Breaking News

Home / Travel

Senin, 12 Mei 2025 - 17:23 WIB

Bali Over Tourism: Mitos atau Realita, Pesonanya Mulai Hilang?

warta-kota.com  Bali, seringkali disebut sebagai korban overtourism, menghadapi tantangan kemacetan dan kepadatan wisatawan yang mengancam keindahannya.

Isu overtourism terus membayangi Pulau Dewata. Apakah Bali benar-benar terlalu ramai dan kehilangan daya tariknya bagi wisatawan?

Namun, para pelaku bisnis di sektor perhotelan, properti, dan pariwisata melihat peluang besar yang masih terbuka di Bali.

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menegaskan Bali tetap menjadi tujuan wisata favorit baik domestik maupun internasional, meskipun tantangan kepadatan dan kemacetan tak dapat dipungkiri.

Lev mengakui kepadatan dan kemacetan di Bali, terutama di area populer seperti Denpasar, Kuta, dan Seminyak, merupakan realita yang sulit dihindari.

Baca juga: Proyek Bali Beach Conservation Telan Anggaran Rp 785,92 Miliar

“Kemacetan adalah bagian dari perjalanan,” katanya, menambahkan bahwa wisatawan tetap berdatangan meskipun harus menghadapi perjalanan yang melelahkan.

Lebih lanjut, ia melihat kepadatan, kesesakan, dan overtourism sebagai peluang, bukan hambatan.

“Kami menciptakan lingkungan yang begitu nyaman sehingga Anda tak ingin meninggalkannya. Pendidikan, hiburan, kuliner berkualitas, beragam aktivitas seni dan budaya—semuanya ada di Nuanu Creative City,” jelas Kroll.

Data yang dikumpulkan Kompas.com mendukung pandangan ini. Pemerintah Provinsi Bali menargetkan 6,5 juta wisatawan asing dan 10 juta wisatawan domestik pada tahun 2025.

Target ini didasarkan pada tren peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, khususnya domestik, dalam empat tahun terakhir.

Pada tahun 2021, di tengah pandemi Covid-19, jumlah wisatawan domestik mencapai 4,3 juta orang. Angka ini meningkat drastis menjadi 8,0 juta pada tahun berikutnya.

Tren positif berlanjut pada tahun 2023 dengan 9,8 juta wisatawan domestik, dan mencapai 10,2 juta pada tahun 2024.

Begitu pula dengan wisatawan internasional, yang tetap tinggi, terutama dari Australia, Singapura, dan Jepang. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang tahun 2024 mencapai 6,3 juta orang.

Tren positif juga terlihat pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Jika pada tahun 2022 TPK hanya 35,32 persen, tahun 2023 meningkat menjadi 53,05 persen, dan tahun berikutnya mencapai 62,23 persen.

Hal ini diikuti peningkatan length of stay (LOS) menjadi 2,73 hari dari sebelumnya 2,13 hari pada tahun 2022.

Namun demikian, overtourism bukanlah isu yang sepenuhnya mitos. Persaingan ketat di Asia Tenggara, dengan Thailand dan Vietnam yang menarik lebih banyak wisatawan asing berkualitas tinggi, menjadi ancaman serius.

Vietnam, misalnya, menurut World Economic Forum, unggul dalam hal keselamatan, keamanan, dan daya saing harga. Negara ini menarik banyak wisatawan dari China dan Korea Selatan.

Baca Juga  Sensasi Mandi Lumpur Jeep Lava Tour Merapi: Petualangan Wisata Ekstrem

Baca juga: 5 Pilihan Rumah Murah di Karangasem Bali, Harga Ramah Dompet

Sementara Thailand tetap menjadi destinasi utama yang memiliki kemiripan dengan Bali: atraksi budaya, pantai, kuliner, keramahan, dan hotel-hotel yang bagus dengan harga terjangkau.

Bali pada tahun 2025 menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah menjamurnya vila independen, banyak di antaranya ilegal dan menawarkan harga rendah, sehingga mengurangi okupansi hotel dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menduga penurunan okupansi hotel pada Kuartal I-2025 disebabkan oleh banyaknya wisatawan yang memilih akomodasi ilegal.

Sekretaris Jenderal PHRI Bali, Perry Marcus, mengungkapkan dalam rapat koordinasi di Denpasar pada Senin (29/4/2025), bahwa okupansi hotel di Bali sejak awal tahun 2025 turun menjadi 52,84 persen.

“Data menunjukkan tingkat hunian memang menurun dibandingkan jumlah kedatangan, khususnya turis asing. Setelah ditelusuri, ternyata banyak wisatawan yang menginap di akomodasi ilegal,” jelas Perry.

Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi Bali untuk mengatur hal tersebut dengan usulan kebijakan dan regulasi baru guna menciptakan pasar yang lebih adil.

Tantangan ini diperparah oleh penurunan acara Meeting, Incentives, Convention, and Exhibition (MICE) akibat efisiensi pemerintah, yang berdampak signifikan pada hotel yang bergantung pada pasar korporasi.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi global memengaruhi daya beli wisatawan, memaksa hotel untuk mendiversifikasi pasar demi mengurangi risiko.

Namun, menurut Colliers Indonesia, kinerja hotel Bali diprediksi akan membaik pada Kuartal II-2025, seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan lonjakan wisatawan asing pada Juni 2025, bertepatan dengan musim liburan di Eropa dan Australia.

Dominasi hotel bintang 5 hingga tahun 2027 menunjukkan kepercayaan pasar internasional terhadap Bali.

Dua hotel baru dari IHG Hotels & Resorts di Kuta (72 kamar, bintang 3) dan Seminyak (162 kamar, bintang 4) menambah jumlah kamar hotel menjadi 58.822 kamar.

Inovasi Mengatasi Overtourisme

Untuk mengatasi overtourism dan kemacetan, pengembang seperti Nuanu Creative City dan OXO Group Indonesia menawarkan solusi inovatif yang berfokus pada keberlanjutan, budaya, dan kesejahteraan (wellness).

Nuanu Creative City, misalnya, yang terletak di lahan seluas 44 hektar di Nyanyi, Tabanan, dirancang sebagai kawasan visioner yang hanya mengembangkan 30 persen lahannya untuk menjaga keseimbangan alam.

Kroll menjelaskan bahwa Nuanu dirancang sebagai “tempat di mana Anda tak perlu menghadapi kemacetan.”

Baca Juga  15 Tempat Wisata Paling Berbahaya di Dunia: Petualangan Ekstrem atau Risiko Nyawa?

Dengan fasilitas seperti ProEd Global School, Luna Beach Club, Lumeira Spa, dan jalur pejalan kaki, Nuanu menawarkan ekosistem yang memadukan pendidikan, seni, budaya, kesehatan, dan hiburan.

“Kami menyajikan pengalaman yang mencerminkan Indonesia dengan standar internasional,” ujar Kroll.

Nuanu juga berbagi pengetahuan dengan pemerintah tentang transportasi ramah lingkungan, seperti bus dan kendaraan listrik, serta konsep smart city.

Meskipun Kroll mengakui strategi pemerintah Indonesia sudah baik, ia menilai komunikasi terbuka dan kolaborasi dapat mempercepat solusi untuk overtourism, kepadatan, dan kemacetan.

Baca juga: Hotel di Bali dan Jakarta Masuk Jajaran Top 100 Best Global 2025

“Kami tidak memberi nasihat, tetapi senang berbagi data dan pengalaman,” tambahnya.

Sementara OXO Group Indonesia memperkenalkan 24 vila berstatus Hak Milik (SHM) OXO The Pavilions, yang mengusung konsep wellness living.

Dirancang oleh arsitek global Chris Precht, proyek ini berlokasi dua menit dari Nuanu Creative City dan menawarkan vila seluas 170-420 meter persegi dengan fasilitas kebugaran premium.

CEO OXO Group, Johannes Weissenbaeck, menyebutnya sebagai game changer yang mendefinisikan ulang nilai-nilai neo-luxury.

“Kami menciptakan hunian yang membuat Anda merasa lebih baik dan hidup lebih lama,” ujarnya.

Chris Precht menekankan desain yang selaras dengan iklim, budaya, dan spiritualitas Bali.

“Arsitektur harus mencerminkan tempat dan masanya,” katanya.

Dengan ketinggian bangunan maksimal 1,5 lantai, berbeda dengan tren bangunan 3-4 lantai di Bali, OXO The Pavilions kembali pada akar budaya Bali, menciptakan hunian yang tahan lama dan ramah lingkungan.

Masih Menarik atau Sudah Jenuh?

Meskipun overtourism dan kemacetan menjadi perhatian, Bali tetap menarik bagi wisatawan dan investor.

Knight Frank menyebut Bali sebagai salah satu dari 10 destinasi investasi properti kedua pilihan orang kaya dunia.

Pasar real estat Indonesia diproyeksikan tumbuh dari USD 68,6 miliar pada tahun 2025 menjadi USD 91 miliar pada tahun 2030, dengan CAGR 5,82 persen, menurut Mordor Intelligence.

Kontribusi PDB sektor properti pada tahun 2022 mencapai Rp 488,31 triliun, yang menegaskan peran penting Bali sebagai penggerak ekonomi nasional.

Dengan demikian, Bali bukanlah destinasi yang kehilangan pesonanya, melainkan pulau yang sedang bertransformasi.

“Kemacetan dan overtourism adalah tantangan nyata, namun inisiatif, inovasi, dan kreativitas menunjukkan bahwa Bali mampu menawarkan pengalaman baru yang selaras dengan budaya, alam, dan keberlanjutan,” pungkas Weissenbaeck.

Share :

Baca Juga

Travel

Jelajahi 5 Destinasi Wisata Gresik Murah Meriah & Mudah Dikunjungi

Travel

Liburan Healing Akhir Pekan? 4 Hotel di Bali Ini Jawabannya

Travel

Rencanakan Liburan Iduladha Anda: Jelajahi Destinasi Wisata Religi Internasional

Travel

24 Destinasi Wisata Ubud Ikonik: Petualangan Tak Terlupakan di Bali

Travel

Jelajahi 8 Rute Kereta Terindah di Dunia: Pemandangan Memukau yang Akan Memikatmu

Travel

Petualangan Ekstrem dan Menyegarkan di Air Terjun Kroya: Liburan Anti-Mainstream

Travel

Prabowo Subianto Resmikan Terminal Haji-Umrah Baru di Bandara Soekarno-Hatta

Travel

Open Trip vs Private Trip: Pilih Mana untuk Liburan Impian Anda?