Breaking News

Home / Finance

Senin, 12 Mei 2025 - 12:52 WIB

AS dan China Akhiri Perang Tarif: Kesepakatan Baru Pangkas Bea Impor

warta-kota.com – , JakartaAmerika Serikat dan Cina, pada Senin, 12 Mei 2025, mengumumkan kesepakatan untuk mengurangi tarif timbal balik. Seperti dilaporkan Channel NewsAsia, kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini berupaya mengakhiri perang dagang yang telah mengguncang perekonomian global dan menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan.

Setelah berunding dengan pejabat Cina di Jenewa, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan kepada wartawan bahwa kedua pihak sepakat untuk menangguhkan tindakan tarif selama 90 hari. Lebih lanjut, tarif akan diturunkan lebih dari 100 poin persentase, menjadi 10 persen.

“Kedua negara telah mewakili kepentingan nasional mereka dengan baik,” ujar Bessent. “Kita sama-sama memiliki kepentingan dalam perdagangan yang seimbang, dan AS akan terus berupaya mewujudkannya.”

Kabar ini mendorong penguatan dolar terhadap mata uang utama lainnya dan mengangkat pasar. Berita tersebut meredakan kekhawatiran resesi yang muncul bulan lalu akibat peningkatan tarif oleh Presiden AS Donald Trump. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi defisit perdagangan AS.

Bessent menyampaikan pernyataan tersebut bersama Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, setelah pembicaraan akhir pekan di mana kedua pihak menyatakan optimisme atas kemajuan dalam menyelesaikan perbedaan.

“Konsensus dari kedua delegasi akhir pekan ini adalah tidak ada pihak yang menginginkan perpecahan,” kata Bessent.

Baca Juga  Keyakinan Konsumen Turun: Ini Saham yang Rawan Terdampak Daya Beli Melemah

“Tarif setinggi itu… sama saja dengan embargo, dan tidak ada pihak yang menginginkannya. Kita menginginkan perdagangan.”

Pertemuan Jenewa menandai interaksi tatap muka pertama antara pejabat ekonomi senior AS dan Cina sejak Trump kembali menjabat dan memulai kebijakan tarif global. Trump sebelumnya telah memberlakukan bea masuk yang sangat tinggi terhadap produk Cina.

Sejak menjabat pada Januari, Trump menaikkan tarif impor barang-barang dari Cina bagi importir AS hingga 145 persen, ditambah tarif yang diberlakukan pada banyak barang Cina selama masa jabatan pertamanya dan bea yang diberlakukan oleh pemerintahan Biden.

Sebagai balasan, Beijing membatasi ekspor beberapa elemen tanah jarang, yang penting bagi produsen senjata dan barang elektronik konsumen AS. Cina juga menaikkan tarif barang-barang AS hingga 125 persen.

Perselisihan tarif ini telah menyebabkan terhentinya perdagangan dua arah senilai hampir US$600 miliar, mengganggu rantai pasokan, memicu kekhawatiran stagnasi ekonomi, dan mengakibatkan sejumlah pemutusan hubungan kerja.

Penurunan tensi perang dagang ini disambut positif oleh pasar keuangan, dan saham berjangka Wall Street naik karena pembicaraan tersebut meningkatkan harapan untuk menghindari resesi global.

“Ini lebih baik dari perkiraan saya. Saya kira tarif akan dipotong sekitar 50 persen,” kata Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management di Hong Kong.

Baca Juga  Gaji Rata-Rata 17 Provinsi Indonesia Masih di Bawah UMP: Temuan Terbaru Next Indonesia

“Jelas, ini berita sangat positif bagi ekonomi kedua negara dan ekonomi global, dan mengurangi kekhawatiran investor tentang gangguan rantai pasokan global dalam jangka pendek,” tambah Zhang.

Setelah pembicaraan pada Minggu, pejabat AS mengumumkan “kesepakatan” untuk mengurangi defisit perdagangan AS. Sementara pejabat Cina menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai “konsensus penting” dan sepakat untuk membentuk forum dialog ekonomi baru.

Trump memberikan penilaian positif atas perundingan sebelum berakhirnya pembicaraan. Ia mengatakan kedua pihak telah menegosiasikan “penataan ulang total… dengan cara yang bersahabat, namun konstruktif”.

Presiden AS mengenakan sebagian tarif setelah mengumumkan keadaan darurat nasional terkait masuknya fentanil ke Amerika Serikat. Greer menyatakan bahwa pembicaraan mengenai pembatasan opioid yang mematikan itu “sangat konstruktif”, meskipun masih ada perbedaan.

Wakil Perdana Menteri Cina, He Lifeng, memberikan pernyataan yang kurang tegas namun tetap memuji “kemajuan substansial” setelah perundingan yang berlangsung di vila pribadi Duta Besar Swiss untuk PBB yang berpagar dan menghadap Danau Jenewa.

Pilihan Editor: AS dan Cina Bersiap Berunding di Jenewa Usai Trump Usulkan Pemotongan Tarif

Share :

Baca Juga

Finance

Rekomendasi Saham Pilihan 22 Oktober: ITMG, JPFA, KLBF, MBMA, SMGR Potensi Untung!

Finance

Prospek Saham Agro Yasa Lestari

Finance

Pahami Perbedaan Bull Market dan Bear Market: Panduan Investasi Lengkap

Finance

IHSG Menguat ke 8.405: BUMI, DSSA, BRPT Pimpin Kenaikan LQ45 Hari Ini

Finance

Strategi Investasi: Pilih Saham Semen Terbaik Walau Proyek Pemerintah Lesu

Finance

Ekosida Pantura: Dampak Pembangunan Industri Ancam Kehidupan Warga Pesisir Jawa

Finance

Dana Kopdes Merah Putih Cair: Purbaya Ungkap Jadwal Pencairan Saat Program Siap

Finance

Penyebab Mur Puli CVT Motor Matic Cepat Kendor: Solusi dan Pencegahannya