Kabupaten Musi Banyuasin – Kekacauan sudah meluas di jalan penghubung Palembang-Jambi, terutama ruas dari Betung sampai Bayung Lencir. Jalan yang seharusnya menjadi jalur lancar kini dipenuhi oleh “lubang meraja” yang besar dan permukaan yang bergelombang seperti ombak yang mengancam – dengan titik terburuk di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir – membuat perjalanan menjadi mimpi buruk bagi setiap pengemudi.
Pengemudi harus beraksi cepat menyiasati lubang-lubang yang tersebar di mana-mana, bahkan terpaksa melompat-lompat jalur atau melaju dengan kecepatan yang lebih lambat dari jalan kaki. Risiko kecelakaan semakin tinggi: banyak yang mengalami kerusakan ban, shockbreaker, atau bahkan terjatuh karena tersandung lubang. Tak jarang terjadinya tabrakan antara kendaraan karena semua sibuk menghindari kerusakan, membuat suasana lalu lintas semakin kacau dan penuh tekanan.
Yang lebih menyakitkan, kemacetan tak berkesudahan terjadi hampir setiap hari – bahkan di jam-jam yang seharusnya sepi. Kerusakan jalan membuat arus lalu lintas terhambat, dan perbaikan yang pernah dilakukan hanya sebatas pengecoran koral tanpa aspal – perbaikan semata wayang yang cepat hancur lagi ketika hujan lebat atau dilintasi truk-truk besar. Saat musim hujan, lubang terisi genangan air dalam yang membuat pengemudi bingung menilai kedalaman, sementara musim panas membawa debu berbayang yang meresap ke rumah-rumah dan merusak kesehatan warga. Banyak warga melaporkan masalah pernapasan, batuk, dan pilek yang terus-menerus akibat terpapar debu.
Beban kendaraan besar yang terus melintas semakin memperparah kondisi jalan yang sudah lemah, dan masalah ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, apa yang dirasakan masyarakat adalah ketidakhadiran pemerintah daerah yang seharusnya menangani masalah ini. Tidak ada tindakan mendasar, hanya janji-janji yang tak pernah terwujud – membuat warga semakin marah dan kecewa.
Dampaknya juga meresap ke perekonomian lokal: pedagang telat mengantarkan barang sehingga hilang nilai, petani kesulitan menjual hasil panen ke kota besar, dan usaha kecil di sekitar jalan merasakan penurunan pengunjung yang signifikan. Semua ini karena jalan yang seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian malah menjadi penghambat.
Suasana kemarahan masyarakat semakin memuncak. “Kita merasa seperti tidak punya pemerintah yang peduli! Setiap hari kita lewati jalan yang buruk, risiko kecelakaan selalu ada, dan debu















