Breaking News

Home / Crime

Sabtu, 27 September 2025 - 09:51 WIB

Operasi “Identify Me” Ungkap Identitas Jasad Wanita di Spanyol Setelah 20 Tahun

warta-kota.com – Lebih dari dua dekade menyimpan misteri, identitas seorang wanita yang ditemukan tak bernyawa di Spanyol akhirnya terkuak.

Interpol secara resmi mengumumkan pada hari Kamis, 25 September 2025, bahwa wanita tersebut adalah Liudmila Zavada, seorang warga negara Rusia.

Ketika ditemukan meninggal, usia Zavada diperkirakan sekitar 31 tahun.

Pengungkapan identitas ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak dan memakan waktu yang cukup lama hingga akhirnya membuahkan hasil.

Baca juga: Pria Spanyol Pecahkan Rekor Dunia Sprint Mundur dengan Sepatu Hak Tinggi

Lantas, bagaimana alur kisah penemuan jasad Zavada hingga akhirnya identitasnya dapat diungkap?

Kronologi Kematian Zavada

Berdasarkan laporan dari BBC, Kamis, 25 September 2025, jasad Zavada ditemukan pada bulan Juli 2005 di tepi jalan di wilayah Barcelona, Spanyol.

Saat itu, pihak kepolisian menjulukinya “wanita berbaju merah muda” karena pakaian yang dikenakannya saat ditemukan.

Ketika jasad Zavada ditemukan, ia mengenakan atasan dengan motif bunga, celana panjang, dan sepatu berwarna merah muda.

Pihak kepolisian menduga penyebab kematian Zavada tidak wajar. Hal ini dikarenakan adanya indikasi bahwa jenazahnya telah dipindahkan dalam kurun waktu 12 jam sebelum akhirnya ditemukan.

Sayangnya, penyelidikan yang dilakukan pada saat itu tidak berhasil mengungkap identitasnya.

Baca juga: Spanyol Pertimbangkan Boikot Piala Dunia 2026 jika Israel Lolos

Masuk dalam Operasi Identify Me

Karena identitasnya belum berhasil diungkap, kasus kematian Zavada kemudian dimasukkan ke dalam kampanye Identify Me yang diluncurkan oleh Interpol pada tahun 2023.

Baca Juga  Heboh! Teman Searah Luruskan Isu Perselingkuhan Inara Rusli dan Insan

Dilansir dari CNN, Kamis, 25 September 2025, Identify Me adalah sebuah program yang bertujuan untuk mengungkap identitas lebih dari 40 wanita yang ditemukan meninggal di berbagai negara seperti Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Spanyol dalam beberapa dekade terakhir.

Secara sederhana, kampanye ini bertujuan untuk mengidentifikasi wanita yang menjadi korban pembunuhan atau meninggal dalam kondisi yang misterius di wilayah Eropa.

Dalam operasi ini, Interpol untuk pertama kalinya merilis “pemberitahuan hitam” kepada publik secara luas.

Mereka juga membagikan data sidik jari serta catatan biometrik Zavada kepada pihak kepolisian di 196 negara anggota.

Hasilnya, ditemukan kecocokan sidik jari dengan basis data nasional di Turkiye.

Baca juga: Serunya La Tomatina 2025, Festival Perang Tomat di Spanyol yang Guyur Jalanan Bunol

Identitasnya kemudian dikonfirmasi secara pasti melalui analisis DNA yang dilakukan dengan salah satu kerabat dekatnya.

“Setelah dua dekade, seorang wanita tanpa nama akhirnya mendapatkan kembali identitasnya,” ungkap Sekretaris Jenderal Interpol, Valdecy Urquiza.

“Setiap identifikasi membawa secercah harapan bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus memberikan petunjuk penting bagi para penyelidik,” tambahnya.

Ia juga menyatakan bahwa identifikasi yang berhasil dilakukan melalui kampanye Identify Me memberikan harapan baru bagi keluarga yang kehilangan orang terkasih, serta memberikan petunjuk baru bagi penyelidikan.

Baca Juga  KPK periksa 9 orang dalam OTT di Banten, sita Rp 900 juta

Sementara itu, investigasi terkait penyebab kematian dan kondisi yang dialami oleh Liudmila Zavada hingga saat ini masih terus berlanjut.

Baca juga: Perang Tomat di Spanyol, Habiskan 120 Ton Tomat Matang untuk Amunisi

Seputar Kampanye Identify Me

Zavada menjadi orang ketiga yang berhasil diidentifikasi melalui operasi Identify Me.

Sebelumnya, Rita Roberts (31), seorang warga Wales yang dibunuh di Belgia pada tahun 1992, berhasil diidentifikasi setelah keluarganya mengenali tato yang terdapat dalam laporan BBC.

Kasus lainnya adalah Ainoha Izaga Ibieta Lima (33) asal Paraguay, yang ditemukan meninggal di sebuah kandang unggas di Spanyol dan dikategorikan oleh polisi sebagai kematian yang “tidak dapat dijelaskan”.

Meskipun tiga identitas telah berhasil diungkap, pihak kepolisian masih berupaya untuk mengidentifikasi 44 wanita lainnya yang ditemukan meninggal di Belanda, Jerman, Belgia, Perancis, Italia, dan Spanyol.

Sebagian besar dari mereka diduga kuat merupakan korban pembunuhan dengan rentang usia antara 15 hingga 30 tahun.

Interpol menyatakan bahwa peningkatan migrasi global dan perdagangan manusia telah mempersulit proses identifikasi jenazah.

Seorang pejabat menambahkan bahwa perempuan seringkali menjadi korban kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga perdagangan manusia.

Baca juga: Temuan Forensik Gua El Mirador Spanyol Tunjukkan Strategi Perang Tak Terduga 5.600 Tahun Lalu

Share :

Baca Juga

Crime

Khalid Basalamah Serahkan Dana ke KPK: Kasus Korupsi Haji Libatkan Yaqut Cholil Qoumas?

Crime

Kasus Korupsi Immanuel Ebenezer: Mengapa Pejabat Kaya Raya Tetap Korupsi?

Crime

Polda Metro Jaya Bekuk Pria Pengaku Hacker Bjorka!

Crime

Polisi Amankan 123 Tersangka Pembakaran Gedung DPRD dan Polsek Kediri

Crime

KPK Sita Tiga Mobil Mewah Usai Geledah Kantor Kemnaker Terkait Suap RPTKA

Crime

Fakta Baru: Pelaku Bom SMAN 72 Jakarta Terhubung Grup True Crime

Crime

Terungkap! Identitas ‘Wanita Bergaun Pink’ Korban Pembunuhan di Spanyol Akhirnya Terkuak Setelah 20 Tahun

Crime

Polisi Tetapkan 9 Tersangka Pembakaran Gedung Grahadi, Mayoritas Anak di Bawah Umur