Breaking News

Home / Finance

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 08:51 WIB

IHSG Anjlok: Dana Jumbo Danantara Diharapkan Jadi Penyelamat

warta-kota.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga menembus level 8.000. Di tengah situasi pasar yang kurang menggembirakan ini, rencana penyuntikan likuiditas oleh Danantara Indonesia menjadi secercah harapan bagi para investor.

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks komposit merosot sebesar 2,57% ke level 7.915,65 pada sesi perdagangan Jumat (17/10/2025). Secara keseluruhan, hanya 116 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan, sementara 598 saham mengalami penurunan dan 94 saham berada dalam posisi stagnan.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, berpendapat bahwa tekanan yang menghantam IHSG merupakan cerminan dari sentimen risk-off mode yang sedang melanda pasar global.

: IHSG Runtuh 4,14% dalam Sepekan, Market Cap Menguap Rp814 Triliun

Selain dipicu oleh koreksi teknikal, gejolak pasar juga disebabkan oleh kombinasi antara krisis kredit di Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan China.

“Gelombang gagal bayar yang dialami sejumlah korporasi seperti First Brands, Tricolor Holdings, Zions Bancorporation, dan Western Alliance memicu kekhawatiran akan efek domino di sektor keuangan, sehingga investor global berbondong-bondong melepaskan aset-aset berisiko,” jelasnya dalam publikasi riset yang dikutip pada Sabtu (18/10/2025).

Liza menambahkan, lonjakan harga emas dunia hingga mencapai kisaran US$4.300 per troy ounce menjadi indikasi bahwa pasar ekuitas global sedang bergejolak. Akibatnya, pasar saham di kawasan Asia dan Eropa pun turut terkoreksi, dengan IHSG mengalami penurunan terdalam karena tingkat likuiditasnya yang relatif rendah.

Baca Juga  Kimia Farma Jual Aset: Strategi Efisiensi dan Restrukturisasi KAEF?

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut memperparah tekanan yang ada. Ia mengungkapkan bahwa beredar kabar mengenai keinginan pemerintah untuk melihat ‘IHSG yang sesungguhnya’ tanpa adanya intervensi dari saham-saham perusahaan konglomerat besar. Langkah ini juga akan diiringi dengan upaya pengendalian terhadap saham-saham gorengan.

“Sentimen tersebut menyebabkan sejumlah big caps yang biasanya menjadi penopang indeks justru ikut dilepas pada hari ini, sehingga tekanan menjadi semakin besar,” ujarnya.

: : Ini Saham yang Diburu Asing Saat IHSG Anjlok, BBCA hingga ANTM Laris Manis

Kondisi ini membuat IHSG menampilkan potret riil pasar saham Indonesia, di mana struktur kepemilikan asing yang dominan di sektor perbankan menunjukkan kerentanan terhadap arus keluar dana asing.

Namun, terdapat katalis positif yang berpotensi menahan pelemahan lebih lanjut. Salah satunya adalah rencana Danantara untuk menginjeksi dana ke pasar modal.

Seperti diketahui, Danantara dikabarkan akan mengucurkan investasi sebesar US$10 miliar atau sekitar Rp165 triliun mulai Oktober 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% akan dialokasikan untuk proyek-proyek di dalam negeri, termasuk pasar modal.

Menurut estimasi Bisnis, jika 5%–10% dari total dana investasi dialokasikan untuk pasar saham, maka nilainya dapat mencapai Rp8 –Rp16 triliun.

“Alokasi tersebut diharapkan dapat menjadi liquidity buffer yang mampu menahan penurunan lebih dalam, sekaligus memperbaiki kedalaman pasar yang selama ini terlalu tipis dibandingkan dengan negara tetangga seperti India dan Hong Kong,” kata Liza.

Baca Juga  Harga Buyback Emas Antam Terbaru: Cek Tabel & Pajak 3 November 2025

Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa arah pergerakan indeks komposit ke depan akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu kecepatan stabilisasi di sektor keuangan AS dan realisasi injeksi likuiditas domestik oleh Danantara Indonesia.

“Jika injeksi tersebut benar-benar terealisasi dan pasar global mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, maka ada peluang teknikal rebound ke level psikologis 8.000 dalam jangka pendek,” pungkasnya.

Namun, selama volatilitas global masih cenderung tinggi dan belum ada respons kebijakan konkret dari AS maupun China, IHSG diperkirakan masih rentan berfluktuasi dengan kecenderungan defensif pada saham-saham dengan fundamental yang kuat dan likuid.

Para pelaku pasar saat ini juga menantikan rilis kinerja keuangan kuartal III/2025 yang diharapkan dapat menjadi penggerak utama pergerakan saham berbasis fundamental.

“Mengingat begitu banyak volatilitas di pasar dalam jangka pendek maupun menengah, Kiwoom Sekuritas tetap mempertahankan target IHSG hingga akhir tahun di kisaran 7.800 hingga 8.000,” kata Liza.

———————–

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Share :

Baca Juga

Finance

Investasi Properti Menggeliat: Analisis Saham PWON, CTRA, ASRI, dan BSDE

Finance

Ketegangan Dagang AS-China Picu Penurunan Harga Kripto Signifikan

Finance

Sukuk Ritel SR023: Investasi Aman dengan Kupon Menarik, Mulai Ditawarkan!

Finance

Harga Emas Antam Tembus Rp1.914.000 per Gram, Lonjakan Rp24.000!

Finance

Komisaris Amman Mineral Jual Saham: Strategi dan Dampaknya Bagi Investor

Finance

Semen Indonesia Bagikan Dividen Jumbo Rp648,75 Miliar & Reshuffle Direksi

Finance

Oktober Ceria: Jadwal Dividen Interim Tiga Saham Pilihan Investor

Finance

Investasi SBN Domestik: Mengapa Pasar Tetap Menarik dan Faktor Pendorongnya