebesar 8% dalam jumlah prosedur facelift yang dilakukan selama 12 bulan terakhir di Inggris Raya.

Meskipun tidak ada rincian yang spesifik berdasarkan usia, banyak anggota asosiasi yang melaporkan adanya perubahan dalam demografi pasien.

Tren ini juga tercermin di negara lain. Asosiasi Bedah Plastik Amerika (ASPS) mencatat peningkatan jumlah generasi X berusia 45 hingga 60 tahun yang memilih untuk menjalani operasi facelift.

Nora Nugent, presiden BAAPS, meyakini bahwa ada berbagai faktor yang melatarbelakangi perubahan ini. Salah satunya, menurut Nugent, adalah peningkatan penggunaan obat penurun berat badan.

“Menurunkan berat badan secara drastis dengan bantuan obat-obatan ini dapat meninggalkan banyak kulit berlebih. Operasi facelift dapat membantu mengatasi masalah tersebut,” jelasnya.

“Selain itu, teknik-teknik operasi juga telah berkembang pesat. Operasi facelift saat ini tidak lagi berarti mengambil risiko efek ‘wind tunnel’, yaitu wajah yang terlihat terlalu kencang akibat kulit yang ditarik ke belakang secara berlebihan, seperti yang sering kita lihat di masa lalu.”

Di sebuah klinik di Bristol, Inggris, konsultan ahli bedah plastik Simon Lee, yang telah melakukan ratusan operasi facelift, menjelaskan mengapa prosedur ini semakin diminati saat ini.

Menurut Lee, salah satu alasannya adalah kemudahan akses untuk menjalani prosedur pengencangan wajah dan leher.

Dulu, prosedur ini hanya dapat dilakukan di ruang operasi rumah sakit dan memerlukan anestesi umum.

Namun, kini, ia dapat melakukan pengencangan wajah dan leher tanpa perlu memberikan anestesi umum, dan cukup dilakukan di kliniknya.

Ia bahkan memperlihatkan kepada BBC salah satu video prosedur yang ia lakukan.

Dalam video tersebut, pasien tetap sadar sepenuhnya sepanjang prosedur, karena hanya diberikan anestesi lokal dalam dosis rendah yang disuntikkan ke kulit dan jaringan di bawahnya.

Kemudian, ia membuat serangkaian sayatan kecil di wajah pasien, sebelum masuk ke bawah kulit, lemak, dan fascia superficial (SMAS), yaitu bagian wajah yang mengontrol ekspresi manusia.

Selanjutnya, sayatan mencapai lapisan dalam untuk memposisikan ulang jaringan dan otot, sehingga membentuk ulang wajah.

Setelah operasi selama empat jam selesai, klien tersebut tersenyum lega.

Ini adalah “masa yang menarik” di industri ini, kata Lee. Meskipun facelift klasik yang fokus pada rahang bawah dan leher masih populer, ada perawatan baru yang menargetkan dua pertiga bagian atas wajah—bagian proses penuaan dimulai dan terlihat pada usia yang lebih muda.

Dokter bedah ini juga menambahkan bahwa facelift lebih cocok untuk mereka yang berusia di atas 40 tahun, dan sangat jarang dilakukan pada seseorang yang berusia 20-an atau 30-an.

Apa Dampak dan Risiko dari Facelift?

Meskipun akses semakin mudah dan teknologi semakin canggih, para ahli tetap menyarankan untuk melakukan riset yang mendalam dan memilih ahli bedah plastik yang benar-benar spesialis dalam bidang facelift.

Menurut konsultan ahli bedah plastik, Simon Lee, operasi facelift tetap merupakan prosedur bedah yang hanya boleh dilakukan oleh ahli bedah plastik yang terdaftar di fasilitas medis terdaftar dengan peralatan yang memadai.

Sebab, ada risiko dan komplikasi yang berpotensi terjadi dalam prosedur ini. Antara lain, seperti pembentukan hematoma atau penumpukan darah di bawah kulit.

Jika tidak diobati dengan benar, hematoma ini dapat menyebabkan nekrosis atau kematian jaringan sekitar, infeksi, cedera saraf, dan kebotakan.

Umumnya, prosedur yang memadai ini membutuhkan biaya yang cukup besar, berkisar antara £15.000 hingga £45.000 (setara dengan Rp248,5 juta hingga Rp745,6 juta) di Inggris.

Baca Juga  Rahasia Feng Shui: Pilih Sandaran Kepala Tempat Tidur yang Baik untuk Keberuntungan Anda

Meskipun demikian, ada juga klinik yang berani menawarkan prosedur ini dengan harga yang lebih terjangkau, yaitu sekitar £5.000 (setara dengan Rp82,8 juta).

Julia Gilando, 34 tahun, adalah salah satu individu yang memilih operasi facelift dengan biaya yang lebih miring.

Ia memutuskan untuk menjalani prosedur ini untuk memperbaiki ketidakseimbangan di wajahnya, yang disebabkan oleh masalah susunan rahang sejak usia muda. Padahal, menurut banyak teman-temannya, tidak ada masalah yang terlihat pada wajahnya.

Akan tetapi, ia “mengikuti instingnya” untuk membenahi bagian wajahnya. Turki menjadi negara tujuannya, karena menawarkan biaya yang disebutnya terjangkau, yaitu sekitar £6.000 (setara dengan Rp99,4 juta).

Meskipun ada peringatan tentang risiko terkait operasi kecantikan di Turki, ia tetap mantap berangkat.

“Awalnya, saya pikir ide ini gila, tapi saya melakukan riset dan memutuskan untuk melakukannya, meskipun sempat takut karena sendirian dan tidak bisa berbahasa Turki,” kata Gilando, seorang profesional di bidang kesehatan.

“Setelah operasi, saya menghabiskan dua hari di rumah sakit dan kemudian harus mengurus diri sendiri. [Wajah] saya sangat bengkak hingga tidak bisa melihat,” ucap Gilando.

“Ada masa-masa sulit, ini seperti rollercoaster emosional, Anda mengalami naik-turun emosi yang ekstrem.”

Dengan semakin maraknya tindakan bedah kecantikan dan semakin terbukanya pembicaraan mengenai hal ini oleh para pesohor seperti Kris Jenner, Catt Sadler, dan Marc Jacobs, para peneliti merasa khawatir.

Menurut mereka, apakah prosedur bedah kecantikan ini benar-benar memberikan rasa percaya diri seperti yang diiklankan oleh industri tersebut?

“Saya pikir ada tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” jelas Dr. Kirsty Garbett, seorang ahli citra tubuh dari Pusat Penelitian Penampilan di Universitas West England.

“Terutama ketika berbicara tentang wajah. Ini karena kita melihat diri kita sendiri dalam panggilan video, platform media sosial, dan kita dengan mudah membandingkan diri kita dengan orang lain.”

Ia pun menekankan bahwa apa yang kita lihat melalui kamera atau di dunia maya belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

“AI, filter, semuanya berperan dalam menciptakan dunia online yang palsu. Dan, pada saat yang sama, kita melihat peningkatan normalisasi prosedur kosmetik.”

Garbett menambahkan bahwa kebiasaan selebritas yang lebih terbuka tentang menjalani prosedur ini, dalam beberapa hal, merupakan hal yang baik.

Namun, hal itu juga menormalisasi prosedur tersebut dan membuatnya tampak “hanya bagian dari kehidupan sehari-hari” dan “itu benar-benar mengkhawatirkan”.

Alexis Verpaele, seorang ahli bedah plastik yang berbasis di Belgia dengan klien dari seluruh dunia termasuk Inggris, juga khawatir dengan meningkatnya jumlah orang muda yang datang untuk perawatan ini.

Dia sering berbicara panjang lebar dengan klien-klien ini tentang cara-cara tertentu untuk mencapai penampilan yang diinginkan tanpa harus menjalani operasi besar.

“Jika mereka melakukan facelift di usia 20-an, dan kita tahu itu bisa bertahan 10 atau 15 tahun, maka saat mereka berusia 60 tahun, mereka mungkin sudah menjalani tiga kali facelift,” kata De Verpaele.

“Itu terlalu banyak trauma yang harus ditanggung oleh satu wajah—dan itu skenario terbaik tanpa komplikasi.”

  • Operasi plastik di kalangan anak muda China makin populer meski bahaya mengintai
  • Mengapa makin banyak perempuan melepas implan payudara?
  • Remaja perempuan 14 tahun meninggal karena operasi plastik, ibu dan ayah tirinya jadi tersangka
  • Remaja perempuan 14 tahun meninggal karena operasi plastik, ibu dan ayah tirinya jadi tersangka
  • ‘Saya sudah 100 kali operasi dan tidak akan berhenti’ – Di balik tren operasi plastik di China
  • Rumah sakit rahasia di Filipina menawarkan operasi plastik bagi buronan dan penjahat

More weekend picks

  • Risiko di balik semaglutide, obat penurun berat badan yang dijual bebas di toko online Indonesia
  • Tidur kurang dari lima jam menambah risiko terkena penyakit kronis
  • Kreatina: Suplemen pembentuk otot yang bermanfaat bagi otak

Share :

Baca Juga

Health

Luna Maya & Teknologi Egg Freezing: Proses, Biaya, & Risiko Pembekuan Sel Telur

Health

Rahasia Feng Shui: Pilih Sandaran Kepala Tempat Tidur yang Baik untuk Keberuntungan Anda

Health

Rahasia Diet Serena Williams: Sukses Turun 14 Kg Pasca Melahirkan dengan Metode Kontroversial

Health

Cara Menghitung Berat Badan Ideal Berdasarkan Tinggi Badan Anda

Health

Olahraga Aman & Efektif untuk Penderita Hipertensi

Health

Rahasia Rambut Sehat: 8 Tips Merawat Rambut Rusak Akibat Styling dan Paparan Matahari

Health

Rahasia Bugar Puasa: Olahraga Efektif Ikuti Ritme Sirkadian Tubuh