Breaking News

Home / Finance

Senin, 12 Mei 2025 - 12:22 WIB

Kesepakatan Dagang AS-China: Kucuran Berkah bagi Perekonomian Indonesia

Perjanjian antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok untuk mengurangi tarif impor memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Kesepakatan ini diyakini membawa angin segar bagi perekonomian dunia.

Para ahli ekonomi menilai perjanjian ini sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan ekspor dan meningkatkan kerja sama perdagangan, terutama dengan AS.

Myrdal Gunarto, ekonom Industri dan Pasar Global Maybank Indonesia, menyatakan kesepakatan tersebut berpotensi meredakan guncangan di pasar keuangan internasional.

“Kesepakatan ini tampaknya akan mengurangi volatilitas di pasar keuangan global. Bagi Indonesia, ini merupakan sinyal positif yang menunjukkan keterbukaan Amerika untuk bernegosiasi,” jelas Myrdal kepada kumparan, Senin (12/5).

Ia berharap, pendekatan negosiasi terbuka antara AS dan Tiongkok juga diterapkan dalam hubungan dagang AS-Indonesia, khususnya terkait potensi penerapan tarif baru ala Trump.

Baca Juga  OJK Optimis: Tren Positif Penghimpunan Dana Pasar Modal Terus Berlanjut

Sementara itu, Ibrahim Assuaibi, pengamat Pasar Modal dan Keuangan, berpendapat bahwa Tiongkok tetap berada dalam posisi yang kuat meskipun tarif AS atas barang-barangnya masih relatif tinggi.

Menurutnya, Tiongkok kemungkinan akan membuka pasar ekspor baru di berbagai negara, termasuk kawasan ASEAN.

“Indonesia, Vietnam, Kamboja, Malaysia, bahkan hingga Afrika dan Eropa Timur menjadi target potensial ekspansi Tiongkok. Negara-negara anggota BRICS juga bisa menjadi sasaran baru,” ungkap Ibrahim kepada kumparan, Senin (12/5).

Ibrahim menambahkan, Indonesia telah mengambil langkah strategis melalui berbagai pendekatan kepada Pemerintah AS. Tiga poin utama diajukan, yaitu biaya impor 0-5 persen, pembebasan PPN dan PPh, serta kebijakan fiskal dan deregulasi non-fiskal.

Baca Juga  BlackRock dan JPMorgan Akumulasi GOTO, Isu Merger Grab Makin Kencang

“Hal ini kemungkinan besar akan diterima oleh pemerintah AS,” tambahnya.

Sebelumnya, AS dan Tiongkok mencapai kesepakatan untuk secara signifikan menurunkan tarif impor. Produk AS yang masuk ke Tiongkok kini dikenai tarif 10 persen, sementara barang-barang dari Tiongkok ke AS dikenai tarif 30 persen.

Mengutip Bloomberg, Senin (12/5), kesepakatan ini berlaku selama 90 hari sebagai bagian dari upaya kedua negara untuk mengurangi ketegangan perdagangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.

Tiongkok memangkas tarif atas produk AS dari 125 persen menjadi 10 persen. Sebaliknya, Washington mengurangi bea masuk barang-barang Tiongkok dari 145 persen menjadi 30 persen.

Share :

Baca Juga

Finance

8 Program Paket Ekonomi 2025 Diluncurkan Pemerintah: Simak Detailnya!

Finance

AS dan China Akhiri Perang Tarif: Kesepakatan Baru Pangkas Bea Impor

Finance

Wall Street Melonjak: Dampak Kesepakatan Amazon-OpenAI dan Kebijakan The Fed

Finance

Rupiah Melemah? Ini Strategi Investasi Valas Cerdas untuk Investor Indonesia

Finance

Gubernur The Fed Tegaskan: Trump Tak Mempengaruhi Keputusan Kebijakan Moneter

Finance

Investasi Valas Asia: Amankah di Tengah Perang Dagang? Mata Uang Terbaik untuk Dikoleksi

Finance

BBCA: Valuasi Menarik, Ini Rekomendasi Saham Terbaru dari Analis

Finance

Industri Indonesia: Mudah Dihancurkan, Sulit Dibangun, Kata Menperin