
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyerukan kepada seluruh perbankan di Indonesia untuk segera menurunkan suku bunga kredit dan deposito. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan.
Perry menjelaskan bahwa BI telah mengambil langkah proaktif dengan menurunkan BI Rate dan mengoptimalkan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar. Hasilnya tampak jelas dari penurunan suku bunga di pasar uang. Sebagai contoh, suku bunga INDONIA telah menurun dari 6,03 persen pada awal Januari 2025 menjadi 5,77 persen pada 20 Mei 2025.
Tren penurunan serupa juga terlihat pada suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan, penurunannya terbilang signifikan.
Penurunan juga terlihat pada imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Pada tenor 2 tahun, imbal hasil turun dari 6,96 persen menjadi 6,16 persen. Sementara itu, untuk tenor 10 tahun, penurunan terjadi dari 6,98 persen menjadi 6,84 persen. Perubahan ini menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter telah berjalan efektif di pasar uang dan obligasi negara.

Meskipun demikian, Perry menilai bahwa respon perbankan terhadap penurunan BI Rate belum sepenuhnya optimal. Suku bunga deposito 1 bulan, misalnya, hanya naik sedikit menjadi 4,83 persen pada April 2025 dari 4,81 persen pada awal Januari.
Lebih mengkhawatirkan lagi, beberapa bank masih menerapkan suku bunga yang lebih tinggi daripada yang dipublikasikan. Suku bunga kredit juga cenderung stagnan di level tinggi, yaitu 9,19 persen pada April 2025, hanya turun 0,01 persen dari posisi awal tahun.
Perry menekankan pentingnya penurunan suku bunga kredit oleh perbankan untuk mendukung penyaluran kredit ke sektor riil perekonomian.
“Bank Indonesia berpandangan bahwa penurunan suku bunga ke depan sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan penyaluran kredit dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” tegas Perry.
















