Breaking News

Home / Public Safety And Emergencies

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 08:52 WIB

Kementerian PUPR Ungkap Detail Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny

Merespon insiden tragis ambruknya musala di Pondok Pesantren Putra Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyatakan bahwa tim beserta alat berat telah dikerahkan untuk membantu proses evakuasi. Bantuan ini, menurutnya, telah diupayakan sejak hari pertama kejadian, yaitu pada Senin, 29 September 2025.

Meskipun demikian, Menteri Dody menjelaskan bahwa penggunaan alat berat dalam proses evakuasi tidak serta-merta dilakukan di hari pertama. “Benar, tim kami sudah berada di lokasi sejak tanggal 29. Namun, penggunaan alat berat baru diizinkan oleh Basarnas dan Kodim beberapa waktu lalu, mengingat saat itu masih ada kemungkinan korban selamat,” jelas Dody di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Penundaan pengerahan alat berat ini, lanjutnya, dilakukan karena tim SAR perlu melakukan prosedur “tes hening” terlebih dahulu. Tujuan dari tes ini adalah untuk mendeteksi keberadaan korban yang mungkin masih hidup di antara reruntuhan bangunan.

“Jadi, sebelum alat berat dioperasikan, dilakukan tes hening untuk mendengarkan apakah masih ada suara-suara, teriakan, atau tanda-tanda kehidupan lainnya. Setelah dipastikan tidak ada, barulah alat berat diizinkan masuk,” imbuh Dody.

Selain mengirimkan tim evakuasi, Kementerian PU juga telah menugaskan Komite Keselamatan Bangunan dari Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menyelidiki penyebab ambruknya bangunan tersebut. Namun, Dody menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah pada upaya evakuasi dan penyelamatan korban.

“Ya, tim sudah diterjunkan. Namun, mengingat suasana masih dalam masa berduka, kami tidak ingin terlalu gegabah. Prioritas utama adalah tanggap darurat, mengevakuasi seluruh korban yang masih tertimbun,” ungkapnya.

Baca Juga  Tiga Jenderal Polri Beri Klarifikasi Kasus Tewasnya Pengemudi Ojol Terlindas

Menanggapi kemungkinan keterlibatan Kementerian PU dalam pembangunan kembali pondok pesantren, Dody menyatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Agama (Kemenag). “Ini kan sebenarnya bangunan swasta, jadi mekanismenya perlu dibicarakan lebih lanjut. Kami akan berdiskusi dengan Kemendagri dan Kemenag terkait tata kelolanya,” jelasnya.

Sebagai informasi, insiden ambruknya bangunan tiga lantai Pondok Pesantren Putra Al Khoziny terjadi pada Senin sore, 29 September 2025. Saat kejadian, ratusan santri sedang melaksanakan salat asar berjamaah di lantai dua yang digunakan sebagai musala.

Menurut pengasuh pesantren, Abdul Salam Mujib, bangunan yang ambruk tersebut memang sedang dalam tahap renovasi. Proses renovasi asrama santri putra ini telah berlangsung selama kurang lebih sembilan bulan. Rencananya, bangunan ini akan memiliki tiga lantai dengan atap dari cor semen, bukan genteng.

Pada hari kejadian, pengecoran atap lantai tiga yang ambruk baru saja diselesaikan pada siang hari. “Sejauh yang saya tahu, pengecoran terakhir dilakukan dari pagi hingga siang hari,” kata Mujib kepada media di Sidoarjo pada hari Senin.

Namun, sekitar pukul 3 sore, atap yang baru dicor tersebut tiba-tiba ambruk dan menimpa ratusan santri yang sedang salat. Para santri yang berada di dalam musala pun terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Pada hari ini, Sabtu, 4 Oktober 2025, tim gabungan kembali menemukan satu jenazah korban dari reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny. Dengan demikian, jumlah korban meninggal dunia hingga saat ini mencapai 14 santri.

Baca Juga  Gempa Filipina Tewaskan 2 Orang: Listrik Padam, Dampak Mengerikan Dirasakan

“Kami perbarui informasi hari ini, total sudah ditemukan 14 jenazah. Tadi malam, tim SAR gabungan kembali menemukan satu jenazah pada pukul 23.00 WIB,” ungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI, Suharyanto, saat memberikan keterangan pers di posko gabungan.

Sejak dimulainya proses evakuasi, total santri yang meninggal dunia mencapai 14 orang. Sementara itu, 49 santri lainnya masih belum ditemukan. “Total korban keseluruhan adalah 167 orang. Sebanyak 118 orang telah ditemukan, terdiri dari 104 santri selamat dan 14 meninggal dunia. Jumlah santri yang belum ditemukan adalah 49 orang,” jelas Suharyanto

Suharyanto menambahkan bahwa dari 11 jenazah yang ditemukan dalam dua hari terakhir, hanya dua yang berhasil diidentifikasi. Sementara itu, sembilan jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi karena tingkat kesulitan yang tinggi.

“Para korban ini adalah anak-anak yang belum memiliki KTP atau data biometrik. Oleh karena itu, identifikasi hanya bisa dilakukan melalui tes DNA, yang tentu saja membutuhkan waktu,” tutur Suharyanto. Ia juga menuturkan bahwa petugas mengalami kesulitan dalam mengenali visual jenazah karena kondisi jenazah yang telah banyak berubah.

Dede Leni Mardianti dan Hanaa Septiana berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Dampak Ekonomi Cukai Rokok 2026 Tidak Naik

Share :

Baca Juga

Public Safety And Emergencies

Pemadaman Listrik Bali Hari Ini: Ubud & Sekitarnya Terkena Dampak

Public Safety And Emergencies

Tiga Jenderal Polri Beri Klarifikasi Kasus Tewasnya Pengemudi Ojol Terlindas

Public Safety And Emergencies

Sopir mobil MBG penabrak murid SDN jadi tersangka

Public Safety And Emergencies

Trauma korban banjir-longsor Aceh ‘lebih berat’ dari tsunami 2004, kata psikolog

Public Safety And Emergencies

Prabowo tinjau pengungsi banjir Langkat, tegaskan negara tak tinggalkan warga

Public Safety And Emergencies

Inilah Suasana Rumah Duka Alvaro: Keluarga Sangat Terpukul

Public Safety And Emergencies

Waspada! 3 Titik Demo Jakarta Hari Ini, 8 September 2025

Public Safety And Emergencies

Prajurit TNI Garut Kuasai Pemusnahan Amunisi Lewat Belajar Mandiri