Jember, 15 Desember 2025 – Warta-Kota.com
Hujan dengan intensitas tinggi terus mengguyur Kabupaten Jember dan sekitarnya hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko bencana hidrometeorologi.
Di wilayah Jember bagian barat, hujan deras yang disertai angin kencang menyebabkan debit air sejumlah sungai meningkat drastis. Beberapa sungai dilaporkan meluap hingga menggenangi rumah warga dan tempat ibadah, termasuk masjid.
Berdasarkan pantauan dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, hujan dengan intensitas sangat lebat diperkirakan masih akan mengguyur Jember hingga Senin (15/12/2025). BMKG bersama Stasiun Klimatologi Jawa Timur telah mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi sepanjang Desember ini.
BMKG memprediksi puncak musim hujan terjadi pada dasarian pertama (10 hari pertama dalam satu bulan), dengan risiko tinggi terjadinya hujan lebat, banjir, longsor, serta angin kencang.
Selain potensi banjir, BMKG juga mencatat adanya peluang gelombang tinggi di perairan pesisir selatan Jember, terutama ketika terbentuk sistem tekanan rendah di Samudra Hindia. Aktivitas nelayan diimbau untuk dihentikan sementara apabila peringatan peningkatan gelombang laut dikeluarkan.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menyampaikan bahwa Jember termasuk dalam daftar wilayah dengan anomali curah hujan yang cukup tinggi pada Desember ini. “Dasarian pertama menunjukkan anomali hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Jember. Kami mengimbau otoritas lokal untuk memperkuat pemantauan muka air sungai serta kesiapsiagaan jalur evakuasi dan bantuan,” ujarnya.
Dalam keterangan resmi yang dirilis BMKG pada 4 November lalu, juga disebutkan adanya peningkatan intensitas hujan di wilayah Jawa Timur, khususnya bagian selatan. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa peningkatan curah hujan seiring masuknya puncak musim hujan harus menjadi perhatian serius.
“Warga yang tinggal di dataran rendah dan bantaran sungai harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir dan banjir bandang,” tegasnya.
(Dang)
















